Lima tahun yang lalu, kejadian itu awal dari semua ini.
Sakit yang ku rasa, tak pernah terobati seperti dia yang tak pernah lekang oleh
waktu.
***
Hari itu untuk
pertama kali nya aku bertemu dengannya dipersimpangan lorong kelas baru ku. Ya,
itu adalah hari pertama ku belajar di sekolah ku. Nama ku Shin Ji Hyun, aku
baru saja pindah sekolah karna keluarga ku yang pindah rumah. Ayah ku seorang
diplomat, tahun itu ia ditugaskan kembali ke Korea setelah 3 tahun bertugas di
Jerman.
"selamat pagi, permisi apa kau tahu kelas
12A?"tanyaku pada seorang siswa laki-laki yang terlihat sangat berantakan.
Tanpa menjawab pertanyaanku bahkan tanpa menoleh sedikitpun ke arah ku ia pergi
begitu saja, terpaksa aku harus mencari kelas ku sendiri. Untung saja aku bertemu
seorang guru di sekolah itu yang ternyata penanggung jawab di kelas baru ku.
"selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan
teman baru bernama Shin Ji Hyun, seorang siswi pindahan dari Jerman, kau bisa
duduk di bangku yang kosong itu Ji Hyun" sambil menunjuk ke arah bangku
tersebut. Betapa terkejutnya aku melihat siswa yang duduk di sebelah bangku ku,
ternyata siswa yang ku tanya tadi sekelas denganku. Ia terlihat begitu kusut,
tampangnya yang ketus, dan sikapnya yang terlihat dingin justru membuatku takut
dibandingkan kesal karna sikap nya tadi.
Sekolah baru ku sangat menyenangkan, teman-teman yang baik
dan guru-guru yang baik, dengan mudah aku beradaptasi dengan lingkungan sekolah
yang baru. Namun ada satu hal yang masih mengganjal pikiranku, setelah beberapa
bulan aku sekolah disini hanya satu orang yang tidak pernah berbicara denganku
bahkan membalas sapa ku padanya. Padahal ia teman sebangku ku. Namanya Kim
Jongin. Aku sudah berusaha keras mendekatinya tapi aku seperti patung batu yang
berusia ratusan tahun setiap kali aku mencoba mengajaknya berbincang, tak
dihiraukan. Pernah suatu hari aku menyapanya saat kami tiba disekolah
bersamaan, karena kami duduk bersama aku rasa tidak ada salahnya jika kami
berjalan bersama masuk ke kelas, tapi saat ku panggil namanya dan mengajaknya
jalan bersama ia tidak menghiraukan sedikit pun keberadaan ku saat itu.
Tingkahnya yang cuek justru membuatku penasaran. Aku rasa sikap cueknya ini
hanya berlaku padaku, karna aku pernah melihatnya berbincang bahkan tertawa dengan
anak lain.
Saking penasaran nya aku memutuskan untuk membuntutinya,
aku dengar dari seorang teman kelasku kalau Jongin bekerja paruh waktu di
sebuah toko buku dekat taman kota Seoul. Hari itu aku mengikutinya sejak ia
keluar dari sekolah. Benar saja ia bekerja di toko buku dekat taman kota. Aku
semakin penasaran dengannya karna ku lihat ketika bekerja ia sangat ramah, baik
dengan teman kerja nya ataupun pelanggan yang datang. Bahkan ku lihat ketika
ada seorang anak dari pelanggan toko itu yang menangis Jongin dengan sigap
memberi anak itu sebatang permen untuk mendiamkan tangisannya. Tapi kenapa ia
tidak pernah seramah itu denganku?
Sudah 6 jam aku duduk di taman ini menunggu Jongin selesai
dari kerja paruh waktunya, akhirnya aku melihatnya keluar dari toko buku
tersebut.
Kring..kring...
<ibu💕>
"halo..Ji Hyun, kau dimana? mengapa belum pulang
juga?ini sudah malam..kau membuat ibu khawatir!"
Aku sampai lupa sekarang sudah pukul 7 malam, "iya
bu, Ji Hyun ada di taman kota, sebentar lagi Ji Hyun pulang..ada hal penting
yang harus Ji Hyun urus, love u bu". Aku segera menutup telpon dari ibu
karna tidak ingin tertinggal jejak pergi nya Jongin. Ia berjalan ke arah halte
dekat toko buku itu, aku terus mengikutinya hingga ia naik kedalam bis. Aku
rasa sampai sini saja untuk hari ini, lagipula tidak mungkin aku mengikutinya
naik bis, ini sudah malam ibu pasti sangat khawatir.
~Sesampainya dirumah~
Aku sangat menyayangi keluarga ku. Kami selalu mewajibkan
seluruh anggota keluarga untuk makan malam bersama. Seperti malam ini,
"kau tadi kemana Ji Hyun?" tanya ayah
"aku tadi ada urusan dulu yah..maaf membuat ayah dan
ibu khawatir karna pulang terlambat dan tidak memberi tahu sebelumnya" aku
tahu ayah dan ibu pasti sangat khawatir. sepeninggal kaka ku karna kecelakaan
setahun yang lalu ketika kami masih tinggal di Jerman ayah dan ibu menjadi
sangat protektif padaku, kecelakaan kaka juga yang menjadi alasan ayah bersedia
dipindah tugaskan kembali di Korea karna tidak ingin melihat ibu yang terus
bersedih dengan kejadian itu.
"ibu tahu teman ku yang bernama Jongin?yang waktu itu
aku ceritakan.."
"teman sebangku mu yang cuek itu?"
"iya bu, ternyata orangnya ramah..tapi mengapa sangat
cuek denganku?" tanya ku penuh kebingungan
"mungkin temanmu itu sedang ada masalah sayang.."jawab
ibu
"atau mungkin temanmu itu kesal melihat mu yang
cerewet :p" sela ayah sambil meledek ku. "tidak mungkin ayah..aku ini
anak yang paling manis, ya kan bu" jawab ku sambil tersenyum manja ke arah
ibu berharap mendapat dukungan nya.
Keesokan hari nya ku putuskan untuk mengikutinya lagi
sepulang sekolah, karna hari ini hari Sabtu pasti Jongin libur kerja paruh
waktunya. Setiap hari Sabtu kegiatan belajar di sekolah diganti dengan
ekstrakulikuler. Karna aku gemar dengan
fotografi aku memutuskan untuk mengikuti ekstrakulikuler fotografi. Saat asyik
mencari objek foto dibelakang sekolah aku tidak sengaja terjerembab ke dalam
lubang tempat pembuangan sampah. Aku sangat terkejut dan bingung bagaimana cara
ku keluar dari lubang yang lebih dalam dari tinggi badan ku ditambah kaki ku
yang terkilir. Berkali-kali aku berteriak sekuat tenaga tapi tidak ada satu
orang pun yang sepertinya mendengar ku.
Ssrrsk..ssrrrsskk..
Suara apa itu?sepertinya ada seseorang yang datang,
"tolong!!tolong!!!aku dibawah sini!!!tolong aku!!!aku mohon!!" teriak
ku semakin lirih karna ini sudah cukup lama aku berteriak namun tak ada satupun
yang datang.
"berpeganglah pada tali itu!aku akan menarik
talinya", tiba-tiba seseorang berteriak dari atas. Ternyata orang itu
Jongin, ia menolongku keluar dari lubag itu. "terimakasih kau sudah
menolong ku, aku sungguh takut tidak dapat keluar dari lubang itu..sekali lagi
terimakasih Jongin" aku menjabat tangannya dengan paksa karena terlalu
senang. "sudah ku duga kau sangat berisik" balasnya lalu pergi begitu
saja.
Orang ini sungguh membuat ku penasaran. Sesuai rencana
sepulang sekolah aku mengikutinya. Diperjalanan aku menyempatkan membeli
makanan karna perut ku yang tidak bisa diajak bekerjasama di saat yang genting
seperti ini. Saat berada di dalam bis ku perhatikan ia yang mengenakan earphone
dan memejamkan matanya. Kalau dilihat-lihat Jongin cukup tampan terlepas dari
penampilannya yang selalu berantakan, baju sekolah yang selalu keluar, dan
rambutnya yang terlihat seperti tidak pernah disisir. Jongin juga senang
mengenakan topi berwarna hitam secara terbalik, topi yang membuat rambut
berantakan nya terlihat sedikit rapih. Bis ini berhenti di daerah Gangnam,
sebentar..ini kan arah ke rumah ku. Apa rumah Jongin juga disekitar sini?
Aku terus mengikuti kemana Jongin pergi, sesekali aku
berhenti dan bersembunyi ketika Jongin menoleh kebelakang. Tiba di sebuah rumah
dimana Jongin masuk kedalam rumah itu, dari jauh terlihat seorang wanita
menyambut kedatangan Jongin di depan pintu yang dibalas dengan senyuman Jongin,
"jadi ini rumah mu Jongin?setelah ini apa yang akan aku lakukan?"
tanyaku. "sekarang kau bisa pulang!"
"omo!!" aku yang terkejut dengan keberadaan
Jongin disebelah ku. "kau bisa pulang sekarang, kau sudah tau kan rumah ku
dimana.."
"yak Jongin kau mengagetkan ku, bukankah kau baru
saja masuk ke dalam rumah mu?sejak kapan kau tahu aku mengikuti mu?" tanya
ku yang penuh dengan kebingungan
"sejak kau mengikuti ku ke tempat kerja ku"
jawabnya santai
"sudahlah..kau segera pulang, kau sungguh berisik aku
tidak suka"
"Ekhh kau ini sungguh membuat ku kesal, sejak pertama
kita bertemu, yasudah aku pulang!!terimakasih kau menolong ku tadi di
sekolah" jawab ku lantas segera pergi meninggalkannya. Mimpi buruk
membuntuti Jongin, aku tidak akan mencari tahu lagi apapun berkaitan dengan
kehidupannya."hei 'gadis pembuat gaduh' jangan lupa obati kaki mu yang
terkilir" teriak Jongin yang terdengar samar-samar, ketika aku menoleh ia
sudah hilang entah kemana
Jongin sebenarnya orang yang sangat perhatian, ia juga
baik dan ramah. Beberapa hari setelah aku membuntuti Jongin, hari yang sial
bagiku tapi juga membahagiakan. Pagi itu aku bangun kesiangan dan sialnya aku
lupa membawa buku tugas matematika yang seharusnya dikumpulkan. Akhirnya aku
dihukum duduk di luar kelas selama pelajaran matematika dengan kedua tangan di
naikan ke atas. Bukan hanya aku seorang yang
terkena hukuman dipagi hari, Jongin juga dihukum karena tidak
mengerjakan tugasnya.
Kryuk..kryuk..
"uhh..maaf, Ji Hyun bodoh mengapa perut mu selalu
tidak bisa diajak kompromi di saat genting" batinku
Jongin mengeluarkan sepotong roti dari kantung celananya
dan memberikannya padaku, "kau sungguh berisik bahkan disaat kau sedang di
hukum" ujarnya
"aku belum sempat sarapan karna bangun kesiangan..oleh
karna itu perut ku berbunyi, terimakasih untuk rotinya". Aku segera
memakan roti itu selagi guru tidak memperhatikan kami di luar. Benar kata ku,
sebenarnya Jongin orang yang sangat perhatian. "makan siang nanti biar aku
traktir sebagai rasa terimakasih ku untuk roti dan pertolongan mu beberapa hari
lalu" ajak ku
"baiklah, tapi jangan menyesal karna makan ku
banyak" jawabnya dengan senyuman meledek. Pertama kalinya Jongin tersenyum
pada ku. Sepertinya ini awal yang baik untuk hubungan kami.
Setelah hari itu hubungan kami menjadi lebih dekat. Jongin
sudah mulai mau mebalas sapa ku, ia juga sudah mulai mau berbincang dengan ku
dan wajah ketusnya kini mulai berubah. Jongin mulai sering tersenyum pada ku.
***
Tidak terasa 2 bulan lagi aku akan lulus dari sekolah ini.
Sebentar lagi aku harus meninggalkan kehidupan sekolah yang menyenangkan ini,
teman-teman dan guru-guru yang menyenangkan. Dan tentunya aku akan berpisah
dengan Jongin. Ayah sudah merencanakan setelah lulus sekolah aku harus
melanjutkan kuliah di Inggris, kampus ayah dulu. Hubungan ku dengan Jongin
berkembang dengan cepat dalam beberapa bulan saja, kami sering menghabiskan
waktu bersama. Kami juga sering pulang sekolah bersama ketika Jongin tidak
pergi bekerja. Terkadang aku sengaja menunggu nya ditaman kota sampai ia pulang
bekerja agar kami bisa pulang bersama. Aku juga sering ke toko buku itu dengan
alasan ada buku yang harusku cari padahal hanya untuk berbincang dengannya,
karna aku sangat nyaman ketika bersamanya. Kami juga punya tempat favorit di
taman belakang sekolah. Sebenarnya ini tempat favorit Jongin untuk membolos
dari jadwal pelajaran atau ekstrakulikuler. Pantas saja aku jarang melihatnya
saat kelas ekstrakulikuler fotografi. Jongin juga tergabung dalam klub
fotografi sekolah. Walaupun hubungan kami semakin dekat , sikap Jongin masih
saja cuek, ia masih saja memanggilku 'gadis pembuat gaduh'. Tidak jarang Jongin
menjitak ku dan mengatakan kalau aku sangat berisik.
Sikap Jongin yang cuek dan perhatian membuat tumbuhnya
rasa suka di hatiku. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh, yang ku
tahu aku suka Jongin dan akan sulit berpisah darinya. Hari ini kami pulang
sekolah bersama lagi, hari sudah sore menjelang malam ketika kami pulang. Di
dalam bis selama perjalanan kami berbincang dan saling meledek seperti
biasanya.
"apa rencana mu setelah lulus nanti?" tanya nya
Aku terdiam sejenak, "aku akan melanjutkan sekolah di
Inggris..itu kemauan ayah dan juga cita-cita ku, bagaimana dengan mu?"
Jongin tersenyum dan menatap ku lembut, tidak seperti
biasanya. "aku akan pergi ketempat yang sangat indah" jawabnya
Setelah turun dari bis ditengah perjalanan tiba-tiba
sekelompok laki-laki berbadan besar dan menyeramkan menghampiri kami. Jongin
segera memasang tubuhnya untuk melindungi ku. Aku yang tidak mengerti apa yang
terjadi hanya dapat bersembunyi di balik tubuhnya. Tiba-tiba saja orang-orang
tersebut menyerang Jongin, dengan lihai Jongin menangkis setiap pukulan yang
diberikan. Namun tak berapa lama Jongin yang lengah terkena pukulan salah seorang
dari kelompok itu. "Ji Hyun cepat pergi dari sini!selamatkan diri
mu!!" teriak Jongin saat ia terjatuh akibat terkena pukulan balok kayu
itu. Aku hanya bisa menangis melihat tubuh Jongin yang dipukuli secara
bertubi-tubi, aku tidak bisa berbuat apapun untuk nya. Aku berlari sekuat
tenaga ketika salah seorang dari kelompok itu melihat ku dan mulai mengincar
ku. Sekuat tenaga aku berteriak meminta pertolongan tapi percuma sepanjang
jalan ini tidak ada orang lain, hanya ada kami. Sampai akhirnya aku berhasil
meloloskan diri dengan bersembunyi dibalik sebuah mobil bekas yang usang. Ku
lihat orang yang mengejar ku tadi menerima telpon lalu pergi entah kemana. Saat
aku kembali ke tempat kami diserang, ku dapati Jongin sudah tidak ada lagi
disana. Orang-orang yang menyerang kami juga sudah tidak ada disana, yang
tersisa hanya balok kayu berlumuran darah yang digunakan untuk memukul Jongin
tadi. Aku hanya dapat menangis terduduk melihatnya. Dimana kau Jongin?
Setelah hari itu aku tidak pernah melihat Jongin lagi di
sekolah. Ayah yang khawatir melihat ku pulang hari itu dengan keadaan
berantakan dan menangis menjadi sangat khawatir. Ayah juga melaporkan kejadian
itu kepihak berwajib, sebagai permintaanku juga untuk mencari keberadaan Jongin
saat ini. Namun tak ada hasilnya, Jongin tak kunjung ditemukan. Semenjak
kejadian itu ayah menjadi sangat protektif, setiap berangkat dan pulang sekolah
aku selalu ditemani ibu. Bahkan aku tidak bisa keluar rumah sesuka ku. Satu
yang membuatku bersedih dan terus menangis ditiap malam bahkan di dalam tidur
ku. Aku tidak tahu dimana keberadaan mu saat ini, apakah kau baik-baik saja
Jongin? Aku sangat merindukan mu.
"hei!gadis pembuat gaduh!kau baik-baik saja?"
suara itu, suara yang ku kenal dan kurindukan selama ini. Jongin. Saat aku
menoleh ke arah datang nya suara itu, ku lihat Jongin yang tersenyum seperti
terakhir kali kami bertemu. Aku segera berlari ke arahnya, hingga tiba-tiba ku
lihat seseorang dibelakang Jongin memukulnya dengan balok kayu dengan sangat
keras. "Jongin!!!" teriakku. Aku terbangun dari tidurku. Huft..ini
hanya mimpi, lagi-lagi mimpi buruk ini membuat ku terbangun dan menangisi rasa
rindu ku pada mu, Jongin.
Esok harinya ku putuskan untuk mengunjungi rumah Jongin
mencari tahu keberadaannya saat ini. Aku berusaha keras memohon kepada ibu agar
mau mengantar ku ke rumah Jongin sepulang sekolah.
Sesampainya di depan rumah Jongin. Berkali-kali ku tekan
tombol bel rumahnya namun tak ada satupun jawaban. "ayolah Ji Hyun kita
pulang, sudah lupakan Jongin..ia pasti baik-baik saja" ibu menarik tangan
ku dengan paksa, ini membuatku semakin sedih. Aku terus menangis memohon pada
ibu untuk tetap menunggu hingga Jongin membukakan pintu. Tak lama seorang
wanita paruh baya membukakan pintu. Wanita ini penjaga rumah Jongin, ia mempersilahkan
ku masuk kedalam rumahnya ketika aku bertanya keberadaan Jongin. Wanita ini
bahkan mengenaliku dan tahu namaku. Ia mengantarkanku kedalam sebuah kamar. Ini
kamar Jongin. Kamar ini dipenuhi fotonya, dan foto ku. Foto kita bersama
beberapa bulan yang lalu di taman bermain. Semua kenangan itu kembali dalam
ingatan ku, kenangan manis kita saat bersama. Aku tak bisa menahan rasa rindu
ini, tangis ku pecah di tengah kamar ini seorang diri. Wanita paruh baya itu
memberikan sebuah CD dan sepucuk surat untukku sebelum ia meninggalkanku
sendiri di kamar ini. Wanita itu sempat menceritakan keadaan Jongin setelah
kejadian itu, Jongin menitipkan surat dan CD ini sebelum ia pergi.
~dear 'gadis pembuat gaduh' ~
Ketika kau menerima surat ini mungkin aku sudah berada di
tempat yang indah, tempat yang ku impikan. Maaf aku membuat mu lama menunggu,
aku bersalah membawa mu masuk kedalam hidupku disaat aku tahu aku tidak mungkin
bisa menemani dan melindungi mu. Sore itu, orang-orang yang memukuliku, mereka
adalah penagih hutang. Ayahku telah lama meninggalkanku dan ibuku. Semenjak itu
aku harus berjuang menghidupi ibu dan adik ku. Sampai suatu hari adik ku harus
di larikan ke rumah sakit karena demam tinggi yang semakin parah. Aku yang
tidak punya cukup biaya saat itu, memaksa ku untuk berhutang pada rentenir.
Namun adik ku hanya dapat bertahan beberapa hari sampai akhirnya ia
meninggalkanku dan ibu ku. Hutang yang terus berbunga membuatku sulit untuk
melunasinya. Aku sudah bekerja keras untuk melunasinya tapi justru memperburuk
kondisi tubuh ku.
Kau ingat dihari pertama kita bertemu di sekolah?
Maaf saat itu aku tidak menjawab pertanyaan mu, hari itu
aku sangat kalut karna vonis dokter bahwa aku mengidap kanker otak.
Maaf kan juga sikap ku yang selalu cuek padamu. Itu adalah
cara ku menghindar dari mu, karna sejak awal aku sudah jatuh hati padamu. Aku
selalu berkata kau sangat berisik, kau gadis pembuat gaduh. Walaupun begitu aku
tetap suka padamu, aku suka cara mu melihat ku, aku rindu mendengar suara mu.
Hari itu aku berhasil melarikan diri, dengan keadaan penuh
luka aku tidak mungkin pulang ke rumah. Ibu ku pasti sangat khawatir. Aku juga
tidak dapat pergi ke sekolah, aku harus bekerja untuk melunasi hutang-hutang
ku. Aku tahu kau sangat khawatir. Setelah sebulan aku berkerja keras akhirnya
aku dapat melunasi hutang ku. Sungguh aku ingin kembali padamu tapi tuhan
berkata lain, aku tidak mempunyai kesempatan lebih lama untuk hidup. Ku
putuskan untuk pergi ke tempat yang indah.
Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Kau gadis
yang baik dan pintar. Gapailah cita-cita mu.Kau selalu ada dalam hatiku,
hiduplah bahagia dengan begitu aku bisa hidup bahagia di tempat ku saat ini.
Always love u ~Kim Jongin 💗 Shin Ji Hyun~
Sebelum aku pergi meninggalkan rumah Jongin, wanita paruh
baya itu memberitahu ku bahwa ibu Jongin kini tinggal diluar negeri agar tidak
selalu teringatkan akan Jongin. "setelah tuan muda Jongin melunasi hutang
keluarganya dan menitipkan surat untuk mu dan ibunya padaku, ia pergi entah kemana,
sampai saat ini tidak ada yang tahu dimana dan bagaimana keadaannya" ujar
wanita paruh baya itu.
***
Sudah lima tahun kejadian itu berlalu namun aku masih
terbelenggu dalam kenangan ku bersama Jongin. Setelah lulus sekolah aku
meneruskan jalan ku untuk meraih cita-cita ku bersekolah di Inggris. Tahun ini
aku sudah menyelesaikan cita-cita ku, aku memutuskan untuk kembali ke Korea.
Disini aku sekarang, taman belakang sekolah ku dulu.
Tempat favoritku dan Jongin. Aku masih menyimpan surat dan CD yang Jongin
berikan padaku. CD itu berisi video kenangan kami bersama, saat kami bermain
ditaman ini dan saat kami mengunjungi tempat-tempat lainnya. "Jongin
bagaimana keadaan mu? Aku sudah kembali, saat ini aku hidup bahagia karna mu,
aku sudah menggapai segala cita-cita ku dulu..aku sangat rindu dengan mu"
"hei!gadis pembuat gaduh!apa kabar mu?"
Suara itu, suara yang aku rindukan selama ini. Aku segera
menoleh ke arah datangnya suara dan menangkap bayangan seorang laki-laki.
Mungkinkah itu Jongin ku?
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar