Jumat, 19 September 2014

EXO FANFICTION Kim Jongin

Lima tahun yang lalu, kejadian itu awal dari semua ini. Sakit yang ku rasa, tak pernah terobati seperti dia yang tak pernah lekang oleh waktu.
***
 Hari itu untuk pertama kali nya aku bertemu dengannya dipersimpangan lorong kelas baru ku. Ya, itu adalah hari pertama ku belajar di sekolah ku. Nama ku Shin Ji Hyun, aku baru saja pindah sekolah karna keluarga ku yang pindah rumah. Ayah ku seorang diplomat, tahun itu ia ditugaskan kembali ke Korea setelah 3 tahun bertugas di Jerman.
"selamat pagi, permisi apa kau tahu kelas 12A?"tanyaku pada seorang siswa laki-laki yang terlihat sangat berantakan. Tanpa menjawab pertanyaanku bahkan tanpa menoleh sedikitpun ke arah ku ia pergi begitu saja, terpaksa aku harus mencari kelas ku sendiri. Untung saja aku bertemu seorang guru di sekolah itu yang ternyata penanggung jawab di kelas baru ku.
"selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru bernama Shin Ji Hyun, seorang siswi pindahan dari Jerman, kau bisa duduk di bangku yang kosong itu Ji Hyun" sambil menunjuk ke arah bangku tersebut. Betapa terkejutnya aku melihat siswa yang duduk di sebelah bangku ku, ternyata siswa yang ku tanya tadi sekelas denganku. Ia terlihat begitu kusut, tampangnya yang ketus, dan sikapnya yang terlihat dingin justru membuatku takut dibandingkan kesal karna sikap nya tadi.
Sekolah baru ku sangat menyenangkan, teman-teman yang baik dan guru-guru yang baik, dengan mudah aku beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Namun ada satu hal yang masih mengganjal pikiranku, setelah beberapa bulan aku sekolah disini hanya satu orang yang tidak pernah berbicara denganku bahkan membalas sapa ku padanya. Padahal ia teman sebangku ku. Namanya Kim Jongin. Aku sudah berusaha keras mendekatinya tapi aku seperti patung batu yang berusia ratusan tahun setiap kali aku mencoba mengajaknya berbincang, tak dihiraukan. Pernah suatu hari aku menyapanya saat kami tiba disekolah bersamaan, karena kami duduk bersama aku rasa tidak ada salahnya jika kami berjalan bersama masuk ke kelas, tapi saat ku panggil namanya dan mengajaknya jalan bersama ia tidak menghiraukan sedikit pun keberadaan ku saat itu. Tingkahnya yang cuek justru membuatku penasaran. Aku rasa sikap cueknya ini hanya berlaku padaku, karna aku pernah melihatnya berbincang bahkan tertawa dengan anak lain.
Saking penasaran nya aku memutuskan untuk membuntutinya, aku dengar dari seorang teman kelasku kalau Jongin bekerja paruh waktu di sebuah toko buku dekat taman kota Seoul. Hari itu aku mengikutinya sejak ia keluar dari sekolah. Benar saja ia bekerja di toko buku dekat taman kota. Aku semakin penasaran dengannya karna ku lihat ketika bekerja ia sangat ramah, baik dengan teman kerja nya ataupun pelanggan yang datang. Bahkan ku lihat ketika ada seorang anak dari pelanggan toko itu yang menangis Jongin dengan sigap memberi anak itu sebatang permen untuk mendiamkan tangisannya. Tapi kenapa ia tidak pernah seramah itu denganku?
Sudah 6 jam aku duduk di taman ini menunggu Jongin selesai dari kerja paruh waktunya, akhirnya aku melihatnya keluar dari toko buku tersebut.
Kring..kring...
<ibu💕>
"halo..Ji Hyun, kau dimana? mengapa belum pulang juga?ini sudah malam..kau membuat ibu khawatir!"
Aku sampai lupa sekarang sudah pukul 7 malam, "iya bu, Ji Hyun ada di taman kota, sebentar lagi Ji Hyun pulang..ada hal penting yang harus Ji Hyun urus, love u bu". Aku segera menutup telpon dari ibu karna tidak ingin tertinggal jejak pergi nya Jongin. Ia berjalan ke arah halte dekat toko buku itu, aku terus mengikutinya hingga ia naik kedalam bis. Aku rasa sampai sini saja untuk hari ini, lagipula tidak mungkin aku mengikutinya naik bis, ini sudah malam ibu pasti sangat khawatir.
~Sesampainya dirumah~
Aku sangat menyayangi keluarga ku. Kami selalu mewajibkan seluruh anggota keluarga untuk makan malam bersama. Seperti malam ini, "kau tadi kemana Ji Hyun?" tanya ayah
"aku tadi ada urusan dulu yah..maaf membuat ayah dan ibu khawatir karna pulang terlambat dan tidak memberi tahu sebelumnya" aku tahu ayah dan ibu pasti sangat khawatir. sepeninggal kaka ku karna kecelakaan setahun yang lalu ketika kami masih tinggal di Jerman ayah dan ibu menjadi sangat protektif padaku, kecelakaan kaka juga yang menjadi alasan ayah bersedia dipindah tugaskan kembali di Korea karna tidak ingin melihat ibu yang terus bersedih dengan kejadian itu.
"ibu tahu teman ku yang bernama Jongin?yang waktu itu aku ceritakan.."
"teman sebangku mu yang  cuek itu?"
"iya bu, ternyata orangnya ramah..tapi mengapa sangat cuek denganku?" tanya ku penuh kebingungan
"mungkin temanmu itu sedang ada masalah sayang.."jawab ibu
"atau mungkin temanmu itu kesal melihat mu yang cerewet :p" sela ayah sambil meledek ku. "tidak mungkin ayah..aku ini anak yang paling manis, ya kan bu" jawab ku sambil tersenyum manja ke arah ibu berharap mendapat dukungan nya.
Keesokan hari nya ku putuskan untuk mengikutinya lagi sepulang sekolah, karna hari ini hari Sabtu pasti Jongin libur kerja paruh waktunya. Setiap hari Sabtu kegiatan belajar di sekolah diganti dengan ekstrakulikuler.  Karna aku gemar dengan fotografi aku memutuskan untuk mengikuti ekstrakulikuler fotografi. Saat asyik mencari objek foto dibelakang sekolah aku tidak sengaja terjerembab ke dalam lubang tempat pembuangan sampah. Aku sangat terkejut dan bingung bagaimana cara ku keluar dari lubang yang lebih dalam dari tinggi badan ku ditambah kaki ku yang terkilir. Berkali-kali aku berteriak sekuat tenaga tapi tidak ada satu orang pun yang sepertinya mendengar ku.
Ssrrsk..ssrrrsskk..
Suara apa itu?sepertinya ada seseorang yang datang, "tolong!!tolong!!!aku dibawah sini!!!tolong aku!!!aku mohon!!" teriak ku semakin lirih karna ini sudah cukup lama aku berteriak namun tak ada satupun yang datang.
"berpeganglah pada tali itu!aku akan menarik talinya", tiba-tiba seseorang berteriak dari atas. Ternyata orang itu Jongin, ia menolongku keluar dari lubag itu. "terimakasih kau sudah menolong ku, aku sungguh takut tidak dapat keluar dari lubang itu..sekali lagi terimakasih Jongin" aku menjabat tangannya dengan paksa karena terlalu senang. "sudah ku duga kau sangat berisik" balasnya lalu pergi begitu saja.
Orang ini sungguh membuat ku penasaran. Sesuai rencana sepulang sekolah aku mengikutinya. Diperjalanan aku menyempatkan membeli makanan karna perut ku yang tidak bisa diajak bekerjasama di saat yang genting seperti ini. Saat berada di dalam bis ku perhatikan ia yang mengenakan earphone dan memejamkan matanya. Kalau dilihat-lihat Jongin cukup tampan terlepas dari penampilannya yang selalu berantakan, baju sekolah yang selalu keluar, dan rambutnya yang terlihat seperti tidak pernah disisir. Jongin juga senang mengenakan topi berwarna hitam secara terbalik, topi yang membuat rambut berantakan nya terlihat sedikit rapih. Bis ini berhenti di daerah Gangnam, sebentar..ini kan arah ke rumah ku. Apa rumah Jongin juga disekitar sini?
Aku terus mengikuti kemana Jongin pergi, sesekali aku berhenti dan bersembunyi ketika Jongin menoleh kebelakang. Tiba di sebuah rumah dimana Jongin masuk kedalam rumah itu, dari jauh terlihat seorang wanita menyambut kedatangan Jongin di depan pintu yang dibalas dengan senyuman Jongin, "jadi ini rumah mu Jongin?setelah ini apa yang akan aku lakukan?" tanyaku. "sekarang kau bisa pulang!"
"omo!!" aku yang terkejut dengan keberadaan Jongin disebelah ku. "kau bisa pulang sekarang, kau sudah tau kan rumah ku dimana.."
"yak Jongin kau mengagetkan ku, bukankah kau baru saja masuk ke dalam rumah mu?sejak kapan kau tahu aku mengikuti mu?" tanya ku yang penuh dengan kebingungan
"sejak kau mengikuti ku ke tempat kerja ku" jawabnya santai
"sudahlah..kau segera pulang, kau sungguh berisik aku tidak suka"
"Ekhh kau ini sungguh membuat ku kesal, sejak pertama kita bertemu, yasudah aku pulang!!terimakasih kau menolong ku tadi di sekolah" jawab ku lantas segera pergi meninggalkannya. Mimpi buruk membuntuti Jongin, aku tidak akan mencari tahu lagi apapun berkaitan dengan kehidupannya."hei 'gadis pembuat gaduh' jangan lupa obati kaki mu yang terkilir" teriak Jongin yang terdengar samar-samar, ketika aku menoleh ia sudah hilang entah kemana
Jongin sebenarnya orang yang sangat perhatian, ia juga baik dan ramah. Beberapa hari setelah aku membuntuti Jongin, hari yang sial bagiku tapi juga membahagiakan. Pagi itu aku bangun kesiangan dan sialnya aku lupa membawa buku tugas matematika yang seharusnya dikumpulkan. Akhirnya aku dihukum duduk di luar kelas selama pelajaran matematika dengan kedua tangan di naikan ke atas. Bukan hanya aku seorang yang  terkena hukuman dipagi hari, Jongin juga dihukum karena tidak mengerjakan tugasnya.
Kryuk..kryuk..
"uhh..maaf, Ji Hyun bodoh mengapa perut mu selalu tidak bisa diajak kompromi di saat genting" batinku
Jongin mengeluarkan sepotong roti dari kantung celananya dan memberikannya padaku, "kau sungguh berisik bahkan disaat kau sedang di hukum" ujarnya
"aku belum sempat sarapan karna bangun kesiangan..oleh karna itu perut ku berbunyi, terimakasih untuk rotinya". Aku segera memakan roti itu selagi guru tidak memperhatikan kami di luar. Benar kata ku, sebenarnya Jongin orang yang sangat perhatian. "makan siang nanti biar aku traktir sebagai rasa terimakasih ku untuk roti dan pertolongan mu beberapa hari lalu" ajak ku
"baiklah, tapi jangan menyesal karna makan ku banyak" jawabnya dengan senyuman meledek. Pertama kalinya Jongin tersenyum pada ku. Sepertinya ini awal yang baik untuk hubungan kami.
Setelah hari itu hubungan kami menjadi lebih dekat. Jongin sudah mulai mau mebalas sapa ku, ia juga sudah mulai mau berbincang dengan ku dan wajah ketusnya kini mulai berubah. Jongin mulai sering tersenyum pada ku.
***
Tidak terasa 2 bulan lagi aku akan lulus dari sekolah ini. Sebentar lagi aku harus meninggalkan kehidupan sekolah yang menyenangkan ini, teman-teman dan guru-guru yang menyenangkan. Dan tentunya aku akan berpisah dengan Jongin. Ayah sudah merencanakan setelah lulus sekolah aku harus melanjutkan kuliah di Inggris, kampus ayah dulu. Hubungan ku dengan Jongin berkembang dengan cepat dalam beberapa bulan saja, kami sering menghabiskan waktu bersama. Kami juga sering pulang sekolah bersama ketika Jongin tidak pergi bekerja. Terkadang aku sengaja menunggu nya ditaman kota sampai ia pulang bekerja agar kami bisa pulang bersama. Aku juga sering ke toko buku itu dengan alasan ada buku yang harusku cari padahal hanya untuk berbincang dengannya, karna aku sangat nyaman ketika bersamanya. Kami juga punya tempat favorit di taman belakang sekolah. Sebenarnya ini tempat favorit Jongin untuk membolos dari jadwal pelajaran atau ekstrakulikuler. Pantas saja aku jarang melihatnya saat kelas ekstrakulikuler fotografi. Jongin juga tergabung dalam klub fotografi sekolah. Walaupun hubungan kami semakin dekat , sikap Jongin masih saja cuek, ia masih saja memanggilku 'gadis pembuat gaduh'. Tidak jarang Jongin menjitak ku dan mengatakan kalau aku sangat berisik.
Sikap Jongin yang cuek dan perhatian membuat tumbuhnya rasa suka di hatiku. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh, yang ku tahu aku suka Jongin dan akan sulit berpisah darinya. Hari ini kami pulang sekolah bersama lagi, hari sudah sore menjelang malam ketika kami pulang. Di dalam bis selama perjalanan kami berbincang dan saling meledek seperti biasanya.
"apa rencana mu setelah lulus nanti?" tanya nya
Aku terdiam sejenak, "aku akan melanjutkan sekolah di Inggris..itu kemauan ayah dan juga cita-cita ku, bagaimana dengan mu?"
Jongin tersenyum dan menatap ku lembut, tidak seperti biasanya. "aku akan pergi ketempat yang sangat indah" jawabnya
Setelah turun dari bis ditengah perjalanan tiba-tiba sekelompok laki-laki berbadan besar dan menyeramkan menghampiri kami. Jongin segera memasang tubuhnya untuk melindungi ku. Aku yang tidak mengerti apa yang terjadi hanya dapat bersembunyi di balik tubuhnya. Tiba-tiba saja orang-orang tersebut menyerang Jongin, dengan lihai Jongin menangkis setiap pukulan yang diberikan. Namun tak berapa lama Jongin yang lengah terkena pukulan salah seorang dari kelompok itu. "Ji Hyun cepat pergi dari sini!selamatkan diri mu!!" teriak Jongin saat ia terjatuh akibat terkena pukulan balok kayu itu. Aku hanya bisa menangis melihat tubuh Jongin yang dipukuli secara bertubi-tubi, aku tidak bisa berbuat apapun untuk nya. Aku berlari sekuat tenaga ketika salah seorang dari kelompok itu melihat ku dan mulai mengincar ku. Sekuat tenaga aku berteriak meminta pertolongan tapi percuma sepanjang jalan ini tidak ada orang lain, hanya ada kami. Sampai akhirnya aku berhasil meloloskan diri dengan bersembunyi dibalik sebuah mobil bekas yang usang. Ku lihat orang yang mengejar ku tadi menerima telpon lalu pergi entah kemana. Saat aku kembali ke tempat kami diserang, ku dapati Jongin sudah tidak ada lagi disana. Orang-orang yang menyerang kami juga sudah tidak ada disana, yang tersisa hanya balok kayu berlumuran darah yang digunakan untuk memukul Jongin tadi. Aku hanya dapat menangis terduduk melihatnya. Dimana kau Jongin?
Setelah hari itu aku tidak pernah melihat Jongin lagi di sekolah. Ayah yang khawatir melihat ku pulang hari itu dengan keadaan berantakan dan menangis menjadi sangat khawatir. Ayah juga melaporkan kejadian itu kepihak berwajib, sebagai permintaanku juga untuk mencari keberadaan Jongin saat ini. Namun tak ada hasilnya, Jongin tak kunjung ditemukan. Semenjak kejadian itu ayah menjadi sangat protektif, setiap berangkat dan pulang sekolah aku selalu ditemani ibu. Bahkan aku tidak bisa keluar rumah sesuka ku. Satu yang membuatku bersedih dan terus menangis ditiap malam bahkan di dalam tidur ku. Aku tidak tahu dimana keberadaan mu saat ini, apakah kau baik-baik saja Jongin? Aku sangat merindukan mu.
"hei!gadis pembuat gaduh!kau baik-baik saja?" suara itu, suara yang ku kenal dan kurindukan selama ini. Jongin. Saat aku menoleh ke arah datang nya suara itu, ku lihat Jongin yang tersenyum seperti terakhir kali kami bertemu. Aku segera berlari ke arahnya, hingga tiba-tiba ku lihat seseorang dibelakang Jongin memukulnya dengan balok kayu dengan sangat keras. "Jongin!!!" teriakku. Aku terbangun dari tidurku. Huft..ini hanya mimpi, lagi-lagi mimpi buruk ini membuat ku terbangun dan menangisi rasa rindu ku pada mu, Jongin.
Esok harinya ku putuskan untuk mengunjungi rumah Jongin mencari tahu keberadaannya saat ini. Aku berusaha keras memohon kepada ibu agar mau mengantar ku ke rumah Jongin sepulang sekolah.
Sesampainya di depan rumah Jongin. Berkali-kali ku tekan tombol bel rumahnya namun tak ada satupun jawaban. "ayolah Ji Hyun kita pulang, sudah lupakan Jongin..ia pasti baik-baik saja" ibu menarik tangan ku dengan paksa, ini membuatku semakin sedih. Aku terus menangis memohon pada ibu untuk tetap menunggu hingga Jongin membukakan pintu. Tak lama seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Wanita ini penjaga rumah Jongin, ia mempersilahkan ku masuk kedalam rumahnya ketika aku bertanya keberadaan Jongin. Wanita ini bahkan mengenaliku dan tahu namaku. Ia mengantarkanku kedalam sebuah kamar. Ini kamar Jongin. Kamar ini dipenuhi fotonya, dan foto ku. Foto kita bersama beberapa bulan yang lalu di taman bermain. Semua kenangan itu kembali dalam ingatan ku, kenangan manis kita saat bersama. Aku tak bisa menahan rasa rindu ini, tangis ku pecah di tengah kamar ini seorang diri. Wanita paruh baya itu memberikan sebuah CD dan sepucuk surat untukku sebelum ia meninggalkanku sendiri di kamar ini. Wanita itu sempat menceritakan keadaan Jongin setelah kejadian itu, Jongin menitipkan surat dan CD ini sebelum ia pergi.
~dear 'gadis pembuat gaduh' ~
Ketika kau menerima surat ini mungkin aku sudah berada di tempat yang indah, tempat yang ku impikan. Maaf aku membuat mu lama menunggu, aku bersalah membawa mu masuk kedalam hidupku disaat aku tahu aku tidak mungkin bisa menemani dan melindungi mu. Sore itu, orang-orang yang memukuliku, mereka adalah penagih hutang. Ayahku telah lama meninggalkanku dan ibuku. Semenjak itu aku harus berjuang menghidupi ibu dan adik ku. Sampai suatu hari adik ku harus di larikan ke rumah sakit karena demam tinggi yang semakin parah. Aku yang tidak punya cukup biaya saat itu, memaksa ku untuk berhutang pada rentenir. Namun adik ku hanya dapat bertahan beberapa hari sampai akhirnya ia meninggalkanku dan ibu ku. Hutang yang terus berbunga membuatku sulit untuk melunasinya. Aku sudah bekerja keras untuk melunasinya tapi justru memperburuk kondisi tubuh ku.
Kau ingat dihari pertama kita bertemu di sekolah?
Maaf saat itu aku tidak menjawab pertanyaan mu, hari itu aku sangat kalut karna vonis dokter bahwa aku mengidap kanker otak.
Maaf kan juga sikap ku yang selalu cuek padamu. Itu adalah cara ku menghindar dari mu, karna sejak awal aku sudah jatuh hati padamu. Aku selalu berkata kau sangat berisik, kau gadis pembuat gaduh. Walaupun begitu aku tetap suka padamu, aku suka cara mu melihat ku, aku rindu mendengar suara mu.
Hari itu aku berhasil melarikan diri, dengan keadaan penuh luka aku tidak mungkin pulang ke rumah. Ibu ku pasti sangat khawatir. Aku juga tidak dapat pergi ke sekolah, aku harus bekerja untuk melunasi hutang-hutang ku. Aku tahu kau sangat khawatir. Setelah sebulan aku berkerja keras akhirnya aku dapat melunasi hutang ku. Sungguh aku ingin kembali padamu tapi tuhan berkata lain, aku tidak mempunyai kesempatan lebih lama untuk hidup. Ku putuskan untuk pergi ke tempat yang indah.
Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Kau gadis yang baik dan pintar. Gapailah cita-cita mu.Kau selalu ada dalam hatiku, hiduplah bahagia dengan begitu aku bisa hidup bahagia di tempat ku saat ini.
Always love u ~Kim Jongin 💗 Shin Ji Hyun~
Sebelum aku pergi meninggalkan rumah Jongin, wanita paruh baya itu memberitahu ku bahwa ibu Jongin kini tinggal diluar negeri agar tidak selalu teringatkan akan Jongin. "setelah tuan muda Jongin melunasi hutang keluarganya dan menitipkan surat untuk mu dan ibunya padaku, ia pergi entah kemana, sampai saat ini tidak ada yang tahu dimana dan bagaimana keadaannya" ujar wanita paruh baya itu.
***
Sudah lima tahun kejadian itu berlalu namun aku masih terbelenggu dalam kenangan ku bersama Jongin. Setelah lulus sekolah aku meneruskan jalan ku untuk meraih cita-cita ku bersekolah di Inggris. Tahun ini aku sudah menyelesaikan cita-cita ku, aku memutuskan untuk kembali ke Korea.
Disini aku sekarang, taman belakang sekolah ku dulu. Tempat favoritku dan Jongin. Aku masih menyimpan surat dan CD yang Jongin berikan padaku. CD itu berisi video kenangan kami bersama, saat kami bermain ditaman ini dan saat kami mengunjungi tempat-tempat lainnya. "Jongin bagaimana keadaan mu? Aku sudah kembali, saat ini aku hidup bahagia karna mu, aku sudah menggapai segala cita-cita ku dulu..aku sangat rindu dengan mu"
"hei!gadis pembuat gaduh!apa kabar mu?"
Suara itu, suara yang aku rindukan selama ini. Aku segera menoleh ke arah datangnya suara dan menangkap bayangan seorang laki-laki. Mungkinkah itu Jongin ku?

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar