“aku ingin seperti yang lain, aku juga ingin
merasakan cinta seperti yang lain”
(Selasa, 29 Juli 2013)
Aku masih ingat kata-kata itu, ya kata-kata yang
paling sering ia katakan padaku. Terakhir kali ia mengatakan itu pada ku
seminggu sebelum ulang tahunnya. Hari itu langit begitu cerah, aku sudah
bersiap sejak pagi dan segera bergegas ke rumahnya. Hari itu aku berjanji akan
menemaninya ke rumah sakit. Sudah terhitung lima bulan lamanya aku menemaninya
berobat. Ia adalah sahabat ku, namanya Jang Miri. Ia gadis yang cantik dan
tangguh. Sejak dilahirkan Miri memiliki kelainan pada jantungnya. Sungguh Tuhan
sangat menyayaginya karena hingga kini menjelang usianya yang ke-20 Miri dapat
bertahan walaupun hidupnya berbeda dari gadis seusianya.
Nama ku Suho, aku adalah sahabat Miri sejak kecil. Takdir
mempertemukanku dengan Miri ketika aku pindah rumah tepat di sebelah rumah
Miri. Saat itu usiaku masih 7 tahun. Seperti kata ku Miri adalah gadis yang
tangguh. Ia tidak pernah ingin dianggap sebagai gadis penyakitan. Oleh karena
itu ia selalu terlihat riang dihadapan orang lain. Awalnya aku tidak tahu kalau
Miri memiliki kelainan pada jantung sampai suatu ketika sepulang sekolah tanpa
sengaja aku bertemu dengan Miri di taman dekat rumah kami. Saat itu aku lihat Miri
duduk menyenderkan tubuhnya di tiang ayunan taman. Aku yang penasaran mencoba
menghampirinya. Kini jarak ku hanya tinggal beberapa langkah darinya, ku lihat
ia meringis seperti menahan rasa sakit. Ia terus saja mengelus dadanya sambil
berusaha menahan tangisnya. Aku yang terkejut melihat keadaan Miri langsung
mendekatinya.
“ada apa denganmu Miri?” tanya ku panik
“ssa..sa..sakkitt..”
“bagian mana yang sakit?” tanya ku lagi yang bingung
melihatnya, tanpa berpikir panjang aku langsung menggendongnya di punggung ku
dan berlari sekuat tenaga menuju rumah Miri. Hari itu aku baru tahu keadaan
Miri sebenarnya. Hari itu juga aku tahu alasan Miri lebih memilih home schooling ketimbang bersekolah di
sekolah umum. Sejak hari itu jugalah aku berjanji pada diri ku sendiri untuk
menjadi pelindungnya seperti arti nama ku (Suho = pelindung).
Setiap kali selesai mengantar Miri berobat aku
selalu mengajaknya berjalan-jalan. Sebenarnya itu adalah permintaan Miri. Kali
itu Miri meminta ku untuk mengajaknya ke taman bermain. Awalnya aku ragu
menerima permintaannya karena melihat keadaannya lima bulan terkahir ini. Sejak
awal tahun keadaan Miri memburuk hingga suatu hari dibulan Februari Miri harus
di larikan ke rumah sakit karena ia ditemukan tidak sadarkan diri oleh ibunya
di kamarnya hari itu. Miri kala itu dirawat selama sepuluh hari. Setelah keluar
dari rumah sakit Miri tetap harus rawat jalan setiap satu minggu sekali. Bulan
pertama ia rawat jalan menunjukkan hasil yang baik sehingga kini Miri hanya perlu
kembali memeriksakan keadaannya ke rumah sakit setiap satu bulan sekali.
Akhirnya aku menerima permintaannya setelah
diyakinkan oleh dokter bahwa Miri dalam keadaan baik hari itu. Aku dan Miri
selalu pergi ke taman bermain ini setiap kali kami libur sekolah dulu. Tujuan
utama kami setiap kali ke tempat ini adalah bianglala. Dengan alasan yang sama,
dari atas bianglala aku dan Miri dapat melihat seluruh kota Seoul.
“kau ingat terakhir kali kita menaiki bianglala
ini?” tanya Miri membuyarkan keheningan diantara kami semenjak menaiki wahana
ini.
“aku tidak ingat pasti, rasanya sudah lama
sekali...mungkin tiga tahun yang lalu” jawab ku sambil tersenyum kearahnya.
“ya, tiga tahun yang lalu tepatnya sepulang kau
wisuda kelulusan sekolah menengah atas mu..” keadaan menjadi hening kembali,
kali itu memang tidak seperti biasanya. Dulu setiap kali Miri dan aku menaiki
bianglala tidak pernah sedikitpun Miri diam tanpa kata. Miri akan bercerita
banyak hal sepanjang menaiki wahana ini. Tapi kini Miri hanya memperhatikan
pemandangan di depannya dengan raut sendu nya. Tiba-tiba Miri menoleh kearah ku
saat kami berada tepat dipuncak bianglala dan mengatakan kata-kata itu.
“aku ingin seperti yang lain, aku juga ingin
merasakan cinta seperti yang lain”. Ia mengatakan itu dengan raut sendu nya.
Jujur saja aku sangat benci melihat raut sendu itu. Raut wajah yang membuatku
semakin tak sanggup melepas Miri pergi.
“kau ini bicara apa Miri?bukankah kau memang sama
dengan yang lain..” ujar ku
Miri hanya diam. Keheningan kembali menyeliputi
kami.
“Miri..apa yang kau inginkan di hari ulang tahun mu
nanti?” ujar ku membuyarkan keheningan. Miri yang asyik dengan lamunanya tak
bergeming sedikitpun. “aku akan mengabulkan apapun yang kau pinta, just tell me your wish” tak lama Miri
menoleh ke arah ku. “aku hanya ingin bisa hidup lebih lama, apa kau bisa
mengabulkan itu?”. Lagi-lagi Miri mengucapkannya dengan raut sendunya. “aku
ingin merasakan cinta, sama seprti gadis lain seusiaku” ujarnya dengan nada
suara yang mulai bergetar. Aku tidak pernah suka melihat Miri putus asa seperti
ini. Aku memang tidak bisa mengabulkan permintaannya kali ini, tapi bukan
berarti Miri harus berputus asa. “kau tau betapa beruntungnya dirimu?” ujarku
“setiap manusia dilahirkan dan nantinya akan kembali
pada Sang Pencipta, hanya saja setiap manusia memiliki waktu yang berbeda kapan
harus kembali. Di dunia ini juga tidak ada manusia yang hidup dengan
kesempurnaan. Pasti ada kekukarangannya. Tapi semua itu tergantung bagaimana
kita melihatnya. Kehidupan yang bahagia itu bergantung dari cara kita
mensyukuri apa yang kita punya”
Miri tak bergeming sedikitpun dari posisinya. Ku
lihat butiran air matanya mulai jatuh perlahan. Bukan niat ku membuatnya
menangis. Aku hanya ingin ia kembali bersemangat menjalani hidupnya. “kau tahu
bunga sakura? Masa hidupnya hanya satu bulan saja dalam satu tahun, setelah itu
ia akan berguguran kembali. tapi ia tetap mempesona hingga banyak orang tak
ingin melewatkan melihat keindahannya”.
***
“aku ingin seperti matahari yang pergi dengan sangat
indah dan mengagumkan”
(Minggu, 3 Agustus 2013)
Pagi buta Miri sudah datang kerumahku. Miri
mengenakan jaket tebal dan syal berwarna merah jambu saat itu. Miri mengajak ku
untuk pergi ke pantai Incheon. Aku tak pernah bisa menolaknya. Lagi pula ini
adalah janji ku mengabulkan apapun yang diinginkanya sebagai kado ulang
tahunnya. Pantai menjadi tempat kedua yang paling kami sukai setelah bianglala
taman bermain. Deburan ombak telah banyak membawa cerita kehidupan dan mimpi
kami ke tengah lautan. Dulu saat kami masih berusia 10 tahun hampir seminggu
sekali kami ke pantai ini. Kami sangat senang berkejar-kejaran dan berlomba
membuat istana pasir. Aku juga sering
dibuat Miri khawatir ketika ditengah asiknya bermain Miri sulit untuk bernafas.
Walaupun Miri selalu mengelak dengan alasan ia terlalu senang bermain denganku.
“apa yang ingin kau lakukan dipantai kali ini Miri?”
tanya ku
Miri terlihat memikirkan sesuatu, “aku ingin bermain
sepuasnya di pantai dan mengumpulkan banyak kerang, aku ingin membuat surat
impian seperti dulu, aku juga ingin mengalahkanmu membuat istana pasir”
jawabnya dengan wajah penuh semanagat.
“semoga saja cuaca hari ini cerah, jadi kita bisa
lakukan semua hal yang kau inginkan” jawabku. Inilah Miri yang aku rindukan
akhir-akhir ini, Miri yang bersemangat dan Miri yang tak kenal kata putus asa.
Sesampainya di pantai,
“wuah..udara disini hangat, Tuhan mendengarkan
permohonanku hari ini” ujar Miri
“walaupun udaranya hangat kau harus tetap mengenakan
jaket mu, angin pantai bertiup cukup kencang hari ini”. “sip bos!ayo kita adu
lari, siapa yang terakhir sampai tepi pantai dia harus mengendong si pemenang
10 kali bolak-balik ke tempat ini, siap??satu...dua..tiga...” Miri dengan
semangat berlari bahkan sebelum hitungan ketiga. Begitulah Miri, selalu
membuatku mengalah dan menuruti apa yang diinginkannya. Tapi itulah yang aku
suka darinya.
Setelah aku lelah karena harus mengendong Miri 10
kali bolak-balik, Miri mengajakku beristirahat di sebuah batu besar di tepi
pantai ini. Kami duduk diatas pasir pantai yang putih sembari menyenderkan
tubuh yang lelah ke batu besar ini. “apa yang kau ingin lakukan setelah ini?”
tanyaku. “setelah ini kita buat surat botol, oke?ada banyak yang aku ingin
sampaikan pada dewi laut saat ini..” jawabnya tanpa mengalihkan sedikitpun
pandangannya dari deburan ombak.
Kami menuliskan impian-impian kami pada secarik
kertas lalu memasukkannya kedalam botol. Setiap kali kami datang ke pantai,
inilah salah satu agenda wajib yang kami lakukan. Miri tidak pernah sekalipun
memberi tahuku impian-impian yang ia tuliskan, katanya kalau impiannya
diceritakan maka ombak tidak akan menyampaikan suratnya itu pada dewi laut. Walaupun
begitu aku selalu tahu impiannya, aku selalu mengintipnya saat Miri
menuliskannya diatas kertas. Aku ingat semua impian Miri, impian yang sangat
lucu dan tidak masuk akal bagiku. Tidak kali ini, aku lihat Miri begitu serius
menuliskan impian-impiannya.
~dear dewi laut~
Impianku :
Aku ingin ayah dan ibu dapat hidup bahagia
selamanya, semoga mereka sehat selalu dan saling mencintai sepanjang hidup
mereka. Begitupun dengan Suho, aku ingin ia dapat menemukan gadis yang cantik,
baik hati, dan sangat mencintainya. Aku ingin semua mendapatkan apa yang mereka
impikan.
Maaf selama ini banyak meminta padamu dewi laut, aku
janji ini terakhir kalinya aku mengatakan permohonanku pada mu. Kabulkanlah
impianku kali ini, aku mohon..
Impian sederhana namun sungguh menyentuh hatiku.
Miri ada apa dengan mu, mengapa hatiku semakin merasa kau sedang berusaha untuk
perlahan-lahan pergi meninggalkanku?
“apa yang kau tuliskan?mengapa wajah mu terlihat
sangat serius, tidak seperti biasanya..” tanyaku. “tentu saja impian-impianku,
bukankah sudah sering ku katakan kalau kita tidak boleh menceritakan apa yang
kita tuliskan pada siapapun?” jawab Miri dengan wajah ketusnya. “aa..iya, aku
baru ingat..nanti impiannya tidak akan dikabulkan dewi laut bukan?”
“baguslah kau mengerti, ayo kita lemparkan botol ini
sekarang..satu..”
“sudah-sudah, aku saja yang menghitung, kalau kau
yang menghitung kau pasti sudah melemparkannya sebelum hitungan ketiga”
Ombak membawa botol berisi surat impian kami ke
tengah laut, membawa surat itu pada dewi laut. Sama seperti Miri, kali ini aku
mohon ombak benar-benar menyampaikannya pada dewi laut dan ku mohon kali ini
dewi laut mau mengabulkan permohonanku. Aku mohon Miri dapat selalu ada
disampingku. Hari sudah menjelang senja,
ku lihat Miri sudah kelelahan, wajahnya semakin pucat dan itu membuatku sangat
khawatir. “ayo kita pulang, hari sudah senja dan udara disini juga sudah
semakin dingin” ajakku. “sebentar, aku masih punya satu keinginan..” Miri
menahan tanganku yang mengajaknya pulang. “bukankah semua hal yang biasa kita
lakukan dipantai ini sudah kita lakukan?”
“ya, tapi ada satu hal yang aku ingin lakukan..aku
sangat ingin melihat matahari terbenam dipantai ini, maukah kau menemaniku
melihatnya?”
Wajah itu, mengapa kau membuat hati ku semakin gelisah
Miri. “baiklah, kita pulang setelah matahari terbenam dipantai ini”. Matahari
terbenam dengan begitu indahnya. Langit sore yang berwarna jingga dengan
pemandangan burung-burung yang beranjak pulang keperaduannya seperti halnya
matahari yang lelah menyinari hari ini dan membuat kami dapat bermain dengan
bahagianya di pantai ini. “seandainya aku bisa, aku ingin seperti matahari yang
pergi dengan sangat indah dan mengagumkan” Miri mengucapkan kata-kata itu tepat
disaat matahari kembali keperaduannya.
***
(selasa, 5 Agustus 2013)
Hari ini adalah ulang tahun Miri. Sehari kemarin aku
tidak bertemu dengannya karena aku sibuk menyiapkan kejutan untuknya. Kembang
api, aku sudah menyiapkan pesta kembang api yang sangat indah untuknya. Miri
sejak kecil sangat suka melihat kembang api. Aku sering dibuatnya kesal karena
harus berbohong pada orang tua Miri hanya untuk menemani Miri melihat pesta
kembang api di Namsan Tower setiap malam tahun baru. Sebenarnya Miri tidak
tahan mendengar suara kembang api, ia selalu mencengkeram lenganku setiap kali
mendengar dentuman kembang api. Namun Miri tetap saja senang dengan kembang
api, katanya warna-warni kembang api sangat indah. Ia selalu mengatakan andai
saja hidupnya berwarna-warni seperti kembang api.
Tepat pukul 5 sore aku pergi ke rumah Miri untuk
membawanya ke taman dekat rumah, tempat kejutanku berada. Sesampainya dirumah
Miri aku tidak melihat tanda-tanda keberadaan Miri ataupun keluarganya dirumah.
Lampu rumahnya dimatikan dan mobil keluarganya tidak terlihat terparkir di
garasi rumahnya. Mungkin Miri sedang pergi merayakan ulang tahunnya bersama
orang tuanya, pikirku. Aku putuskan untuk menunggunya ditaman dan mengirimkan
pesan singkat untuk menemuiku ditaman.
Sudah hampir 3 jam aku menunggunya disini, namun tak
ada sedikitpun tanda kedatangan Miri. Bahkan Miri tidak membalas pesan singkat
ku tadi. Tak lama, telpon genggamku berdering dan terlihat nama Miri
dilayarnya.
“ya!Miri..kau dimana?mengapa tidak membalas pesan
ku?”
Terdengar suara seorang laki-laki dengan nada
bergetar, tentu ini bukan suara Miri. “halo, Suho..ini ayahnya Miri..Suho...”
ayah Miri mulai menangis.
“paman?kenapa paman menangis?” tanyaku
“Miri...” suara ayah Miri yang tersengal-sengal
“ada apa dengan Miri paman?beritahu aku paman...”
jawab ku sangat cemas
“Miri sudah pergi meninggalkan kita” jawab ayah Miri
dengan suara isakan tangisnya yang semakin berat
Aku menjatuhkan telpon genggamku seketika mendengar
kabar tentang Miri. Seluruh tubuhku terasa lemas, kaki ku bahkan tak sanggup
untuk sekedar menopang tubuhku. Tapi aku harus segera ke rumah sakit, ku
paksakan untuk berlari sekuat dan sekencang yang aku mampu. Aku harus bertemu
Miri. “Tuhan ku mohon berilah Miri dan aku kesempatan, ku mohon sekali ini
saja..biarkanlah Miri tetap disampingku” gumamku ditengah sengalan nafas ku
yang memburu.
~dear Suho~
Halo..malaikat pelindung ku,
Benar kata mu, betapa aku sangat beruntung. Aku
hidup dikelilingi orang-orang yang sangat mencintaiku. Aku punya ayah dan ibu
yang sangat baik hati dan menyayangiku. Aku juga punya kau, Suho = pelindung
Miri. Betapa bodohnya aku masih mengharapkan cinta lain disaat aku memiliki
cinta yang jauh lebih besar dari yang orang lain miliki. Kau yang menyadarkanku
tentang arti hidup sebenarnya dengan cerita bunga sakura mu. Kau juga yang
membuat ku kembali bersemangat untuk dapat bertahan hidup lebih lama. Maaf kan
aku karena ternyata aku tak sanggup bertahan lebih lama. Aku ingin menjadi
bunga sakura yang kau ceritakan. Walaupun hidupku sebentar aku harap aku bisa
mempesona layaknya bunga sakura yang bermekaran di musim semi, setidaknya aku
seperti itu dimatamu.
Apa kau masih ingin tahu apa permohonan yang aku
tulis dipantai kemarin?
Aku harap kau dapat hidup bahagia dan menemukan
gadis yang cantik, baik hati, serta mencintaimu. Semoga dewi laut tetap
mengabulkan permohonanku, walaupun aku menceritakan ini padamu. Nanti disaat
aku pergi, bolehkah aku meminta satu hal lagi padamu? Kumohon kau jangan
bersedih, aku ingin kau melihat ku seperti matahari yang terbenam dipantai sore
itu, aku ingin kerpergianku ini indah dan mengagumkan, tidak meninggalkan
kesedihan dihati orang-orang yang aku cintai. Terimakasih atas semua kasih
sayang dan cintamu padaku selama ini. kalau aku masih bisa memohon satu hal
lagi pada Tuhan, semoga dikehidupan mendatang kau tetap menjadi pelindung ku.
Don’t
cry, goodbye..
~Jang Miri~
-FLASH BACK-
Pagi hari Miri sudah berada di kamar Suho, baru kali
ini Suho bangun telat. Hari ini adalah ulang tahun Miri, sebenarnya Miri ingin
mengajak Suho ke taman bermain namun melihat wajah Suho yang terlihat lelah
ditidurnya membuat Miri tak sanggup membangunkannya. Suho memang kelelahan
karena seharian kemarin harus mencari kembang api kejutan untuk Miri malam ini.
Miri hanya duduk disamping ranjang Suho sembari memandangi jendela yang
tirainya tidak pernah ditutup oleh Suho sehingga cahaya matahari dapat leluasa
masuk kedalam kamarnya. Suho memang takut gelap, ia tidak pernah mematikan
lampu kamarnya saat tidur dan tidak pernah menutup tirainya agar cahaya bintang
dapat masuk kedalam kamarnya digelapnya malam. Pikiran Miri melayang mengingat
kenangan-kenangan masa kecilnya bersama Suho. Dulu Miri dan Suho kecil sangat
senang merayakan hari spesial dalam hidup mereka di atas bianglala termasuk
hari ulang tahun mereka. Ya itulah alasan Miri ingin mengajak Suho ke taman
bermain pagi ini. tanpa disadari Miri mengembangkan senyum manisnya setiap kali
mengingat masa kecilnya dengan Suho. Miri sangat tahu sifat sahabatnya ini,
Suho yang sensitif dan sangat mudah menangis. Mungkin jika dibandingkan dengan
Miri, Suho lebih banyak menangis.
Miri tahu Suho seringkali menangis ketika melihatnya
sakit. Itulah mengapa Miri tak pernah memperlihatkan sakitnya didepan Suho.
Miri tidak igin menjadi beban untuk Suho. Walaupun begitu Suho tetaplah sahabat
terbaiknya yang selalu berbaik hati dan selalu mengalah.
~Deg~
Tiba-tiba Miri merasa sulit bernapas, jantungnya
berdebar cepat. Tapi Miri masih ingin disini, Miri masih ingin melihat Suho
yang terkejut saat terbangun karena melihatnya ada tepat di sampingnya. Miri
ingin melihat Suho tersenyum.
Miri berusaha mengatur napasnya yang mulai terasa
semakin berat. Perlahan sakit di dadanya berkurang dan detak jantungnya mulai
teratur.
“Suho mengapa kau belum juga bangun dari tidurmu?apa
kau tidak ingin bermain denganku?”
Tak ada balasan sedikitpun dari Suho
“aku sangat ingin menaiki bianglala hari ini,
mungkin untuk terakhir kalinya...” Miri menghela napas panjang
“semalam aku bermimpi buruk, dalam mimpi itu aku
sedang asik bermain denganmu tapi tiba-tiba semua menjadi gelap dan aku tidak
tahu aku berada dimana, selama ini aku tidak pernah takut gelap tapi kegelapan
dalam mimpiku sungguh menyeramkan..sampai seseorang menghampiriku dan
mengajakku pergi dari tempat itu” Miri diam sejenak
“kau tahu aku sangat takut inilah saatnya aku pergi,
sejujurnya aku sangat takut untuk pergi”
Suho memalingkan tubuhnya jadi menghadap Miri,
~Deg~
Jantung Miri kembali terasa sakit, kali ini
benar-benar sakit
“kalau sekarang saatnya aku pergi, aku harap kau
tetap hidup bahagia..aku harap kau menemukan gadis baik hati yang memiliki
senyum yang bersinar sepertimu..” ujar Miri dengan suara mulai bergetar menahan
sakit di dadanya
“aku harap setelah aku pergi tidak ada lagi yang
membuatmu menangis, jangan menangis, jangan menangis disaat aku tak lagi ada di
samping mu..sam..pai..jum..pa..” Miri menangis menahan sakitnya
Saat itu juga Suho terbangun namun Miri sudah tidak
ada disampingnya, Miri sudah pergi dari kamar itu.
Miri berjalan tegopoh menuju rumahnya. Miri terjatuh
tepat disaat ia menekan tombol bel rumahnya. Ayah Miri yang membukakan pintu
sangat terkejut melihat putrinya sudah terduduk di depan pintu sembari menahan
rasa sakit di dadanya. Ayah dan ibu Miri segera membawa Miri pergi ke rumah
sakit.
“Ayah..ibu..terimakasih sudah menjadi orang tua ku,
Miri sangat bahagia bisa lahir sebagai putri dari ayah dan ibu, terimakasih..”
kata-kata terakhir yang Miri katakan sebelum Miri tak sadarkan diri.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar