Jumat, 03 Oktober 2014

EXOFANFICTION SUHO (Days Before you Go)

“aku ingin seperti yang lain, aku juga ingin merasakan cinta seperti yang lain”
(Selasa, 29 Juli 2013)
Aku masih ingat kata-kata itu, ya kata-kata yang paling sering ia katakan padaku. Terakhir kali ia mengatakan itu pada ku seminggu sebelum ulang tahunnya. Hari itu langit begitu cerah, aku sudah bersiap sejak pagi dan segera bergegas ke rumahnya. Hari itu aku berjanji akan menemaninya ke rumah sakit. Sudah terhitung lima bulan lamanya aku menemaninya berobat. Ia adalah sahabat ku, namanya Jang Miri. Ia gadis yang cantik dan tangguh. Sejak dilahirkan Miri memiliki kelainan pada jantungnya. Sungguh Tuhan sangat menyayaginya karena hingga kini menjelang usianya yang ke-20 Miri dapat bertahan walaupun hidupnya berbeda dari gadis seusianya.
Nama ku Suho, aku adalah sahabat Miri sejak kecil. Takdir mempertemukanku dengan Miri ketika aku pindah rumah tepat di sebelah rumah Miri. Saat itu usiaku masih 7 tahun. Seperti kata ku Miri adalah gadis yang tangguh. Ia tidak pernah ingin dianggap sebagai gadis penyakitan. Oleh karena itu ia selalu terlihat riang dihadapan orang lain. Awalnya aku tidak tahu kalau Miri memiliki kelainan pada jantung sampai suatu ketika sepulang sekolah tanpa sengaja aku bertemu dengan Miri di taman dekat rumah kami. Saat itu aku lihat Miri duduk menyenderkan tubuhnya di tiang ayunan taman. Aku yang penasaran mencoba menghampirinya. Kini jarak ku hanya tinggal beberapa langkah darinya, ku lihat ia meringis seperti menahan rasa sakit. Ia terus saja mengelus dadanya sambil berusaha menahan tangisnya. Aku yang terkejut melihat keadaan Miri langsung mendekatinya.
“ada apa denganmu Miri?” tanya ku panik
“ssa..sa..sakkitt..”
“bagian mana yang sakit?” tanya ku lagi yang bingung melihatnya, tanpa berpikir panjang aku langsung menggendongnya di punggung ku dan berlari sekuat tenaga menuju rumah Miri. Hari itu aku baru tahu keadaan Miri sebenarnya. Hari itu juga aku tahu alasan Miri lebih memilih home schooling ketimbang bersekolah di sekolah umum. Sejak hari itu jugalah aku berjanji pada diri ku sendiri untuk menjadi pelindungnya seperti arti nama ku (Suho = pelindung).
Setiap kali selesai mengantar Miri berobat aku selalu mengajaknya berjalan-jalan. Sebenarnya itu adalah permintaan Miri. Kali itu Miri meminta ku untuk mengajaknya ke taman bermain. Awalnya aku ragu menerima permintaannya karena melihat keadaannya lima bulan terkahir ini. Sejak awal tahun keadaan Miri memburuk hingga suatu hari dibulan Februari Miri harus di larikan ke rumah sakit karena ia ditemukan tidak sadarkan diri oleh ibunya di kamarnya hari itu. Miri kala itu dirawat selama sepuluh hari. Setelah keluar dari rumah sakit Miri tetap harus rawat jalan setiap satu minggu sekali. Bulan pertama ia rawat jalan menunjukkan hasil yang baik sehingga kini Miri hanya perlu kembali memeriksakan keadaannya ke rumah sakit setiap satu bulan sekali.
Akhirnya aku menerima permintaannya setelah diyakinkan oleh dokter bahwa Miri dalam keadaan baik hari itu. Aku dan Miri selalu pergi ke taman bermain ini setiap kali kami libur sekolah dulu. Tujuan utama kami setiap kali ke tempat ini adalah bianglala. Dengan alasan yang sama, dari atas bianglala aku dan Miri dapat melihat seluruh kota Seoul.
“kau ingat terakhir kali kita menaiki bianglala ini?” tanya Miri membuyarkan keheningan diantara kami semenjak menaiki wahana ini.
“aku tidak ingat pasti, rasanya sudah lama sekali...mungkin tiga tahun yang lalu” jawab ku sambil tersenyum kearahnya.
“ya, tiga tahun yang lalu tepatnya sepulang kau wisuda kelulusan sekolah menengah atas mu..” keadaan menjadi hening kembali, kali itu memang tidak seperti biasanya. Dulu setiap kali Miri dan aku menaiki bianglala tidak pernah sedikitpun Miri diam tanpa kata. Miri akan bercerita banyak hal sepanjang menaiki wahana ini. Tapi kini Miri hanya memperhatikan pemandangan di depannya dengan raut sendu nya. Tiba-tiba Miri menoleh kearah ku saat kami berada tepat dipuncak bianglala dan mengatakan kata-kata itu.
“aku ingin seperti yang lain, aku juga ingin merasakan cinta seperti yang lain”. Ia mengatakan itu dengan raut sendu nya. Jujur saja aku sangat benci melihat raut sendu itu. Raut wajah yang membuatku semakin tak sanggup melepas Miri pergi.
“kau ini bicara apa Miri?bukankah kau memang sama dengan yang lain..” ujar ku
Miri hanya diam. Keheningan kembali menyeliputi kami.
“Miri..apa yang kau inginkan di hari ulang tahun mu nanti?” ujar ku membuyarkan keheningan. Miri yang asyik dengan lamunanya tak bergeming sedikitpun. “aku akan mengabulkan apapun yang kau pinta, just tell me your wish” tak lama Miri menoleh ke arah ku. “aku hanya ingin bisa hidup lebih lama, apa kau bisa mengabulkan itu?”. Lagi-lagi Miri mengucapkannya dengan raut sendunya. “aku ingin merasakan cinta, sama seprti gadis lain seusiaku” ujarnya dengan nada suara yang mulai bergetar. Aku tidak pernah suka melihat Miri putus asa seperti ini. Aku memang tidak bisa mengabulkan permintaannya kali ini, tapi bukan berarti Miri harus berputus asa. “kau tau betapa beruntungnya dirimu?” ujarku
“setiap manusia dilahirkan dan nantinya akan kembali pada Sang Pencipta, hanya saja setiap manusia memiliki waktu yang berbeda kapan harus kembali. Di dunia ini juga tidak ada manusia yang hidup dengan kesempurnaan. Pasti ada kekukarangannya. Tapi semua itu tergantung bagaimana kita melihatnya. Kehidupan yang bahagia itu bergantung dari cara kita mensyukuri apa yang kita punya”
Miri tak bergeming sedikitpun dari posisinya. Ku lihat butiran air matanya mulai jatuh perlahan. Bukan niat ku membuatnya menangis. Aku hanya ingin ia kembali bersemangat menjalani hidupnya. “kau tahu bunga sakura? Masa hidupnya hanya satu bulan saja dalam satu tahun, setelah itu ia akan berguguran kembali. tapi ia tetap mempesona hingga banyak orang tak ingin melewatkan melihat keindahannya”.
***
“aku ingin seperti matahari yang pergi dengan sangat indah dan mengagumkan”
(Minggu, 3 Agustus 2013)
Pagi buta Miri sudah datang kerumahku. Miri mengenakan jaket tebal dan syal berwarna merah jambu saat itu. Miri mengajak ku untuk pergi ke pantai Incheon. Aku tak pernah bisa menolaknya. Lagi pula ini adalah janji ku mengabulkan apapun yang diinginkanya sebagai kado ulang tahunnya. Pantai menjadi tempat kedua yang paling kami sukai setelah bianglala taman bermain. Deburan ombak telah banyak membawa cerita kehidupan dan mimpi kami ke tengah lautan. Dulu saat kami masih berusia 10 tahun hampir seminggu sekali kami ke pantai ini. Kami sangat senang berkejar-kejaran dan berlomba membuat istana pasir.  Aku juga sering dibuat Miri khawatir ketika ditengah asiknya bermain Miri sulit untuk bernafas. Walaupun Miri selalu mengelak dengan alasan ia terlalu senang bermain denganku.
“apa yang ingin kau lakukan dipantai kali ini Miri?” tanya ku
Miri terlihat memikirkan sesuatu, “aku ingin bermain sepuasnya di pantai dan mengumpulkan banyak kerang, aku ingin membuat surat impian seperti dulu, aku juga ingin mengalahkanmu membuat istana pasir” jawabnya dengan wajah penuh semanagat.
“semoga saja cuaca hari ini cerah, jadi kita bisa lakukan semua hal yang kau inginkan” jawabku. Inilah Miri yang aku rindukan akhir-akhir ini, Miri yang bersemangat dan Miri yang tak kenal kata putus asa.
Sesampainya di pantai,
“wuah..udara disini hangat, Tuhan mendengarkan permohonanku hari ini” ujar Miri
“walaupun udaranya hangat kau harus tetap mengenakan jaket mu, angin pantai bertiup cukup kencang hari ini”. “sip bos!ayo kita adu lari, siapa yang terakhir sampai tepi pantai dia harus mengendong si pemenang 10 kali bolak-balik ke tempat ini, siap??satu...dua..tiga...” Miri dengan semangat berlari bahkan sebelum hitungan ketiga. Begitulah Miri, selalu membuatku mengalah dan menuruti apa yang diinginkannya. Tapi itulah yang aku suka darinya.
Setelah aku lelah karena harus mengendong Miri 10 kali bolak-balik, Miri mengajakku beristirahat di sebuah batu besar di tepi pantai ini. Kami duduk diatas pasir pantai yang putih sembari menyenderkan tubuh yang lelah ke batu besar ini. “apa yang kau ingin lakukan setelah ini?” tanyaku. “setelah ini kita buat surat botol, oke?ada banyak yang aku ingin sampaikan pada dewi laut saat ini..” jawabnya tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari deburan ombak.
Kami menuliskan impian-impian kami pada secarik kertas lalu memasukkannya kedalam botol. Setiap kali kami datang ke pantai, inilah salah satu agenda wajib yang kami lakukan. Miri tidak pernah sekalipun memberi tahuku impian-impian yang ia tuliskan, katanya kalau impiannya diceritakan maka ombak tidak akan menyampaikan suratnya itu pada dewi laut. Walaupun begitu aku selalu tahu impiannya, aku selalu mengintipnya saat Miri menuliskannya diatas kertas. Aku ingat semua impian Miri, impian yang sangat lucu dan tidak masuk akal bagiku. Tidak kali ini, aku lihat Miri begitu serius menuliskan impian-impiannya.
~dear dewi laut~
Impianku :
Aku ingin ayah dan ibu dapat hidup bahagia selamanya, semoga mereka sehat selalu dan saling mencintai sepanjang hidup mereka. Begitupun dengan Suho, aku ingin ia dapat menemukan gadis yang cantik, baik hati, dan sangat mencintainya. Aku ingin semua mendapatkan apa yang mereka impikan.
Maaf selama ini banyak meminta padamu dewi laut, aku janji ini terakhir kalinya aku mengatakan permohonanku pada mu. Kabulkanlah impianku kali ini, aku mohon..
Impian sederhana namun sungguh menyentuh hatiku. Miri ada apa dengan mu, mengapa hatiku semakin merasa kau sedang berusaha untuk perlahan-lahan pergi meninggalkanku?
“apa yang kau tuliskan?mengapa wajah mu terlihat sangat serius, tidak seperti biasanya..” tanyaku. “tentu saja impian-impianku, bukankah sudah sering ku katakan kalau kita tidak boleh menceritakan apa yang kita tuliskan pada siapapun?” jawab Miri dengan wajah ketusnya. “aa..iya, aku baru ingat..nanti impiannya tidak akan dikabulkan dewi laut bukan?”
“baguslah kau mengerti, ayo kita lemparkan botol ini sekarang..satu..”
“sudah-sudah, aku saja yang menghitung, kalau kau yang menghitung kau pasti sudah melemparkannya sebelum hitungan ketiga”
Ombak membawa botol berisi surat impian kami ke tengah laut, membawa surat itu pada dewi laut. Sama seperti Miri, kali ini aku mohon ombak benar-benar menyampaikannya pada dewi laut dan ku mohon kali ini dewi laut mau mengabulkan permohonanku. Aku mohon Miri dapat selalu ada disampingku.  Hari sudah menjelang senja, ku lihat Miri sudah kelelahan, wajahnya semakin pucat dan itu membuatku sangat khawatir. “ayo kita pulang, hari sudah senja dan udara disini juga sudah semakin dingin” ajakku. “sebentar, aku masih punya satu keinginan..” Miri menahan tanganku yang mengajaknya pulang. “bukankah semua hal yang biasa kita lakukan dipantai ini sudah kita lakukan?”
“ya, tapi ada satu hal yang aku ingin lakukan..aku sangat ingin melihat matahari terbenam dipantai ini, maukah kau menemaniku melihatnya?”
Wajah itu, mengapa kau membuat hati ku semakin gelisah Miri. “baiklah, kita pulang setelah matahari terbenam dipantai ini”. Matahari terbenam dengan begitu indahnya. Langit sore yang berwarna jingga dengan pemandangan burung-burung yang beranjak pulang keperaduannya seperti halnya matahari yang lelah menyinari hari ini dan membuat kami dapat bermain dengan bahagianya di pantai ini. “seandainya aku bisa, aku ingin seperti matahari yang pergi dengan sangat indah dan mengagumkan” Miri mengucapkan kata-kata itu tepat disaat matahari kembali keperaduannya.
***
(selasa, 5 Agustus 2013)
Hari ini adalah ulang tahun Miri. Sehari kemarin aku tidak bertemu dengannya karena aku sibuk menyiapkan kejutan untuknya. Kembang api, aku sudah menyiapkan pesta kembang api yang sangat indah untuknya. Miri sejak kecil sangat suka melihat kembang api. Aku sering dibuatnya kesal karena harus berbohong pada orang tua Miri hanya untuk menemani Miri melihat pesta kembang api di Namsan Tower setiap malam tahun baru. Sebenarnya Miri tidak tahan mendengar suara kembang api, ia selalu mencengkeram lenganku setiap kali mendengar dentuman kembang api. Namun Miri tetap saja senang dengan kembang api, katanya warna-warni kembang api sangat indah. Ia selalu mengatakan andai saja hidupnya berwarna-warni seperti kembang api.
Tepat pukul 5 sore aku pergi ke rumah Miri untuk membawanya ke taman dekat rumah, tempat kejutanku berada. Sesampainya dirumah Miri aku tidak melihat tanda-tanda keberadaan Miri ataupun keluarganya dirumah. Lampu rumahnya dimatikan dan mobil keluarganya tidak terlihat terparkir di garasi rumahnya. Mungkin Miri sedang pergi merayakan ulang tahunnya bersama orang tuanya, pikirku. Aku putuskan untuk menunggunya ditaman dan mengirimkan pesan singkat untuk menemuiku ditaman.
Sudah hampir 3 jam aku menunggunya disini, namun tak ada sedikitpun tanda kedatangan Miri. Bahkan Miri tidak membalas pesan singkat ku tadi. Tak lama, telpon genggamku berdering dan terlihat nama Miri dilayarnya.
“ya!Miri..kau dimana?mengapa tidak membalas pesan ku?”
Terdengar suara seorang laki-laki dengan nada bergetar, tentu ini bukan suara Miri. “halo, Suho..ini ayahnya Miri..Suho...” ayah Miri mulai menangis.
“paman?kenapa paman menangis?” tanyaku
“Miri...” suara ayah Miri yang tersengal-sengal
“ada apa dengan Miri paman?beritahu aku paman...” jawab ku sangat cemas
“Miri sudah pergi meninggalkan kita” jawab ayah Miri dengan suara isakan tangisnya yang semakin berat
Aku menjatuhkan telpon genggamku seketika mendengar kabar tentang Miri. Seluruh tubuhku terasa lemas, kaki ku bahkan tak sanggup untuk sekedar menopang tubuhku. Tapi aku harus segera ke rumah sakit, ku paksakan untuk berlari sekuat dan sekencang yang aku mampu. Aku harus bertemu Miri. “Tuhan ku mohon berilah Miri dan aku kesempatan, ku mohon sekali ini saja..biarkanlah Miri tetap disampingku” gumamku ditengah sengalan nafas ku yang memburu.
~dear Suho~
Halo..malaikat pelindung ku,
Benar kata mu, betapa aku sangat beruntung. Aku hidup dikelilingi orang-orang yang sangat mencintaiku. Aku punya ayah dan ibu yang sangat baik hati dan menyayangiku. Aku juga punya kau, Suho = pelindung Miri. Betapa bodohnya aku masih mengharapkan cinta lain disaat aku memiliki cinta yang jauh lebih besar dari yang orang lain miliki. Kau yang menyadarkanku tentang arti hidup sebenarnya dengan cerita bunga sakura mu. Kau juga yang membuat ku kembali bersemangat untuk dapat bertahan hidup lebih lama. Maaf kan aku karena ternyata aku tak sanggup bertahan lebih lama. Aku ingin menjadi bunga sakura yang kau ceritakan. Walaupun hidupku sebentar aku harap aku bisa mempesona layaknya bunga sakura yang bermekaran di musim semi, setidaknya aku seperti itu dimatamu.
Apa kau masih ingin tahu apa permohonan yang aku tulis dipantai kemarin?
Aku harap kau dapat hidup bahagia dan menemukan gadis yang cantik, baik hati, serta mencintaimu. Semoga dewi laut tetap mengabulkan permohonanku, walaupun aku menceritakan ini padamu. Nanti disaat aku pergi, bolehkah aku meminta satu hal lagi padamu? Kumohon kau jangan bersedih, aku ingin kau melihat ku seperti matahari yang terbenam dipantai sore itu, aku ingin kerpergianku ini indah dan mengagumkan, tidak meninggalkan kesedihan dihati orang-orang yang aku cintai. Terimakasih atas semua kasih sayang dan cintamu padaku selama ini. kalau aku masih bisa memohon satu hal lagi pada Tuhan, semoga dikehidupan mendatang kau tetap menjadi pelindung ku.
Don’t cry, goodbye..
~Jang Miri~

-FLASH BACK-
Pagi hari Miri sudah berada di kamar Suho, baru kali ini Suho bangun telat. Hari ini adalah ulang tahun Miri, sebenarnya Miri ingin mengajak Suho ke taman bermain namun melihat wajah Suho yang terlihat lelah ditidurnya membuat Miri tak sanggup membangunkannya. Suho memang kelelahan karena seharian kemarin harus mencari kembang api kejutan untuk Miri malam ini. Miri hanya duduk disamping ranjang Suho sembari memandangi jendela yang tirainya tidak pernah ditutup oleh Suho sehingga cahaya matahari dapat leluasa masuk kedalam kamarnya. Suho memang takut gelap, ia tidak pernah mematikan lampu kamarnya saat tidur dan tidak pernah menutup tirainya agar cahaya bintang dapat masuk kedalam kamarnya digelapnya malam. Pikiran Miri melayang mengingat kenangan-kenangan masa kecilnya bersama Suho. Dulu Miri dan Suho kecil sangat senang merayakan hari spesial dalam hidup mereka di atas bianglala termasuk hari ulang tahun mereka. Ya itulah alasan Miri ingin mengajak Suho ke taman bermain pagi ini. tanpa disadari Miri mengembangkan senyum manisnya setiap kali mengingat masa kecilnya dengan Suho. Miri sangat tahu sifat sahabatnya ini, Suho yang sensitif dan sangat mudah menangis. Mungkin jika dibandingkan dengan Miri, Suho lebih banyak menangis.
Miri tahu Suho seringkali menangis ketika melihatnya sakit. Itulah mengapa Miri tak pernah memperlihatkan sakitnya didepan Suho. Miri tidak igin menjadi beban untuk Suho.  Walaupun begitu Suho tetaplah sahabat terbaiknya yang selalu berbaik hati dan selalu mengalah.
~Deg~
Tiba-tiba Miri merasa sulit bernapas, jantungnya berdebar cepat. Tapi Miri masih ingin disini, Miri masih ingin melihat Suho yang terkejut saat terbangun karena melihatnya ada tepat di sampingnya. Miri ingin melihat Suho tersenyum.
Miri berusaha mengatur napasnya yang mulai terasa semakin berat. Perlahan sakit di dadanya berkurang dan detak jantungnya mulai teratur.
“Suho mengapa kau belum juga bangun dari tidurmu?apa kau tidak ingin bermain denganku?”
Tak ada balasan sedikitpun dari Suho
“aku sangat ingin menaiki bianglala hari ini, mungkin untuk terakhir kalinya...” Miri menghela napas panjang
“semalam aku bermimpi buruk, dalam mimpi itu aku sedang asik bermain denganmu tapi tiba-tiba semua menjadi gelap dan aku tidak tahu aku berada dimana, selama ini aku tidak pernah takut gelap tapi kegelapan dalam mimpiku sungguh menyeramkan..sampai seseorang menghampiriku dan mengajakku pergi dari tempat itu” Miri diam sejenak
“kau tahu aku sangat takut inilah saatnya aku pergi, sejujurnya aku sangat takut untuk pergi”
Suho memalingkan tubuhnya jadi menghadap Miri,
~Deg~
Jantung Miri kembali terasa sakit, kali ini benar-benar sakit
“kalau sekarang saatnya aku pergi, aku harap kau tetap hidup bahagia..aku harap kau menemukan gadis baik hati yang memiliki senyum yang bersinar sepertimu..” ujar Miri dengan suara mulai bergetar menahan sakit di dadanya
“aku harap setelah aku pergi tidak ada lagi yang membuatmu menangis, jangan menangis, jangan menangis disaat aku tak lagi ada di samping mu..sam..pai..jum..pa..” Miri menangis menahan sakitnya
Saat itu juga Suho terbangun namun Miri sudah tidak ada disampingnya, Miri sudah pergi dari kamar itu.
Miri berjalan tegopoh menuju rumahnya. Miri terjatuh tepat disaat ia menekan tombol bel rumahnya. Ayah Miri yang membukakan pintu sangat terkejut melihat putrinya sudah terduduk di depan pintu sembari menahan rasa sakit di dadanya. Ayah dan ibu Miri segera membawa Miri pergi ke rumah sakit.
“Ayah..ibu..terimakasih sudah menjadi orang tua ku, Miri sangat bahagia bisa lahir sebagai putri dari ayah dan ibu, terimakasih..” kata-kata terakhir yang Miri katakan sebelum Miri tak sadarkan diri.
END



  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar