FOOLISH
‘aku seperti orang bodoh yang selalu menunggu mu, walau aku
tahu kau takkan pernah kembali. Ini merupakan tahun ke-3 aku menjalani
hari-hariku sendiri setelah kau pergi. Apa kabar mu disana?apa kau bahagia
disana?’
Rumah ini selalu terlihat sepi. Sunny sang pemilik memang
sangat sibuk, lebih tepatnya menyibukkan dirinya, sehingga ia jarang terlihat
berada di rumah. Setiap hari dipagi buta Sunny sudah pergi untuk bekerja dan
akan pulang larut malam. Hari libur Sunny akan lebih memilih pulang ke rumah
kedua orang tuanya dibandingkan berdiam diri dirumah. Sunny adalah wanita
berusia 27 tahun, pekerja keras, dan benci kesunyian.
“aku tahu ibu..sabtu nanti selesai bekerja aku segera pulang
ke rumah, oke?”
“kau ini!!sampai kapan kau terus bermanja-manja dengan ibumu
dimalam minggu, disaat wanita lain bersenang-senang dengan kekasihnya?”
“aku bukan remaja lagi ibu. Aku sudah tidak pantas berkencan
dimalam minggu...”
***
6 tahun yang lalu
Taman belakang rumah Sunny terlihat begitu indah hari ini.
Semua sudut dihiasi mawar putih dan tepat ditengah taman ini terdapat sebuah panggung kecil yang begitu indah dikelilingi mawar
putih dengan karpet merah yang menjulur dari pintu masuk taman. Taman belakang
rumah Sunny juga dipenuhi keluarga dan para kolega Sunny. Semua orang terlihat
bahagia dengan dibalut jas atau gaun berwarna putih. Tak terkecuali Sunny, jelas
saja hari ini adalah hari istimewanya. Hari ini adalah hari pernikahannya.
Setelah 1 tahun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, akhirnya seminggu
yang lalu Chen melamar Sunny tepat dihari ulang tahunnya.
Chen adalah lelaki asal negeri tirai bambu, Cina. Sunny
sebenarnya sudah mengenal Chen sejak mereka berada dalam kelas yang sama semasa
kuliah. Sunny memang gadis yang cerdas, saat kuliah ia mendapat beasiswa untuk
bersekolah disalah satu universitas ternama di Cina. Sunny dan Chen menjadi
teman sekelas hingga mereka lulus kuliah, bahkan mereka adalah teman dekat.
Sunny yang tinggal seorang diri di Cina hanya mempunyai Chen sebagai teman yang
dapat selalu ia andalkan. Begitupula dengan Chen yang selalu ingin melindungi
Sunny. Sifat Sunny yang selalu ceria, cerdas, dan mandiri membuat Chen jatuh
hati padanya. Selama 5 tahun mereka duduk dibangku kuliah, selama itu jugalah
Chen menyukai Sunny secara diam. Chen tidak pernah berani mengungkapkan
perasaannya, walaupun Sunny juga memiliki perasaan yang sama. Sunny sudah
sering kali mengatakan bahwa dirinya menyukai Chen, namun Chen tak pernah memiliki cukup keberanian untuk
mengatakan bahwa ia juga menyukai Sunny karena menyangka perasaan Sunny
hanyalah rasa kagum atau sayang pada seorang sahabat.
“besok setelah acara wisuda selesai aku segera kembali ke Seoul”
ujar Sunny
“mengapa begitu cepat?bukannkah kau ingin berkarir dan
tinggal disini?” Chen yang terkejut dengan perkataan Sunny. Selama ini Sunny
selalu bilang kalau ia jatuh cinta dengan keindahan Cina, ia sangat ingin bisa
tinggal disana.
“ya benar, tapi keadaan Ayah semakin memburuk. Aku harus
segera pulang untuk menjaga Ayah. Ibu pasti lelah menjaga Ayah seorang diri.
Kau kan tahu aku ini anak tunggal jadi hanya aku yang dapat mereka andalkan”
perjelas Sunny
5 bulan kemuian
“halo..ini siapa?”
“halo..ini aku Chen. Apa kau sedang sibuk?aku ada di Seoul,
bisakah kita bertemu?”
“ah Chen?aku sedang tidak sibuk. Baiklah kita bertemu
ditaman kota Seoul, aku segera kesana”
[taman]
“wow..baru 5 bulan aku tidak berjumpa denganmu dan sekarang
kau sudah sangat berubah. Kau semakin cantik Sunny”
“kau selalu saja sama. Chen yang selalu saja bisa membuatku
tersipu malu hahaha. Kau sedang apa di Seoul?apa kau datang karena
merindukanku?” selidik Sunny dengan memasang wajah usilnya
“karena aku mulai hari ini bekerja disini dan juga karena
disinilah cinta pertamaku tinggal” Chen menatap Sunny dalam.
“maksudmu?”
“ya, aku kesini untuk bertemu kembali dengan cinta
pertamaku. Ternyata sangat menyedihkan hidupku setelah gadis itu pergi”
Sunny menatap Chen penuh kebingungan. Chen memang sempat
bercerita tentang cinta pertamanya, namun Sunny tidak pernah tahu kalau gadis
‘cinta pertama’ Chen juga berasal dari daerah yang sama dengannya.
“ah jadi gadis itu juga orang Seoul, mengapa kau tidak
pernah menceritakanku tentang hal ini. siapa tahu ia adalah teman satu
sekolahku atau bisa saja ia itu tetanggaku” ujar Sunny
“aish..gadis ‘cinta
pertama’ ku itu kau Sunny!mengapa kau mengira ia adalah gadis lain” jawab Chen
kesal.
“gadis yang bisa membuatku selalu tertawa dan juga bisa
membuatku menangis ketika melihatnya sakit itu hanya kau. Kau adalah gadis
‘cinta pertama’ ku. aku yang bodoh dan pengecut karena tidak pernah berani
mengungkapkan perasaanku. Setelah kau pergi saat itu, aku menyesal tidak
menahanmu untuk sekedar mengungkapkan perasaanku ini, bahkan setelah 5 bulan
kau pergi aku baru berani mengungkapkan ini “
Sunny hanya terdiam mendengar semua pengakuan Chen. Ia tidak
pernah menyangka saat ini akan terjadi. Saat itu ketika Sunny mengatakan akan
kembali ke Seoul sebenarnya Sunny sangat berharap Chen akan menahannya dan
mengatakan bahwa ia menyukai Sunny. Sunny yang selalu yakin bahwa Chen menyukai
dirinya sama seperti dirinya menyukai Chen runtuh begitu saja ketika Chen tak
sedikitpun menahannya pergi kala itu. Sejak
hari itu hubungan mereka bukan lagi sepasang sahabat tetapi menjadi sapasang
kekasih.
Pesta pernikahan yang sangat indah. Sunny dan Chen menjadi
pasangan pengantin yang sangat bahagia. Seluruh keluarga dan tamu undangan juga
sangat menikmati pesta hari itu. Setelah hari itu kebahagiaan mereka sebagai
pasangan suami istri bahkan dapat membuat siapapun yang mengenal meraka merasa
iri. Pasangan yang sangat serasi dan romantis. Sunny memutuskan untuk menjadi
seorang ibu rumah tangga seutuhnya dan meninggalkan pekerjaannya. Setiap hari
Sunny dan Chen menghabiskan waktu mereka dengan bahagia. Walaupun kehidupan
mereka sama seperti pasangan suami istri kebanyakan, namun terlihat berbeda
karena cinta yang terpancar dari kedua mata mereka ketika menatap satu sama
lain. Setahun pertama pernikahan mereka dipenuhi kebahagiaan mereka berdua.
Memasak bersama, berbelanja bersama, dan menghabiskan waktu luang mereka bersama.
Tepat diawal tahun kedua pernikahan mereka kabar gembira mengahampiri kedua
pasangan ini. Sunny hamil. Mereka akan segera menjadi sepasang Ayah dan Ibu.
“sayang, kau harus menjaga kesehatanmu. Ingat sekarang kau
makan bukan hanya untuk dirimu tetapi juga untuk calon anak kita yang ada dalam
perutmu”
“tentu sayang, aku pasti akan menjaga bayi ku ini dengan
sekuat tenagaku. Oya..besok aku ingin mengunjungi rumah Yuri ”
“tapi besok aku bekerja, aku tidak bisa mengantarkanmu.
Bagaimana kalau hari minggu saja kita pergi bersama?”
“tenang saja besok aku bisa pergi sendiri, lagipula rumah
Yuri tak jauh dari rumah Ibu. Aku juga sudah bilang pada Ibu kalau besok
sepulang dari rumah Yuri aku akan mengunjunginya”
“sudahlah hari minggu saja, aku khawatir kau akan kelelahan”
“tidak akan, aku kuat sayang”
Keesokan hari
Sunny terlihat sangat bahagia. Hari ini ia mengunjungi Yuri
untuk melihat anak pertama Yuri. Sepulang dari rumah Yuri, tak sedetikpun Sunny
menghilangkan senyum diwajahnya. Sunny membayangkan anaknya nanti pasti akan
secantik anak Yuri atau bahkan lebih cantik. Ya terkahir kali ia memeriksakan
kandungannya dokter mengatakan bahwa anak yang tengah dikandungnya berjenis
kelamin perempuan. Rasa bahagia yang luar biasa karena kurang lebih 3 bulan
lagi hari-harinya akan dihiasi oleh tangisan dan tawa putri kecilnya dengan
Chen. Ditengah perjalanan menuju rumah ibunya, Sunny menyempatkan untuk
menghubungi Chen sekedar mengingatkannya untuk makan siang, namun tak ada
jawaban dari Chen. Mungkin Chen sedang sibuk pikirnya. Sedikit lagi sampai
dirumah ibunya, tepat diseberang jalan ini. Sunny yang masih asik dengan
lamunan tentang bayinya tak menyadari bahwa rambu untuk pejalan kaki sudah
beralih menjadi warna hijau. Sunny segera menyeberang sebelum rambu itu kembali
menjadi merah. Jalanan siang ini tak begitu ramai namun dari kejauhan tiba-tiba
terlihat sebuah motor yang melaju sangat kencang. Tepat disaat Sunny menyadari
ada yang salah dengan pengendara motor tersebut, tepat disaat itu pula motor
tersebut menghantam tubuh Sunny dan membuatnya terpental jauh ke tepi jalan. Sesaat
kemudian Sunny sudah dikerumuni orang-orang yang melihat kejadian itu. Sunny
tak sadarkan diri. Dilain tempat setelah selesai dari rapatnya Chen segera
melihat telepon genggamnya. Entah mengapa ia merasa sangat khawatir dengan
keadaan Sunny. Sebuah pesan dan panggilan tak terjawab terpampang dilayar telepon
genggamnya. Pesan dan panggilan dari Sunny. Chen segera menghubungi Sunny namun
tak ada jawaban. Chen kemudian menghubungi Yuri dan Ibu Sunny.
“halo, ibu ini aku Chen. Apakah Sunny sudah sampai dirumah?”
“halo, belum Chen. Ibu juga bingung mengapa Sunny lama
sekali sampai, padahal ini sudah satu jam setelah Sunny menghubungi ibu kalau ia
sudah hampir sampai. Ibu hubungi telepon genggamnya juga tak ada jawaban”
“aku juga sudah menghubungi Yuri, ia bilang Sunny sudah
pulang sekitar 2 jam yang lalu. Aku sudah mencoba menghubunginya tapi tak ada
jawaban darinya”. Ditengah percakapan Chen dengan Ibu Sunny, seorang karyawan
masuk kedalam ruangan Chen.
“bu nanti aku hubungi lagi yah, ada karyawanku yang datang.
Kalau Sunny sudah sampai tolong suruh ia menghubungiku bu”
“baiklah, kau jangan khawatir mungkin Sunny sedang mampir ke
toko bunga. Kau kan tahu istrimu itu penggila mawar putih”
“iya bu”
Karyawan yang masuk kedalam ruangan Chen barusan terlihat
begitu cemas. Tanganya yang menggenggam gagang telepon wireless itu terlihat gemetar.
“tuan..maaf, baru saja aku mendapat kabar dari rumah sakit
kalau istri anda mengalami kecelakaan. Istri anda belum juga sadarkan diri”
Chen dengan hati yang sangat cemas dan tubuh yang gemetar
setelah mendengar kabar tersebut bergegas ke rumah sakit. Chen menghubungi Ibu
Sunny ditengah perjalannya ke rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit Chen
segera menuju ruang UGD tempat Sunny berada. Tepat disaat Chen sampai, dokter
yang menangani Sunny keluar dari ruangan tersebut.
“dokter bagaimana keadaan istri saya?”
“istri anda tidak mengalami cidera serius, namun sayang
benturan yang keras diperutnya membuat bayi yang dikandungnya tidak dapat diselamatkan.
Maaf tuan.” Jelas dokter
Berita tersebut jelas membuat Chen sangat terpukul. Baru
saja Chen membayangkan senangnya menjadi seorang Ayah namun karena kecelakaan
ini ia harus kehilangan calon bayinya. Chen merasa bersalah karena membiarkan
Sunny pergi seorang diri hari ini. Terlihat Ibu Sunny yang berjalan
tergesa-gesa dari ujung lorong. Ibu Sunny sangat khawatir mendengar kabar ini
ditambah lagi melihat raut wajah Chen saat ini, pasti terjadi sesuatu pada
putri kesayangannya.
“Chen apa yang terjadi?bagaimana keadaan Sunny?” tanya Ibu
Sunny yang mulai menangis
“ibu..Sunny tidak mengalami cidera serius, tapi bayinya
bu..dokter tidak bisa menyelamatkan bayinya. Bagaimana aku harus mengatakan ini
pada Sunny bu?aku tidak tahu harus berkata apa..”
Siang itu langit menjadi mendung setelah berita tentang
angan-angan bayi cantik Sunny dan Chen harus pupus begitu saja. Tak berapa lama
hujan membasahi kota Seoul. Hujan yang tidak begitu lebat namun memilukan
seakan malaikat di langit menyambut kedatangan bayi mereka dan alam yang turut berduka atas kesedihan kedua pasangan
ini. Sunny siuman saat hujan baru saja berhenti. Ketika itu Chen yang lelah
menunggu Sunny sedang tertidur dibangku yang berada disamping ranjang Sunny.
wajahnya terlihat sangat lelah dan matanya begitu sembab karena cukup lama
menangis. Sunny yang melihat suaminya tertidur tak berani membangunkannya. Tak
berapa lama Ibu Sunny datang membawakan sebuket bunga mawar putih kesukaan
putrinya. Sunny segera memberikan isyarat kepada ibunya untuk tidak berisik
karena khawatir Chen akan terbangun dari tidurnya, namun gerakan tangan Sunny
justru tanpa sengaja mengenai Chen sehingga ia terbangun dari tidurnya. Rasa
senang kini menyelimuti hati Chen ketika melihat istrinya sudah siuman,
walaupun rasa sedih itu tetap mengiringi hatinya.
“Sayang kau sudah siuman, apa kau lapar atau haus?biar aku
ambilkan”
“ya, aku sangat haus. Aku seperti habis berlari seribu
kilometer jauhnya haha”
‘bagaimana aku harus mengatakannya?aku tidak akan sanggup
melihatnya menangis’ kata-kata ini yang sedari tadi berputar dalam pikiran
Chen. Hari sudah menjelang malam ketika dokter yang menangani Sunny masuk
kedalam kamarnya untuk memeriksa keadaan Sunny setelah siuman. Senyuman diwajah
Sunny segera menghilang dan berganti dengan isak tangis yang sangat menyedihkan
setelah dokter mengatakan kabar itu saat memeriksa keadaan Suny malam ini. Keadaan
Sunny baik bahkan esok hari ia sudah diijinkan untuk pulang kerumah namun kabar
buruk tentang bayi yang dikandungnya menjadi panah beracun bagi Sunny.
sepanjang malam Sunny hanya dapat menangisi kepergian bayinya. Chen hanya dapat
menenangkan Sunny dengan mengatakan bayinya sudah bahagia di surga. Chen
sendiri masih belum bisa menenerima kabar buruk ini, walau ia sudah bisa
menenangkan dirinya.
Hari berganti menjadi minggu dan minggu berganti menjadi
bulan. Sudah 3 bulan yang lalu kejadian itu berlalu namun masih menyisakkan
luka dihati kedua pasangan ini terutama Sunny. Walaupun terlihat sangat baik
namun Sunny tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya ketika melihat bayi
perempuan, bahkan terkadang Sunny meneteskan air matanya. ‘Kesedihan dimasa
lalu biarlah berlalu kini saatnya memulai hidup yang baru’, begitulah yang
sering Chen katakan untuk menguatkan hati istrinya. Chen dengan sekuat
tenaganya berusaha membawa Sunny dari kesedihannya. Chen selalu berada didekat
Sunny setelah ia keluar dari rumah sakit. Bulan pertama terasa sangat berat
bagi Chen karena harus melihat istrinya yang masih sering menangis bahkan
didalam tidurnya. Berbagai usaha Chen lakukan untuk membuat Sunny kembali
ceria. Buku adalah tempat Chen mengadu disaat ia merasa sangat lelah. Ia
menuliskan semua rasa lelahnya dalam sebuah buku. Ia menceritakan kesedihannya
dan kesedihan Sunny ketika harus kehilangan harapan mereka menjadi seorang ayah
dan ibu. Bulan kedua Sunny sudah dapat menjalani harinya seperti biasa,
walaupun seringkali Chen masih dibuat khawatir disaat Sunny tidak ada dirumah
sepulang Chen bekerja. Sunny masih sering mengunjungi pemakaman tempat bayinya
disemayamkan.
Bulan ketiga hidup mereka sudah kembali seperti biasanya. Chen
kembali disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk setelah 2 bulan ditangguhkan
karena harus menjaga Sunny. Sedangkan Sunny kini senang merawat bunga-bunga
dipekarangan rumahnya. Sebulan yang lalu Chen membuatkan sebuah rumah kaca
dihalaman belakang rumahnya. Ini merupakan saran dari salah seorang psikiater
teman Chen. Perasaan sedih Sunny perlahan dapat hilang dengan mengalihkan
pikirannya pada hal yang disukainya. Mawar putih, itulah yang terpikir dalam
benak Chen ketika itu sehingga ia membuatkan rumah kaca berisi mawar putih
kesukaan Sunny. Chen sangat senang karena saran itu benar-benar membantu Sunny
untuk kembali pulih seperti sediakala.
“halo, Sunny besok lusa jangan lupa dirumah akan ada doa
mengenang satu tahun Ayah meninggal, oke”
“baik bu, aku pasti pulang kerumah. Jaga diri Ibu baik-baik”
Ayah Sunny meninggal setahun yang lalu karena serangan
jantung saat ia sedang bekerja. Sama seperti Sunny saat kehilangan bayinya,
keadaan Ibu saat itu sangat menyedihkan. Ibu memilih menyendiri dikamar pada
beberapa bulan awal setelah kepergian Ayah. Walaupun begitu Ibu lebih kuat
daripada Sunny kala itu, dengan sendirinya Ibu bisa menerima kepergian Ayah dan
kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Kabar bahagia mengenai Sunny yang
tengah mengandung cucu pertamanya juga yang membuat Ibu sangat bersemangat
menjalani hari. Kehilangan calon cucunya kala itu juga menjadi pukulan
tersendiri bagi Ibu, namun ia harus kuat agar Sunny juga kuat menghadapinya.
Ibu selalu menemani Sunny dibulan-bulan depresinya. Setiap kali Chen pergi
bekerja, ibu dengan senang hati menemani Sunny dirumahnya. Ibu menjadi sosok
yang sangat kuat dan sangat berarti bagi Sunny. Ibu melindungi Sunny dan
berusaha sekuat tenaganya membuat Sunny pulih kembali. Walaupun begitu setiap
malam dikamarnya Ibu sering kali menangis, mengadu pada suaminya di surga
bercerita tentang putri tercinta mereka yang tengah depresi.
“Sayang aku akan ke rumah Ibu lebih dahulu karena aku harus
membantu menyiapkan makanan dan yang lainnya”
“baiklah, aku akan segera kerumah Ibu sepulang dari bekerja.
Kau hati-hati di jalan, oke?”
“iya sayang..kau juga hati-hati dijalan yah..”
Sudah seminggu ini Chen bekerja lembur, baru hari ini ia
bisa pulang cepat selain karena pekerjaannya yang sudah selesai juga karena
hari ini adalah hari peringatan setahun Ayah mertuanya meninggal. Kondisi
kesehatan Chen sedikit memburuk karena kurang tidur dan kelelahan. Hari ini
sepulang kerja ia menyempatkan membeli sebuket mawar putih untuk Sunny sebelum
pergi ke rumah Ibu. Toko bunga dekat rumah Ibu menjadi tempat yang ditujunya
setiap kali membelikan mawar putih untuk Sunny. Toko ini memang toko bunga
kesukaan Sunny, menurutnya bunga mawar di toko ini terlihat sangat indah, tentunya
setelah bunga-bunga mawar yang ada di rumah kaca di pekarangan rumahnya. Setelah
membeli bunga untuk Sunny, Chen bergegas ke rumah Ibu karena khawatir terlambat
menghadiri acara tersebut. Chen sedikit tergesa-gesa karena hari ini ia pulang
kerja dengan kendaraan umum. Chen meninggalkan mobilnya dikantor karena merasa
tubuhnya sedang tidak sehat. Jarak dari toko bunga dan rumah Ibu memang tidak
jauh hanya berjarak 2 blok, namun karena tidak ada kendaraan umum yang melewati
jalan ini maka Chen harus berjalan kaki. Chen yang terburu-buru tak sengaja
menjatuhkan buket bunga yang dibelinya saat ia tengah menyeberang jalan. Chen
yang menyadari hal itu menghentikan langkahnya dan memutuskan kembali untuk
mengambil buket bunga tersebut. Bertepatan dengan itu rambu penanda untuk
pejalan kaki sudah berubah menjadi merah. Tepat disaat Chen berlari untuk
menyebrang kembali disaat itu juga sebuah truk menghantam tubuhnya. Tubuh Chen
tergeletak ditengah jalan dengan berlumuran darah. Seketika itu Chen
menghambuskan nafas terakhirnya dengan menggenggam buket mawar putih untuk
Sunny. Chen meninggalkan Sunny tepat dihari yang sama Sunny harus kehilangan
Ayahnya dan tepat dijalan yang sama Sunny kehilangan bayinya karena kecelakaan.
Tak berapa lama banyak orang yang telah menggerumuni tubuh Chen. Salah satu
orang yang melihat kejadian itu adalah Yuri, sahabat Sunny dan Chen. Yuri juga
bertujuan untuk kerumah Sunny saat itu, namun saat akan menyeberang ia sempat
melihat kecelakaan yang menimpa Chen. Setelah mengetahui bahwa korban
kecelakaan tersebut adalah Chen, Yuri bergegas menuju rumah Sunny dan
memberitahukan kabar ini pada Sunny. Berita ini sontak membuat Sunny pingsan
tak sadarkan diri. Sunny segera dibawa kerumah sakit. Rumah sakit yang sama
dimana Chen dibawa.
“sunny sayang, kamu harus kuat..” ujar Ibu yang sedari tadi
tak henti mengusap rambut putrinya yang belum juga siuman. Belaian lembut
tangan Ibu tak lama mampu menyadarkan Sunny. seketika itu juga Sunny menanyakan
keadaan Chen. Ibu yang tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Sunny kalau
suaminya telah meninggal hanya dapat menangis. Sunny yang melihat Ibunya
menangis saat itu juga ikut menangis. Ia mengerti bahwa sesuatu yang buruk
pasti telah terjadi pada suaminya.
Kali ini Sunny tidak banyak menangis dibandingkan dengan
ketika ia kehilangan bayinya dulu. Sunny lebih memilih untuk menyendiri. Entah
apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Sunny tidak menangis namun juga tidak
tertawa. Seakan dirinya juga sudah tidak bernyawa. Ia tidak bisa lagi merasakan
hidupnya. Ia merasa Tuhan terlalu kejam padanya. Setelah pemakaman Chen, ia
menjadi Sunny yang berbeda dari sebelumnya. Sunny melampiaskan kemarahan dan
kesedihannya dengan mengurung diri dalam rumahnya, seorang diri. Ibu yang melihat
keadaan putrinya merasa sangat khawatir, baginya melihat Sunny menangis lebih
baik daripada melihat Sunny seperti saat ini. Sunny yang terlihat seperti mayat
hidup. Raganya hadir namun jiwa dan pikirannya entah berada dimana.
Kehilangan Chen, orang yang paling penting dalam hidupnya,
tentu menjadi pukulan keras bagi Sunny. Semua kenangannya bersama Chen selalu
terbayang dan nampak begitu nyata. Chen yang selalu menemaninya menonton acara
kesukaannya ditelevisi selelah apapun Chen sepulang dari kerjanya. Chen yang
selalu membawakan buket mawar putih setiap malam minggu tiba. Chen yang dengan
senang hati membantunya memasak disaat Sunny tidak enak badan. Senyum Chen yang
pertama kali ia lihat setiap kali ia membuka matanya dipagi hari. Chen yang
menjadi kekuatannya untuk bangkit kembali saat ia harus kehilangan bayinya.
Waktu cepat berlalu namun kesedihan karena kehilangan Chen
sulit untuk berlalu. Sunny masih belum bisa keluar dari rumahnya. Ia masih saja
mengurung dirinya dalam kesendiriannya. Setiap hari Ibu datang untuk melihat
keadaan dan membawakan makanan untuknya. Setiap Ibu datang dengan sangat berat
Sunny memasang senyumnya hanya untuk membuat Ibu tidak khawatir padanya, namun
setelah Ibu pergi Sunny akan kembali mengurung diri dalam kamarnya. Sehebat
apapun Sunny menyembunyikan kesedihannya itu, Ibu selalu tahu apa yang
sebenarnya dirasakan Sunny. Ibu tahu putri kesayangannya masih belum bisa
melepas kepergian suaminya.
“menangislah sayang..menangislah kalau ini semua terlalu
menyakitkan untukmu. Ibu tahu kau masih sangat sulit menerima kenyataan bahwa
kini Chen telah tiada, tapi kau harus tetap menjalani hidupmu” Ibu yang tak kuat menahan tangisnya kini mulai menangis
melihat Sunny yang hanya diam menatap kosong kursi yang biasa Chen duduki.
“kau adalah putri ibu yang hebat dan kuat. Ibu yakin kau
bisa melalui kesedihan ini. kau tahu, Ibu belajar banyak darimu. Ibu belajar
banyak tentang penerimaan yang tulus darimu. Kau harus kembali bangkit sama
seperti saat kau kehilangan bayimu. Kau harus bisa kembali tersenyum nak. Saat
ini Chen dan bayimu sudah bahagia di surga sana, oleh karena itu kau juga harus
hidup bahagia disini. Demi mereka sayang...demi orang-orang yang kau cintai,
demi Ayah, bayimu, dan juga demi Chen”. Sunny seketika itu menangis mendengar
semua yang dikatakan Ibunya. Ia memeluk Ibunya erat. Tangisan Sunny membuat
Ibunya merasa lega. Setidaknya dengan menangis Sunny menunjukkan bahwa ia sudah
mulai bisa menerima kenyataan. Kenyataan bahwa kehilangan Chen terlalu
menyakitkan baginya.
“kau kuat sayang!”
Sejak hari itu Sunny sudah mulai terlihat membaik. Sunny
sudah bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa. Seminggu kemudian Sunny memutuskan
untuk kembali bekerja. Alasannya tentu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan
ibunya. Walaupun sebenarnya bekerja adalah pengalihan dari kesedihannya.
Bekerja sepanjang hari, setiap minggu, dan sepanjang tahun. Sunny kini adalah
Sunny yang berbeda dari sebelumnya. Sunny yang gila bekerja dan benci
kesunyian. Baginya waktu luang akan mengingatkannya tentang Chen dan membuka
kembali luka dihatinya.
***
“ibu aku datang..”
“ya!kau ini sudah ibu bilang pergilah mencari pacar. Mengapa
masih saja pulang kerumah setiap akhir pekan tiba?”
Setiap akhir pekan Sunny akan memilih pulang ke rumah Ibu
untuk melarikan diri dari kesunyiannya. Sunny memang sudah terbiasa hidup
sendiri namun ia benci dengan kesunyian. Kepergian Chen baginya sekaligus
menutup pintu hatinya. Inilah yang membuat Ibu merasa khawatir kalau putrinya
tidak akan menikah lagi. Ibu khawatir jika harus meninggalkan Sunny seorang
diri nantinya.
“aish..anak ini benar-benar. sudah sana pergi keluar, jangan
kembali kerumah lagi setiap akhir pekan tiba!” omel Ibu yang melihat Sunny
masih saja nyaman dengan posisinya didepan layar televisi dengan sekotak es
krim ditangannya.
Keesokan hari
Hari ini Ibu berencana mempertemukan Sunny dengan seorang
anak dari temannya. Kim Jongin namanya. Sebenarnya Jongin bukanlah orang asing
lagi bagi Sunny. Jongin adalah tetangga dan teman bermain Sunny sewaktu kecil.
Mereka berpisah karena keluarga Jongin yang pindah ke Amerika saat mereka
berusia 7 tahun. Sunny mengira ini hanya reuni teman biasa, namun tidak untuk
Ibu yang berencana menjodohkan mereka. Kedua orang tua Jongin juga sudah setuju
dengan rencana perjodohan ini. Ibu Jongin dan Ibu Sunny bahkan sudah mengatur
rencana untuk kencan kedua anak mereka. Kencan pertama direncanakan hari ini
tepat dirumah Sunny. Ibu sengaja membuat pertemuan pertama mereka dirumahnya
agar terasa lebih akrab dan tidak akan membuat Sunny curiga. Sejauh ini semua rencana Ibu berjalan lancar.
Sunny dan Jongin sudah mulai akrab seperti masa kecil mereka. Taman dirumah
Sunny menjadi tempat yang mengakrabkan mereka karena disini cukup banyak
kenangan mereka bersama dulu. Taman yang juga menjadi saksi janji sucinya
dengan Chen dulu.
Hubungan Sunny dan Jongin berjalan baik, terhitung sudah
hampir satu tahun sejak Jongin kembali ke Seoul. Jongin yang tidak tahu tujuan
utama dari pertemuannya dengan Sunny perlahan mulai menyukai Sunny dengan
sendirinya. Sunny adalah wanita idamannya. Cerdas, dewasa, dan mandiri
membuatnya berbeda dari wanita lain yang dikenalnya. Hal ini tentunya menjadi
berita baik bagi Ibunya dan Ibu Sunny. Sunny juga terlihat dapat menerima kehadiran
Jongin dengan baik. Setiap kali bersama Jongin, Sunny dapat tertawa lepas
seperti saat ia bersama Chen dulu. Sunny juga merasa nyaman dengan keberadaan
Jongin saat ini dihidupnya. Namun baginya hubungannya dengan Jongin sekedar
hubungan antar teman kecil karena dihatinya hanya ada satu tempat yang sudah
terisi oleh Chen dan sulit untuk menggantinya.
Malam ini menjadi malam yang penting bagi Jongin karena
malam ini ia berencana untuk menyatakan perasaannya pada Sunny. Semua
perlengkapan berkaitan kejutannya untuk Sunny sudah ia siapkan dengan matang.
Sebuket mawar putih dari toko bunga dekat rumah Sunny dan kalung berbentuk hati
sudah dengan apik disiapkannya. Kini tinggal pelaksanaannya. Sepulang bekerja
Jongin segera menjemput Sunny dan mengajaknya pergi ke sebuah restoran Cina
kesukaan Sunny yang ada di pusat Kota Seoul. Restoran yang juga merupakan
restoran kesukaan Chen. Setelah mereka menyantap habis menu makanan yang
dipesan Jongin berencana menyatakkan perasaannya pada Sunny. Jongin berdiri dari
bangkunya dan berjalan menuju meja kasir. Dari kejauhan Jongin terlihat sedang
membawa sesuatu dibalik tubuhnya. Kemudian Jongin mulai memposisikan dirinya
berlutut dihadapan Sunny. Jongin mengeluarkan sebuket mawar putih dan kalung
hati dari balik punggungnya. Sunny ketika itu hanya bisa terdiam melihat semua
yang dilakukan Jongin. Semua ini terlihat persis seperti yang dilakukan Chen
dulu ketika akan melamar Sunny.
“Sunny maukah kau menikah denganku?”
Perlahan Sunny mulai menitikan air matanya. Semua yang
dilakukan Jongin mengingatkannya dengan Chen. Seketika itu juga semua
kenangannya dengan Chen kembali hadir, seperti kaset yang diputar secara
terus-menerus dalam otaknya. Tanpa sadar Sunny berlari meninggalkan Jongin
tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Jongin yang melihat itu segera berlari
mengejar Sunny. sedangkan Sunny tak sedikitpun menoleh ketika Jongin berteriak
memanggil namanya. Sunny terus berlari dengan air mata yang tak henti mengalir.
Sunny berlari kerumahnya. Kejadian yang baru saja terjadi seakan menarik
kembali Sunny kedalam kesedihannya. Sesampainya di rumah, Sunny mengurung
dirinya dalam kamar. Sepanjang malam ia terus menangis. Tangisan yang memilukan
hati siapapun yang mendengarnya. Termasuk Jongin yang sedari tadi mengikuti
Sunny hingga di rumahnya. Jongin merasa saat ini Sunny butuh sendiri. Ini bukan
saatnya menanyakan jawaban atas pertanyaannya tadi atau meminta penjelasan
mengapa Sunny menangis dan meninggalkannya begitu saja.
Hari sudah menjelang siang ketika Sunny terbangun dari
tidurnya. Semalam ia tertidur setelah lelah menangis melepas kerinduannya
terhadap Chen. Sunny dengan mata sembabnya untuk waktu yang cukup lama setelah
bangun dari tidurnya masih saja berdiam diri diatas kasurnya. Dalam hatinya
kini ia masih berharap semua ini adalah mimpi. Ia berharap ketika ia terbangun
nanti ia dapat melihat senyum Chen seperti biasanya. Seperti bom waktu yang tiba-tiba
meledak saat Sunny kembali sadar bahwa tidak ada lagi Chen disampingnya.
Sunny kini sedang duduk dikursi tempat Chen biasa bekerja.
Inilah kebiasaan Sunny saat ia merindukan Chen. Duduk berjam-jam dikursi ini.
Sebuah buka catatan milik Chen tiba-tiba saja terjatuh dari meja kerjanya.
Sunny dengan lemah mengambil buku itu. Ia membuka buku itu ketika melihat nama
Chen pada halaman depan buku itu. Halaman pertama buku itu bertuliskan gadis
‘cinta pertama’. Kata-kata ini mengingatkan kenangannya saat pertama kali Chen
datang menemuinya di taman kota.
Gadis ‘cinta
pertama’ku, Sunny
Akhirnya aku berhasil
mengumpulkan keberanianku mengatakan semua perasaanku.
Halaman-halaman berikutnya dari buku itu menceritakan
kehidupan Chen bersama Sunny. Semua kebahagiaan mereka mulai dari Chen yang
melamar Sunny dihari ulang tahunnya, hari pernikahan mereka, dan waktu-waktu
bahagia lain yang mereka lalui bersama. Chen juga menuliskan angan-angannya
ketika kabar bahagia bahwa Sunny sedang mengandung anaknya. Semua hal yang
ingin dilakukannya bersama anaknya kelak.
Begitupula dengan kesedihannya ketika Sunny mengalami kecelakaan dan
membuat mereka harus kehilangan bayi mereka. Semua tulisan dalam buku ini
adalah curahan hati Chen. Perlahan Sunny kembali menitikan air matanya,
walaupun rasanya air mata itu sudah kering karena menangis semalaman. Setiap
kata demi kata yang Chen tuliskan membuat Sunny merasa semakin kehilangan Chen.
Ia merasa selama ini tidak menjadi istri yang baik untuk Chen, karena
membiarkan Chen memanggul kesedihannya sendiri dan terus menyusahkan Chen.
Saat ini Chen hadir dan duduk disampingnya. Chen menatap
lembut wajah Sunny begitupula dengan Sunny. seakan mereka sedang melampiaskan
kerinduan yang mendalam. Chen kemudian membelai lembut rambut Sunny seperti
yang biasa dilakukannya dulu. Chen menghapus sisa tetesan air mata yang ada di
wajah Sunny. setelah itu Chen perlahan bangun dari tempatnya dan berjalan
menuju sebuah pintu. Kali ini Sunny benar-benar tidak ingin kehilangan Chen.
Sunny segera bangun dari tempatnya dan mengikuti langkah Chen menuju pintu itu.
Sebelum sampai dipintu itu, Chen berpaling menatap Sunny kemudian tersenyum. Tatapan
dan senyuman itu seperti isyarat perpisahan. Isyarat untuk Sunny agar tidak
lagi mengikutinya atau memikirkan Chen. Tak lama Chen melanjutkan langkahnya
dan menghilang dibalik pintu itu. Sunny dengan sekuat tenaga mencari Chen yang
menghilang begitu saja. Sunny kembali menangis karena tak juga menemukan Chen.
Tangisan itu membangunkan Sunny dari tidurnya. Ternyata sedari tadi Sunny masih
tertidur diranjangnya. Sesaat Sunny bangun, ia teringat akan buku catatan milik
Chen dalam mimpinya. Ia segera bangkit dari ranjangnya dan mencari buku itu di
meja kerja Chen. Buku catatan berwana cokelat tua milik Chen. Sunny segera
membaca buku itu, setiap kata yang ia baca persis sama dengan yang ada dalam
mimpinya. Tepat dihalaman terakhir buku ini Chen menuliskan kata-kata yang dulu
selalu diucapkannya ketika Sunny depresi karena kehilangan bayinya. Kata-kata
yang membuat Sunny dapat bangkit kembali dari keterpurukannya dulu.
‘Kesedihan dimasa lalu biarlah berlalu kini saatnya memulai
hidup yang baru’
Akhir dari halaman buku ini seakan memberitahukan Sunny
bagaimana dulu Chen dapat mengatasi semua kesedihannya. Akhir dari buku ini
juga menggambarkan akhir dari kesedihan Chen. Kesedihan dimasa lalu akan terus
mengekang jika tidak dibiarkan pergi. Itulah cara Chen mengatasi kesedihannya
dulu, membiarkan kesedihan itu pergi dan merelakan semua yang telah terjadi
sebagai penerimaan yang indah. Sama seperti dirinya dulu yang dapat menerima
kepergian bayinya, Chen juga ingin Sunny dapat menerima kepergian Chen kali ini
dan memulai kembali kehidupannya seperti biasa.
***
Tiga hari sejak malam saat Jongin mengutarakan perasaannya
tak ada kabar sedikitpun mengenai keadaan Sunny. Jongin juga belum berani
mendatangi rumah Sunny atau sekedar menanyakan kabarnya. Setelah pulang dari
rumah Sunny malam itu, Jongin hanya bisa menunggu Sunny memberikan kabar
padanya. Jongin juga tidak menceritakan kejadian malam itu pada Ibu Sunny.
Jongin takut Ibu Sunny khawatir dengan putrinya. Jongin tahu semua cerita masa
lalu Sunny, tentang depresi yang dialaminya karena harus kehilangan anak dan
suaminya. Oleh karena itu Jongin merasa Sunny sedang membutuhkan waktunya
sendiri.
Drrt..drrt.. telepon genggam Jongin bergetar, terpampang
nama Sunny dilayar telepon tersebut. Sebuah pesan dari Sunny. Pesan yang berisi
jawaban dari pertanyaan Jongin malam itu.
From : Sunny
Maafkan aku Jongin,
aku belum bisa menerimanya. Semua masih terlalu cepat untukku. Maaf juga aku
meninggalkanmu begitu saja malam itu dan tidak mengabari apapun padamu.
Jongin paham bahwa Sunny masih butuh waktu. Ia sadar semua yang
terjadi malam itu terlalu cepat dan mengejutkan untuk Sunny. Ia juga tidak
ingin memaksakan perasaannya. Bagaimanapun Sunny masih butuh waktu untuk
menggantikan posisi Chen dalam hidupnya.
To : Sunny
Aku paham dan bisa
menerimanya. Semua orang bahkan wonder woman sekalipun membutuhkan waktu untuk
pulih dari kesedihannya. Aku hanya butuh waktu lebih banyak untuk menunggumu
bukan? J
Bagaimana
kabarmu?
Satu bulan kemudian Sunny sudah kembali dapat melakukan
aktivitasnya seperti biasa. Perlahan namun pasti ia sudah bisa berdamai dengan
kesedihannya. Kini setiap akhir pekan tiba Sunny tidak lagi melarikan dirinya
dari kesunyian. Kini Sunny akan pergi bersama teman-temannya saat akhir pekan
tiba dan sesekali mengunjungi Ibunya. Sunny sudah kembali seperti dirinya yang
dulu, jauh sebelum depresinya karena kehilangan Chen. Hubungannya dengan Jongin
juga semakin dekat. Sikap Jongin yang dapat memahaminya kala itu membuat Sunny
melihat Jongin berbeda. Walaupun Sunny masih belum memikirkan untuk menerima
‘ajakan’ Jongin kala itu, namun perlahan ia sudah bisa membuka hati untuk
Jongin.
-END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar