Senin, 16 Februari 2015

- FOOLISH - CHEN EXO FANFICTION

FOOLISH
‘aku seperti orang bodoh yang selalu menunggu mu, walau aku tahu kau takkan pernah kembali. Ini merupakan tahun ke-3 aku menjalani hari-hariku sendiri setelah kau pergi. Apa kabar mu disana?apa kau bahagia disana?’
Rumah ini selalu terlihat sepi. Sunny sang pemilik memang sangat sibuk, lebih tepatnya menyibukkan dirinya, sehingga ia jarang terlihat berada di rumah. Setiap hari dipagi buta Sunny sudah pergi untuk bekerja dan akan pulang larut malam. Hari libur Sunny akan lebih memilih pulang ke rumah kedua orang tuanya dibandingkan berdiam diri dirumah. Sunny adalah wanita berusia 27 tahun, pekerja keras, dan benci kesunyian.
“aku tahu ibu..sabtu nanti selesai bekerja aku segera pulang ke rumah, oke?”
“kau ini!!sampai kapan kau terus bermanja-manja dengan ibumu dimalam minggu, disaat wanita lain bersenang-senang dengan kekasihnya?”
“aku bukan remaja lagi ibu. Aku sudah tidak pantas berkencan dimalam minggu...”   
***
6 tahun yang lalu
Taman belakang rumah Sunny terlihat begitu indah hari ini. Semua sudut dihiasi mawar putih dan tepat ditengah taman ini terdapat sebuah  panggung kecil yang begitu indah dikelilingi mawar putih dengan karpet merah yang menjulur dari pintu masuk taman. Taman belakang rumah Sunny juga dipenuhi keluarga dan para kolega Sunny. Semua orang terlihat bahagia dengan dibalut jas atau gaun berwarna putih. Tak terkecuali Sunny, jelas saja hari ini adalah hari istimewanya. Hari ini adalah hari pernikahannya. Setelah 1 tahun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, akhirnya seminggu yang lalu Chen melamar Sunny tepat dihari ulang tahunnya.
Chen adalah lelaki asal negeri tirai bambu, Cina. Sunny sebenarnya sudah mengenal Chen sejak mereka berada dalam kelas yang sama semasa kuliah. Sunny memang gadis yang cerdas, saat kuliah ia mendapat beasiswa untuk bersekolah disalah satu universitas ternama di Cina. Sunny dan Chen menjadi teman sekelas hingga mereka lulus kuliah, bahkan mereka adalah teman dekat. Sunny yang tinggal seorang diri di Cina hanya mempunyai Chen sebagai teman yang dapat selalu ia andalkan. Begitupula dengan Chen yang selalu ingin melindungi Sunny. Sifat Sunny yang selalu ceria, cerdas, dan mandiri membuat Chen jatuh hati padanya. Selama 5 tahun mereka duduk dibangku kuliah, selama itu jugalah Chen menyukai Sunny secara diam. Chen tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya, walaupun Sunny juga memiliki perasaan yang sama. Sunny sudah sering kali mengatakan bahwa dirinya menyukai Chen, namun Chen  tak pernah memiliki cukup keberanian untuk mengatakan bahwa ia juga menyukai Sunny karena menyangka perasaan Sunny hanyalah rasa kagum atau sayang pada seorang sahabat.
“besok setelah acara wisuda selesai aku segera kembali ke Seoul” ujar Sunny
“mengapa begitu cepat?bukannkah kau ingin berkarir dan tinggal disini?” Chen yang terkejut dengan perkataan Sunny. Selama ini Sunny selalu bilang kalau ia jatuh cinta dengan keindahan Cina, ia sangat ingin bisa tinggal disana.
“ya benar, tapi keadaan Ayah semakin memburuk. Aku harus segera pulang untuk menjaga Ayah. Ibu pasti lelah menjaga Ayah seorang diri. Kau kan tahu aku ini anak tunggal jadi hanya aku yang dapat mereka andalkan” perjelas Sunny
5 bulan kemuian
“halo..ini siapa?”
“halo..ini aku Chen. Apa kau sedang sibuk?aku ada di Seoul, bisakah kita bertemu?”
“ah Chen?aku sedang tidak sibuk. Baiklah kita bertemu ditaman kota Seoul, aku segera kesana”
[taman]
“wow..baru 5 bulan aku tidak berjumpa denganmu dan sekarang kau sudah sangat berubah. Kau semakin cantik Sunny”
“kau selalu saja sama. Chen yang selalu saja bisa membuatku tersipu malu hahaha. Kau sedang apa di Seoul?apa kau datang karena merindukanku?” selidik Sunny dengan memasang wajah usilnya
“karena aku mulai hari ini bekerja disini dan juga karena disinilah cinta pertamaku tinggal” Chen menatap Sunny dalam.
“maksudmu?”
“ya, aku kesini untuk bertemu kembali dengan cinta pertamaku. Ternyata sangat menyedihkan hidupku setelah gadis itu pergi”
Sunny menatap Chen penuh kebingungan. Chen memang sempat bercerita tentang cinta pertamanya, namun Sunny tidak pernah tahu kalau gadis ‘cinta pertama’ Chen juga berasal dari daerah yang sama dengannya.
“ah jadi gadis itu juga orang Seoul, mengapa kau tidak pernah menceritakanku tentang hal ini. siapa tahu ia adalah teman satu sekolahku atau bisa saja ia itu tetanggaku” ujar Sunny
 “aish..gadis ‘cinta pertama’ ku itu kau Sunny!mengapa kau mengira ia adalah gadis lain” jawab Chen kesal.
“gadis yang bisa membuatku selalu tertawa dan juga bisa membuatku menangis ketika melihatnya sakit itu hanya kau. Kau adalah gadis ‘cinta pertama’ ku. aku yang bodoh dan pengecut karena tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku. Setelah kau pergi saat itu, aku menyesal tidak menahanmu untuk sekedar mengungkapkan perasaanku ini, bahkan setelah 5 bulan kau pergi aku baru berani mengungkapkan ini “
Sunny hanya terdiam mendengar semua pengakuan Chen. Ia tidak pernah menyangka saat ini akan terjadi. Saat itu ketika Sunny mengatakan akan kembali ke Seoul sebenarnya Sunny sangat berharap Chen akan menahannya dan mengatakan bahwa ia menyukai Sunny. Sunny yang selalu yakin bahwa Chen menyukai dirinya sama seperti dirinya menyukai Chen runtuh begitu saja ketika Chen tak sedikitpun menahannya pergi kala itu.  Sejak hari itu hubungan mereka bukan lagi sepasang sahabat tetapi menjadi sapasang kekasih.
Pesta pernikahan yang sangat indah. Sunny dan Chen menjadi pasangan pengantin yang sangat bahagia. Seluruh keluarga dan tamu undangan juga sangat menikmati pesta hari itu. Setelah hari itu kebahagiaan mereka sebagai pasangan suami istri bahkan dapat membuat siapapun yang mengenal meraka merasa iri. Pasangan yang sangat serasi dan romantis. Sunny memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga seutuhnya dan meninggalkan pekerjaannya. Setiap hari Sunny dan Chen menghabiskan waktu mereka dengan bahagia. Walaupun kehidupan mereka sama seperti pasangan suami istri kebanyakan, namun terlihat berbeda karena cinta yang terpancar dari kedua mata mereka ketika menatap satu sama lain. Setahun pertama pernikahan mereka dipenuhi kebahagiaan mereka berdua. Memasak bersama, berbelanja bersama, dan menghabiskan waktu luang mereka bersama. Tepat diawal tahun kedua pernikahan mereka kabar gembira mengahampiri kedua pasangan ini. Sunny hamil. Mereka akan segera menjadi sepasang Ayah dan Ibu.
“sayang, kau harus menjaga kesehatanmu. Ingat sekarang kau makan bukan hanya untuk dirimu tetapi juga untuk calon anak kita yang ada dalam perutmu”
“tentu sayang, aku pasti akan menjaga bayi ku ini dengan sekuat tenagaku. Oya..besok aku ingin mengunjungi rumah Yuri ”
“tapi besok aku bekerja, aku tidak bisa mengantarkanmu. Bagaimana kalau hari minggu saja kita pergi bersama?”
“tenang saja besok aku bisa pergi sendiri, lagipula rumah Yuri tak jauh dari rumah Ibu. Aku juga sudah bilang pada Ibu kalau besok sepulang dari rumah Yuri aku akan mengunjunginya”
“sudahlah hari minggu saja, aku khawatir kau akan kelelahan”
“tidak akan, aku kuat sayang”
Keesokan hari
Sunny terlihat sangat bahagia. Hari ini ia mengunjungi Yuri untuk melihat anak pertama Yuri. Sepulang dari rumah Yuri, tak sedetikpun Sunny menghilangkan senyum diwajahnya. Sunny membayangkan anaknya nanti pasti akan secantik anak Yuri atau bahkan lebih cantik. Ya terkahir kali ia memeriksakan kandungannya dokter mengatakan bahwa anak yang tengah dikandungnya berjenis kelamin perempuan. Rasa bahagia yang luar biasa karena kurang lebih 3 bulan lagi hari-harinya akan dihiasi oleh tangisan dan tawa putri kecilnya dengan Chen. Ditengah perjalanan menuju rumah ibunya, Sunny menyempatkan untuk menghubungi Chen sekedar mengingatkannya untuk makan siang, namun tak ada jawaban dari Chen. Mungkin Chen sedang sibuk pikirnya. Sedikit lagi sampai dirumah ibunya, tepat diseberang jalan ini. Sunny yang masih asik dengan lamunan tentang bayinya tak menyadari bahwa rambu untuk pejalan kaki sudah beralih menjadi warna hijau. Sunny segera menyeberang sebelum rambu itu kembali menjadi merah. Jalanan siang ini tak begitu ramai namun dari kejauhan tiba-tiba terlihat sebuah motor yang melaju sangat kencang. Tepat disaat Sunny menyadari ada yang salah dengan pengendara motor tersebut, tepat disaat itu pula motor tersebut menghantam tubuh Sunny dan membuatnya terpental jauh ke tepi jalan. Sesaat kemudian Sunny sudah dikerumuni orang-orang yang melihat kejadian itu. Sunny tak sadarkan diri. Dilain tempat setelah selesai dari rapatnya Chen segera melihat telepon genggamnya. Entah mengapa ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Sunny. Sebuah pesan dan panggilan tak terjawab terpampang dilayar telepon genggamnya. Pesan dan panggilan dari Sunny. Chen segera menghubungi Sunny namun tak ada jawaban. Chen kemudian menghubungi Yuri dan Ibu Sunny.
“halo, ibu ini aku Chen. Apakah Sunny sudah sampai dirumah?”
“halo, belum Chen. Ibu juga bingung mengapa Sunny lama sekali sampai, padahal ini sudah satu jam setelah Sunny menghubungi ibu kalau ia sudah hampir sampai. Ibu hubungi telepon genggamnya juga tak ada jawaban”
“aku juga sudah menghubungi Yuri, ia bilang Sunny sudah pulang sekitar 2 jam yang lalu. Aku sudah mencoba menghubunginya tapi tak ada jawaban darinya”. Ditengah percakapan Chen dengan Ibu Sunny, seorang karyawan masuk kedalam ruangan Chen.
“bu nanti aku hubungi lagi yah, ada karyawanku yang datang. Kalau Sunny sudah sampai tolong suruh ia menghubungiku bu”
“baiklah, kau jangan khawatir mungkin Sunny sedang mampir ke toko bunga. Kau kan tahu istrimu itu penggila mawar putih”
“iya bu”
Karyawan yang masuk kedalam ruangan Chen barusan terlihat begitu cemas. Tanganya yang menggenggam gagang telepon wireless itu terlihat gemetar.
“tuan..maaf, baru saja aku mendapat kabar dari rumah sakit kalau istri anda mengalami kecelakaan. Istri anda belum juga sadarkan diri”
Chen dengan hati yang sangat cemas dan tubuh yang gemetar setelah mendengar kabar tersebut bergegas ke rumah sakit. Chen menghubungi Ibu Sunny ditengah perjalannya ke rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit Chen segera menuju ruang UGD tempat Sunny berada. Tepat disaat Chen sampai, dokter yang menangani Sunny keluar dari ruangan tersebut.
“dokter bagaimana keadaan istri saya?”
“istri anda tidak mengalami cidera serius, namun sayang benturan yang keras diperutnya membuat bayi yang dikandungnya tidak dapat diselamatkan. Maaf tuan.” Jelas dokter
Berita tersebut jelas membuat Chen sangat terpukul. Baru saja Chen membayangkan senangnya menjadi seorang Ayah namun karena kecelakaan ini ia harus kehilangan calon bayinya. Chen merasa bersalah karena membiarkan Sunny pergi seorang diri hari ini. Terlihat Ibu Sunny yang berjalan tergesa-gesa dari ujung lorong. Ibu Sunny sangat khawatir mendengar kabar ini ditambah lagi melihat raut wajah Chen saat ini, pasti terjadi sesuatu pada putri kesayangannya.
“Chen apa yang terjadi?bagaimana keadaan Sunny?” tanya Ibu Sunny yang mulai menangis
“ibu..Sunny tidak mengalami cidera serius, tapi bayinya bu..dokter tidak bisa menyelamatkan bayinya. Bagaimana aku harus mengatakan ini pada Sunny bu?aku tidak tahu harus berkata apa..”
Siang itu langit menjadi mendung setelah berita tentang angan-angan bayi cantik Sunny dan Chen harus pupus begitu saja. Tak berapa lama hujan membasahi kota Seoul. Hujan yang tidak begitu lebat namun memilukan seakan malaikat di langit menyambut kedatangan bayi mereka dan alam yang  turut berduka atas kesedihan kedua pasangan ini. Sunny siuman saat hujan baru saja berhenti. Ketika itu Chen yang lelah menunggu Sunny sedang tertidur dibangku yang berada disamping ranjang Sunny. wajahnya terlihat sangat lelah dan matanya begitu sembab karena cukup lama menangis. Sunny yang melihat suaminya tertidur tak berani membangunkannya. Tak berapa lama Ibu Sunny datang membawakan sebuket bunga mawar putih kesukaan putrinya. Sunny segera memberikan isyarat kepada ibunya untuk tidak berisik karena khawatir Chen akan terbangun dari tidurnya, namun gerakan tangan Sunny justru tanpa sengaja mengenai Chen sehingga ia terbangun dari tidurnya. Rasa senang kini menyelimuti hati Chen ketika melihat istrinya sudah siuman, walaupun rasa sedih itu tetap mengiringi hatinya.
“Sayang kau sudah siuman, apa kau lapar atau haus?biar aku ambilkan”
“ya, aku sangat haus. Aku seperti habis berlari seribu kilometer jauhnya haha”
‘bagaimana aku harus mengatakannya?aku tidak akan sanggup melihatnya menangis’ kata-kata ini yang sedari tadi berputar dalam pikiran Chen. Hari sudah menjelang malam ketika dokter yang menangani Sunny masuk kedalam kamarnya untuk memeriksa keadaan Sunny setelah siuman. Senyuman diwajah Sunny segera menghilang dan berganti dengan isak tangis yang sangat menyedihkan setelah dokter mengatakan kabar itu saat memeriksa keadaan Suny malam ini. Keadaan Sunny baik bahkan esok hari ia sudah diijinkan untuk pulang kerumah namun kabar buruk tentang bayi yang dikandungnya menjadi panah beracun bagi Sunny. sepanjang malam Sunny hanya dapat menangisi kepergian bayinya. Chen hanya dapat menenangkan Sunny dengan mengatakan bayinya sudah bahagia di surga. Chen sendiri masih belum bisa menenerima kabar buruk ini, walau ia sudah bisa menenangkan dirinya.
Hari berganti menjadi minggu dan minggu berganti menjadi bulan. Sudah 3 bulan yang lalu kejadian itu berlalu namun masih menyisakkan luka dihati kedua pasangan ini terutama Sunny. Walaupun terlihat sangat baik namun Sunny tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya ketika melihat bayi perempuan, bahkan terkadang Sunny meneteskan air matanya. ‘Kesedihan dimasa lalu biarlah berlalu kini saatnya memulai hidup yang baru’, begitulah yang sering Chen katakan untuk menguatkan hati istrinya. Chen dengan sekuat tenaganya berusaha membawa Sunny dari kesedihannya. Chen selalu berada didekat Sunny setelah ia keluar dari rumah sakit. Bulan pertama terasa sangat berat bagi Chen karena harus melihat istrinya yang masih sering menangis bahkan didalam tidurnya. Berbagai usaha Chen lakukan untuk membuat Sunny kembali ceria. Buku adalah tempat Chen mengadu disaat ia merasa sangat lelah. Ia menuliskan semua rasa lelahnya dalam sebuah buku. Ia menceritakan kesedihannya dan kesedihan Sunny ketika harus kehilangan harapan mereka menjadi seorang ayah dan ibu. Bulan kedua Sunny sudah dapat menjalani harinya seperti biasa, walaupun seringkali Chen masih dibuat khawatir disaat Sunny tidak ada dirumah sepulang Chen bekerja. Sunny masih sering mengunjungi pemakaman tempat bayinya disemayamkan.
Bulan ketiga hidup mereka sudah kembali seperti biasanya. Chen kembali disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk setelah 2 bulan ditangguhkan karena harus menjaga Sunny. Sedangkan Sunny kini senang merawat bunga-bunga dipekarangan rumahnya. Sebulan yang lalu Chen membuatkan sebuah rumah kaca dihalaman belakang rumahnya. Ini merupakan saran dari salah seorang psikiater teman Chen. Perasaan sedih Sunny perlahan dapat hilang dengan mengalihkan pikirannya pada hal yang disukainya. Mawar putih, itulah yang terpikir dalam benak Chen ketika itu sehingga ia membuatkan rumah kaca berisi mawar putih kesukaan Sunny. Chen sangat senang karena saran itu benar-benar membantu Sunny untuk kembali pulih seperti sediakala.
“halo, Sunny besok lusa jangan lupa dirumah akan ada doa mengenang satu tahun Ayah meninggal, oke”
“baik bu, aku pasti pulang kerumah. Jaga diri Ibu baik-baik”
Ayah Sunny meninggal setahun yang lalu karena serangan jantung saat ia sedang bekerja. Sama seperti Sunny saat kehilangan bayinya, keadaan Ibu saat itu sangat menyedihkan. Ibu memilih menyendiri dikamar pada beberapa bulan awal setelah kepergian Ayah. Walaupun begitu Ibu lebih kuat daripada Sunny kala itu, dengan sendirinya Ibu bisa menerima kepergian Ayah dan kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Kabar bahagia mengenai Sunny yang tengah mengandung cucu pertamanya juga yang membuat Ibu sangat bersemangat menjalani hari. Kehilangan calon cucunya kala itu juga menjadi pukulan tersendiri bagi Ibu, namun ia harus kuat agar Sunny juga kuat menghadapinya. Ibu selalu menemani Sunny dibulan-bulan depresinya. Setiap kali Chen pergi bekerja, ibu dengan senang hati menemani Sunny dirumahnya. Ibu menjadi sosok yang sangat kuat dan sangat berarti bagi Sunny. Ibu melindungi Sunny dan berusaha sekuat tenaganya membuat Sunny pulih kembali. Walaupun begitu setiap malam dikamarnya Ibu sering kali menangis, mengadu pada suaminya di surga bercerita tentang putri tercinta mereka yang tengah depresi.
“Sayang aku akan ke rumah Ibu lebih dahulu karena aku harus membantu menyiapkan makanan dan yang lainnya”
“baiklah, aku akan segera kerumah Ibu sepulang dari bekerja. Kau hati-hati di jalan, oke?”
“iya sayang..kau juga hati-hati dijalan yah..”
Sudah seminggu ini Chen bekerja lembur, baru hari ini ia bisa pulang cepat selain karena pekerjaannya yang sudah selesai juga karena hari ini adalah hari peringatan setahun Ayah mertuanya meninggal. Kondisi kesehatan Chen sedikit memburuk karena kurang tidur dan kelelahan. Hari ini sepulang kerja ia menyempatkan membeli sebuket mawar putih untuk Sunny sebelum pergi ke rumah Ibu. Toko bunga dekat rumah Ibu menjadi tempat yang ditujunya setiap kali membelikan mawar putih untuk Sunny. Toko ini memang toko bunga kesukaan Sunny, menurutnya bunga mawar di toko ini terlihat sangat indah, tentunya setelah bunga-bunga mawar yang ada di rumah kaca di pekarangan rumahnya. Setelah membeli bunga untuk Sunny, Chen bergegas ke rumah Ibu karena khawatir terlambat menghadiri acara tersebut. Chen sedikit tergesa-gesa karena hari ini ia pulang kerja dengan kendaraan umum. Chen meninggalkan mobilnya dikantor karena merasa tubuhnya sedang tidak sehat. Jarak dari toko bunga dan rumah Ibu memang tidak jauh hanya berjarak 2 blok, namun karena tidak ada kendaraan umum yang melewati jalan ini maka Chen harus berjalan kaki. Chen yang terburu-buru tak sengaja menjatuhkan buket bunga yang dibelinya saat ia tengah menyeberang jalan. Chen yang menyadari hal itu menghentikan langkahnya dan memutuskan kembali untuk mengambil buket bunga tersebut. Bertepatan dengan itu rambu penanda untuk pejalan kaki sudah berubah menjadi merah. Tepat disaat Chen berlari untuk menyebrang kembali disaat itu juga sebuah truk menghantam tubuhnya. Tubuh Chen tergeletak ditengah jalan dengan berlumuran darah. Seketika itu Chen menghambuskan nafas terakhirnya dengan menggenggam buket mawar putih untuk Sunny. Chen meninggalkan Sunny tepat dihari yang sama Sunny harus kehilangan Ayahnya dan tepat dijalan yang sama Sunny kehilangan bayinya karena kecelakaan. Tak berapa lama banyak orang yang telah menggerumuni tubuh Chen. Salah satu orang yang melihat kejadian itu adalah Yuri, sahabat Sunny dan Chen. Yuri juga bertujuan untuk kerumah Sunny saat itu, namun saat akan menyeberang ia sempat melihat kecelakaan yang menimpa Chen. Setelah mengetahui bahwa korban kecelakaan tersebut adalah Chen, Yuri bergegas menuju rumah Sunny dan memberitahukan kabar ini pada Sunny. Berita ini sontak membuat Sunny pingsan tak sadarkan diri. Sunny segera dibawa kerumah sakit. Rumah sakit yang sama dimana Chen dibawa.
“sunny sayang, kamu harus kuat..” ujar Ibu yang sedari tadi tak henti mengusap rambut putrinya yang belum juga siuman. Belaian lembut tangan Ibu tak lama mampu menyadarkan Sunny. seketika itu juga Sunny menanyakan keadaan Chen. Ibu yang tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Sunny kalau suaminya telah meninggal hanya dapat menangis. Sunny yang melihat Ibunya menangis saat itu juga ikut menangis. Ia mengerti bahwa sesuatu yang buruk pasti telah terjadi pada suaminya.
Kali ini Sunny tidak banyak menangis dibandingkan dengan ketika ia kehilangan bayinya dulu. Sunny lebih memilih untuk menyendiri. Entah apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Sunny tidak menangis namun juga tidak tertawa. Seakan dirinya juga sudah tidak bernyawa. Ia tidak bisa lagi merasakan hidupnya. Ia merasa Tuhan terlalu kejam padanya. Setelah pemakaman Chen, ia menjadi Sunny yang berbeda dari sebelumnya. Sunny melampiaskan kemarahan dan kesedihannya dengan mengurung diri dalam rumahnya, seorang diri. Ibu yang melihat keadaan putrinya merasa sangat khawatir, baginya melihat Sunny menangis lebih baik daripada melihat Sunny seperti saat ini. Sunny yang terlihat seperti mayat hidup. Raganya hadir namun jiwa dan pikirannya entah berada dimana.
Kehilangan Chen, orang yang paling penting dalam hidupnya, tentu menjadi pukulan keras bagi Sunny. Semua kenangannya bersama Chen selalu terbayang dan nampak begitu nyata. Chen yang selalu menemaninya menonton acara kesukaannya ditelevisi selelah apapun Chen sepulang dari kerjanya. Chen yang selalu membawakan buket mawar putih setiap malam minggu tiba. Chen yang dengan senang hati membantunya memasak disaat Sunny tidak enak badan. Senyum Chen yang pertama kali ia lihat setiap kali ia membuka matanya dipagi hari. Chen yang menjadi kekuatannya untuk bangkit kembali saat ia harus kehilangan bayinya.
Waktu cepat berlalu namun kesedihan karena kehilangan Chen sulit untuk berlalu. Sunny masih belum bisa keluar dari rumahnya. Ia masih saja mengurung dirinya dalam kesendiriannya. Setiap hari Ibu datang untuk melihat keadaan dan membawakan makanan untuknya. Setiap Ibu datang dengan sangat berat Sunny memasang senyumnya hanya untuk membuat Ibu tidak khawatir padanya, namun setelah Ibu pergi Sunny akan kembali mengurung diri dalam kamarnya. Sehebat apapun Sunny menyembunyikan kesedihannya itu, Ibu selalu tahu apa yang sebenarnya dirasakan Sunny. Ibu tahu putri kesayangannya masih belum bisa melepas kepergian suaminya.
“menangislah sayang..menangislah kalau ini semua terlalu menyakitkan untukmu. Ibu tahu kau masih sangat sulit menerima kenyataan bahwa kini Chen telah tiada, tapi kau harus tetap menjalani hidupmu” Ibu yang  tak kuat menahan tangisnya kini mulai menangis melihat Sunny yang hanya diam menatap kosong kursi yang biasa Chen duduki.
“kau adalah putri ibu yang hebat dan kuat. Ibu yakin kau bisa melalui kesedihan ini. kau tahu, Ibu belajar banyak darimu. Ibu belajar banyak tentang penerimaan yang tulus darimu. Kau harus kembali bangkit sama seperti saat kau kehilangan bayimu. Kau harus bisa kembali tersenyum nak. Saat ini Chen dan bayimu sudah bahagia di surga sana, oleh karena itu kau juga harus hidup bahagia disini. Demi mereka sayang...demi orang-orang yang kau cintai, demi Ayah, bayimu, dan juga demi Chen”. Sunny seketika itu menangis mendengar semua yang dikatakan Ibunya. Ia memeluk Ibunya erat. Tangisan Sunny membuat Ibunya merasa lega. Setidaknya dengan menangis Sunny menunjukkan bahwa ia sudah mulai bisa menerima kenyataan. Kenyataan bahwa kehilangan Chen terlalu menyakitkan baginya.
“kau kuat sayang!”
Sejak hari itu Sunny sudah mulai terlihat membaik. Sunny sudah bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa. Seminggu kemudian Sunny memutuskan untuk kembali bekerja. Alasannya tentu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan ibunya. Walaupun sebenarnya bekerja adalah pengalihan dari kesedihannya. Bekerja sepanjang hari, setiap minggu, dan sepanjang tahun. Sunny kini adalah Sunny yang berbeda dari sebelumnya. Sunny yang gila bekerja dan benci kesunyian. Baginya waktu luang akan mengingatkannya tentang Chen dan membuka kembali luka dihatinya.
***
“ibu aku datang..”
“ya!kau ini sudah ibu bilang pergilah mencari pacar. Mengapa masih saja pulang kerumah setiap akhir pekan tiba?”
Setiap akhir pekan Sunny akan memilih pulang ke rumah Ibu untuk melarikan diri dari kesunyiannya. Sunny memang sudah terbiasa hidup sendiri namun ia benci dengan kesunyian. Kepergian Chen baginya sekaligus menutup pintu hatinya. Inilah yang membuat Ibu merasa khawatir kalau putrinya tidak akan menikah lagi. Ibu khawatir jika harus meninggalkan Sunny seorang diri nantinya.
“aish..anak ini benar-benar. sudah sana pergi keluar, jangan kembali kerumah lagi setiap akhir pekan tiba!” omel Ibu yang melihat Sunny masih saja nyaman dengan posisinya didepan layar televisi dengan sekotak es krim ditangannya.
Keesokan hari
Hari ini Ibu berencana mempertemukan Sunny dengan seorang anak dari temannya. Kim Jongin namanya. Sebenarnya Jongin bukanlah orang asing lagi bagi Sunny. Jongin adalah tetangga dan teman bermain Sunny sewaktu kecil. Mereka berpisah karena keluarga Jongin yang pindah ke Amerika saat mereka berusia 7 tahun. Sunny mengira ini hanya reuni teman biasa, namun tidak untuk Ibu yang berencana menjodohkan mereka. Kedua orang tua Jongin juga sudah setuju dengan rencana perjodohan ini. Ibu Jongin dan Ibu Sunny bahkan sudah mengatur rencana untuk kencan kedua anak mereka. Kencan pertama direncanakan hari ini tepat dirumah Sunny. Ibu sengaja membuat pertemuan pertama mereka dirumahnya agar terasa lebih akrab dan tidak akan membuat Sunny curiga.  Sejauh ini semua rencana Ibu berjalan lancar. Sunny dan Jongin sudah mulai akrab seperti masa kecil mereka. Taman dirumah Sunny menjadi tempat yang mengakrabkan mereka karena disini cukup banyak kenangan mereka bersama dulu. Taman yang juga menjadi saksi janji sucinya dengan Chen dulu.
Hubungan Sunny dan Jongin berjalan baik, terhitung sudah hampir satu tahun sejak Jongin kembali ke Seoul. Jongin yang tidak tahu tujuan utama dari pertemuannya dengan Sunny perlahan mulai menyukai Sunny dengan sendirinya. Sunny adalah wanita idamannya. Cerdas, dewasa, dan mandiri membuatnya berbeda dari wanita lain yang dikenalnya. Hal ini tentunya menjadi berita baik bagi Ibunya dan Ibu Sunny. Sunny juga terlihat dapat menerima kehadiran Jongin dengan baik. Setiap kali bersama Jongin, Sunny dapat tertawa lepas seperti saat ia bersama Chen dulu. Sunny juga merasa nyaman dengan keberadaan Jongin saat ini dihidupnya. Namun baginya hubungannya dengan Jongin sekedar hubungan antar teman kecil karena dihatinya hanya ada satu tempat yang sudah terisi oleh Chen dan sulit untuk menggantinya.
Malam ini menjadi malam yang penting bagi Jongin karena malam ini ia berencana untuk menyatakan perasaannya pada Sunny. Semua perlengkapan berkaitan kejutannya untuk Sunny sudah ia siapkan dengan matang. Sebuket mawar putih dari toko bunga dekat rumah Sunny dan kalung berbentuk hati sudah dengan apik disiapkannya. Kini tinggal pelaksanaannya. Sepulang bekerja Jongin segera menjemput Sunny dan mengajaknya pergi ke sebuah restoran Cina kesukaan Sunny yang ada di pusat Kota Seoul. Restoran yang juga merupakan restoran kesukaan Chen. Setelah mereka menyantap habis menu makanan yang dipesan Jongin berencana menyatakkan perasaannya pada Sunny. Jongin berdiri dari bangkunya dan berjalan menuju meja kasir. Dari kejauhan Jongin terlihat sedang membawa sesuatu dibalik tubuhnya. Kemudian Jongin mulai memposisikan dirinya berlutut dihadapan Sunny. Jongin mengeluarkan sebuket mawar putih dan kalung hati dari balik punggungnya. Sunny ketika itu hanya bisa terdiam melihat semua yang dilakukan Jongin. Semua ini terlihat persis seperti yang dilakukan Chen dulu ketika akan melamar Sunny.
“Sunny maukah kau menikah denganku?”
Perlahan Sunny mulai menitikan air matanya. Semua yang dilakukan Jongin mengingatkannya dengan Chen. Seketika itu juga semua kenangannya dengan Chen kembali hadir, seperti kaset yang diputar secara terus-menerus dalam otaknya. Tanpa sadar Sunny berlari meninggalkan Jongin tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Jongin yang melihat itu segera berlari mengejar Sunny. sedangkan Sunny tak sedikitpun menoleh ketika Jongin berteriak memanggil namanya. Sunny terus berlari dengan air mata yang tak henti mengalir. Sunny berlari kerumahnya. Kejadian yang baru saja terjadi seakan menarik kembali Sunny kedalam kesedihannya. Sesampainya di rumah, Sunny mengurung dirinya dalam kamar. Sepanjang malam ia terus menangis. Tangisan yang memilukan hati siapapun yang mendengarnya. Termasuk Jongin yang sedari tadi mengikuti Sunny hingga di rumahnya. Jongin merasa saat ini Sunny butuh sendiri. Ini bukan saatnya menanyakan jawaban atas pertanyaannya tadi atau meminta penjelasan mengapa Sunny menangis dan meninggalkannya begitu saja.
Hari sudah menjelang siang ketika Sunny terbangun dari tidurnya. Semalam ia tertidur setelah lelah menangis melepas kerinduannya terhadap Chen. Sunny dengan mata sembabnya untuk waktu yang cukup lama setelah bangun dari tidurnya masih saja berdiam diri diatas kasurnya. Dalam hatinya kini ia masih berharap semua ini adalah mimpi. Ia berharap ketika ia terbangun nanti ia dapat melihat senyum Chen seperti biasanya. Seperti bom waktu yang tiba-tiba meledak saat Sunny kembali sadar bahwa tidak ada lagi Chen disampingnya.
Sunny kini sedang duduk dikursi tempat Chen biasa bekerja. Inilah kebiasaan Sunny saat ia merindukan Chen. Duduk berjam-jam dikursi ini. Sebuah buka catatan milik Chen tiba-tiba saja terjatuh dari meja kerjanya. Sunny dengan lemah mengambil buku itu. Ia membuka buku itu ketika melihat nama Chen pada halaman depan buku itu. Halaman pertama buku itu bertuliskan gadis ‘cinta pertama’. Kata-kata ini mengingatkan kenangannya saat pertama kali Chen datang menemuinya di taman kota.
Gadis ‘cinta pertama’ku, Sunny
Akhirnya aku berhasil mengumpulkan keberanianku mengatakan semua perasaanku.
Halaman-halaman berikutnya dari buku itu menceritakan kehidupan Chen bersama Sunny. Semua kebahagiaan mereka mulai dari Chen yang melamar Sunny dihari ulang tahunnya, hari pernikahan mereka, dan waktu-waktu bahagia lain yang mereka lalui bersama. Chen juga menuliskan angan-angannya ketika kabar bahagia bahwa Sunny sedang mengandung anaknya. Semua hal yang ingin dilakukannya bersama anaknya kelak.  Begitupula dengan kesedihannya ketika Sunny mengalami kecelakaan dan membuat mereka harus kehilangan bayi mereka. Semua tulisan dalam buku ini adalah curahan hati Chen. Perlahan Sunny kembali menitikan air matanya, walaupun rasanya air mata itu sudah kering karena menangis semalaman. Setiap kata demi kata yang Chen tuliskan membuat Sunny merasa semakin kehilangan Chen. Ia merasa selama ini tidak menjadi istri yang baik untuk Chen, karena membiarkan Chen memanggul kesedihannya sendiri dan terus menyusahkan Chen.
Saat ini Chen hadir dan duduk disampingnya. Chen menatap lembut wajah Sunny begitupula dengan Sunny. seakan mereka sedang melampiaskan kerinduan yang mendalam. Chen kemudian membelai lembut rambut Sunny seperti yang biasa dilakukannya dulu. Chen menghapus sisa tetesan air mata yang ada di wajah Sunny. setelah itu Chen perlahan bangun dari tempatnya dan berjalan menuju sebuah pintu. Kali ini Sunny benar-benar tidak ingin kehilangan Chen. Sunny segera bangun dari tempatnya dan mengikuti langkah Chen menuju pintu itu. Sebelum sampai dipintu itu, Chen berpaling menatap Sunny kemudian tersenyum. Tatapan dan senyuman itu seperti isyarat perpisahan. Isyarat untuk Sunny agar tidak lagi mengikutinya atau memikirkan Chen. Tak lama Chen melanjutkan langkahnya dan menghilang dibalik pintu itu. Sunny dengan sekuat tenaga mencari Chen yang menghilang begitu saja. Sunny kembali menangis karena tak juga menemukan Chen. Tangisan itu membangunkan Sunny dari tidurnya. Ternyata sedari tadi Sunny masih tertidur diranjangnya. Sesaat Sunny bangun, ia teringat akan buku catatan milik Chen dalam mimpinya. Ia segera bangkit dari ranjangnya dan mencari buku itu di meja kerja Chen. Buku catatan berwana cokelat tua milik Chen. Sunny segera membaca buku itu, setiap kata yang ia baca persis sama dengan yang ada dalam mimpinya. Tepat dihalaman terakhir buku ini Chen menuliskan kata-kata yang dulu selalu diucapkannya ketika Sunny depresi karena kehilangan bayinya. Kata-kata yang membuat Sunny dapat bangkit kembali dari keterpurukannya dulu.
‘Kesedihan dimasa lalu biarlah berlalu kini saatnya memulai hidup yang baru’
Akhir dari halaman buku ini seakan memberitahukan Sunny bagaimana dulu Chen dapat mengatasi semua kesedihannya. Akhir dari buku ini juga menggambarkan akhir dari kesedihan Chen. Kesedihan dimasa lalu akan terus mengekang jika tidak dibiarkan pergi. Itulah cara Chen mengatasi kesedihannya dulu, membiarkan kesedihan itu pergi dan merelakan semua yang telah terjadi sebagai penerimaan yang indah. Sama seperti dirinya dulu yang dapat menerima kepergian bayinya, Chen juga ingin Sunny dapat menerima kepergian Chen kali ini dan memulai kembali kehidupannya seperti biasa.
***
Tiga hari sejak malam saat Jongin mengutarakan perasaannya tak ada kabar sedikitpun mengenai keadaan Sunny. Jongin juga belum berani mendatangi rumah Sunny atau sekedar menanyakan kabarnya. Setelah pulang dari rumah Sunny malam itu, Jongin hanya bisa menunggu Sunny memberikan kabar padanya. Jongin juga tidak menceritakan kejadian malam itu pada Ibu Sunny. Jongin takut Ibu Sunny khawatir dengan putrinya. Jongin tahu semua cerita masa lalu Sunny, tentang depresi yang dialaminya karena harus kehilangan anak dan suaminya. Oleh karena itu Jongin merasa Sunny sedang membutuhkan waktunya sendiri.
Drrt..drrt.. telepon genggam Jongin bergetar, terpampang nama Sunny dilayar telepon tersebut. Sebuah pesan dari Sunny. Pesan yang berisi jawaban dari pertanyaan Jongin malam itu.
From : Sunny
Maafkan aku Jongin, aku belum bisa menerimanya. Semua masih terlalu cepat untukku. Maaf juga aku meninggalkanmu begitu saja malam itu dan tidak mengabari apapun padamu.
Jongin paham bahwa Sunny masih butuh waktu. Ia sadar semua yang terjadi malam itu terlalu cepat dan mengejutkan untuk Sunny. Ia juga tidak ingin memaksakan perasaannya. Bagaimanapun Sunny masih butuh waktu untuk menggantikan posisi Chen dalam hidupnya.
To : Sunny
Aku paham dan bisa menerimanya. Semua orang bahkan wonder woman sekalipun membutuhkan waktu untuk pulih dari kesedihannya. Aku hanya butuh waktu lebih banyak untuk menunggumu bukan? J
Bagaimana kabarmu?    
Satu bulan kemudian Sunny sudah kembali dapat melakukan aktivitasnya seperti biasa. Perlahan namun pasti ia sudah bisa berdamai dengan kesedihannya. Kini setiap akhir pekan tiba Sunny tidak lagi melarikan dirinya dari kesunyian. Kini Sunny akan pergi bersama teman-temannya saat akhir pekan tiba dan sesekali mengunjungi Ibunya. Sunny sudah kembali seperti dirinya yang dulu, jauh sebelum depresinya karena kehilangan Chen. Hubungannya dengan Jongin juga semakin dekat. Sikap Jongin yang dapat memahaminya kala itu membuat Sunny melihat Jongin berbeda. Walaupun Sunny masih belum memikirkan untuk menerima ‘ajakan’ Jongin kala itu, namun perlahan ia sudah bisa membuka hati untuk Jongin.
  
-END-
               

  

      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar