Senin, 16 Februari 2015

OUR STORY - CHANYOEL EXO FANFICTION

OUR STORY
"apa yang harus aku lakukan?bahkan hanya untuk menatapnya saat ini aku tidak berani, apalagi untuk menyatakan perasaan ku..", malam ini Chanyoel sudah memutuskan untuk mengutarakan isi hatinya pada Hyo Rin noona. Makan malam ditempat romantis seperti ini dengan pemandangan kota Seoul dari ketinggian sudah disiapkannya dari jauh hari agar semua berjalan sempurna.
***
Hyo Rin adalah wanita cantik yang sangat baik dan lembut hatinya. Sayangnya kehidupan tidak pernah berbaik hati padanya. Sejak kecil Hyo Rin sudah menjadi yatim piatu karna ayah ibu nya meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Hyo Rin kecil kemudian hidup bersama bibi yang sudah bekerja di rumahnya sejak Hyo Rin dilahirkan, bibi Ma namanya. Hyo Rin hidup sederhana dan tumbuh menjadi gadis yang ceria juga pintar. Ia gadis yang berbakat, pemain tenis andalan di sekolahnya. Sejak 3 tahun lalu saat ia masih duduk ditingkat akhir sekolah menengahnya, ia sudah mulai bekerja paruh waktu di sebuah toko roti untuk membantu bibi Ma yang semakin memburuk keadaanya karna sakit yang dideritanya. Hyo Rin selalu bekerja keras, ia berjanji setelah lulus sekolah ia akan membahagiakan bibi Ma. Namun takdir berkata lain, beberapa bulan menjelang Hyo Rin lulus dari bangku sekolahnya bibi Ma meninggalkan Hyo Rin untuk selamanya. Kali ini Hyo Rin benar-benar terpuruk karena satu-satunya orang yang dimiliki dalam hidupnya sudah meninggalkannya seorang diri. Hari itu Hyo Rin yang sangat sedih memutuskan untuk menyendiri di lorong dekat gudang di belakang sekolah karena hanya ini satu-satunya tempat yang jarang di datangi siswa atau lainnya.
Hari itu juga menjadi hari pertemuan Hyo Rin dengan Chanyoel. Chanyoel adalah junior Hyo Rin di sekolah dan klub tenis. Chanyoel memiliki kehidupan 180 derajat berbeda dengan Hyo Rin, ia berasal dari keluarga terpandang. Hidup yang berkecukupan bukan berarti hidupnya sempurna.  Chanyoel sudah lama mengagumi Hyo Rin, tapi entah mengapa Hyo Rin tak pernah sekalipun melihat ke arahnya. Saat itu Chanyoel pergi ke gudang sekolah untuk menaruh peralatan olahraga yang sudah tidak terpakai. Tanpa sengaja ia melihat Hyo Rin yang tertunduk menangis tersedu-sedu di lorong dekat gudang itu. Saat itu hanya ada mereka berdua. Karena khawatir ia memutuskan untuk menghampiri Hyo Rin untuk menanyakan keadaannya. Walaupun ia harus berperang dengan batinnya yang tidak pernah berani menatap Hyo Rin. Ya mungkin inilah alasan Hyo Rin tidak pernah melihat Chanyoel apalagi menyadari keberadaannya.
"ini untuk menghapus air mata noona" ia mengulurkan sapu tangannya kearah Hyo Rin dengan suara dan tangan yang sedikit bergetar. Hyo Rin hanya terdiam menahan tangisnya dan tidak sedikit pun memperlihatkan wajahnya. Chanyoel memutuskan untuk bergegas pergi setelah Hyo Rin menerima sapu tangan itu, ia pikir keberadaannya juga bisa mengganggu Hyo Rin yang terlihat ingin sendiri.
Sejak hari itu Hyo Rin terlihat murung bahkan beberapa kali Chanyoel memergoki Hyo Rin dengan mata sembabnya. Chayoel yang tidak tahan melihat noona yang dicintainya terus menerus murung akhirnya mencoba mendekati Hyo Rin. Suatu hari Chanyoel menghampiri Hyo Rin yang kala itu sedang mengumpulkan bola tenis selepas latihan selesai sebagai hukuman untuk Hyo Rin yang tidak fokus saat latihan padahal seminggu lagi turnamen tenis antar sekolah akan diselenggarakan. "noona apa kau baik-baik saja?" sapa Chanyoel sembari mengulurkan bola tenis yang dipungutnya. "omo.." Hyo Rin yang melamun sedari tadi terkejut mendengar suara Chanyoel lalu menoleh ke arah datangnya suara. "aku baik-baik saja" jawabnya. "akhir-akhir ini aku seringkali melihat mu  murung, saat itu aku juga melihat mu menangis di dekat gudang sekolah..apa kau ingat dengan ku noona?"
"iya, aku ingat. Hari itu bibi ku meninggal dunia" Hyo Rin menundukkan kepalanya, ia terlihat sedang menahan tangisnya namun rasa rindunya terhadap bibi Ma lebih kuat dari tembok pertahanan di matanya. Air mata itu jatuh begitu saja. Chanyoel yang melihat Hyo Rin menangis tak mengerti harus berbuat apa. Ia menuntun Hyo Rin untuk duduk dan menenangkan hati nya. Sore itu Hyo Rin banyak bercerita tentang hidupnya kepada Chanyoel. Setidaknya dengan bercerita beban di hati Hyo Rin berkurang. Semenjak hari itu Hyo Rin dan Chanyoel menjadi dekat. Chanyoel yang periang dan dikenal sebagai 'happy virus' tentu saja dengan mudah membuat Hyo Rin tersenyum kembali setiap kali ia merasa lelah dengan hidupnya. Tingkah laku Chanyoel yang konyol dan kekanak-kanakan juga membuat Hyo Rin merasa nyaman di dekatnya. Sedangkan Chanyoel yang semakin hari semakin mengenal Hyo Rin dan tahu cerita hidupnya yang menyedihkan membuat rasa sayangnya semakin besar. Ia selalu ingin melindungi Hyo Rin noona dan membuatnya selalu tertawa. Mereka selalu bersama saat disekolah ataupun saat latihan tenis. Setelah lulus sekolah Hyo Rin memutuskan untuk bekerja sedangkan Chanyoel yang lulus satu tahun setelah Hyo Rin melanjutkan kuliah di Universitas Seoul. Sudah tiga tahun mereka bersama, menjalani setiap momen suka dan duka bersama namun hingga kini Chanyoel belum juga berani menyatakan perasaannya itu pada Hyo Rin. 
***
Hari ini adalah hari ulang tahun Hyo Rin noona, Chanyoel memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya tepat malam ini ketika mereka makan malam bersama. Sejak seminggu yang lalu Chanyoel mempersiapkan ini semua, makan malam tepat di atas Namsan Tower dengan pemandangan kota Seoul di malam hari dan sebuah kalung dengan bandul hati yang didalamnya terdapat fotonya dan Hyo Rin.
Semua berjalan lancar, Hyo Rin terlihat begitu senang. Hanya satu yang menjadi masalah dari awal mereka makan malam bersama. Chanyoel yang sangat gugup malam ini ditambah lagi melihat Hyo Rin yang terlihat begitu menawan dengan gaun selutut berwarna hitamnya. Karena terlalu gugup Chanyoel sering menunjukkan ekspresi bodohnya yang justru membuat Hyo Rin tertawa. Tiba saatnya Chanyoel mengutarakan perasaannya, dengan sekuat tenaga ia memberanikan diri untuk menggenggam tangan Hyo Rin dan dengan suara yang sedikit bergetar ia mengutarakan perasaannya selama ini. "noona..telah lama aku mengagumi mu, bahkan sebelum kau mengenal ku..aku sering memperhatikan noona sejak pertama kali aku masuk klub tenis. Setiap kali aku melihat kau yang begitu bersemangat saat bertanding atau melihat senyum mu, aku merasa bahagia. Ketika kau sakit dan menangis, aku juga merasakan sakit yang sama. Itulah mengapa aku selalu ingin di dekat mu, selalu ingin melindungi mu. Aku selalu ingin membuat mu tersenyum, walaupun terkadang aku justru berbuat hal bodoh. Aku mencintaimu noona"
Hyo Rin sangat terkejut dengan sikap Chanyoel yang berbeda dari biasanya, cenderung aneh. Tatapan Chanyoel yang begitu tegas saat mengutarakan perasaannya ini pasti bukanlah lelucon. Chanyoel memang gemar mengeluarkan lelucon tapi ini berbeda, "sungguhkah ini benar adanya?Chanyoel menyukaiku lebih dari sekedar kakak nya?" batin Hyo Rin. Tiba-tiba Chanyoel berdiri dan melangkah mendekati Hyo Rin lalu berlutut di hadapan Hyo Rin. "kau pasti bingung dengan sikapku saat ini kan noona?aku sudah lama ingin mengatakan ini tapi aku sungguh tidak mempunyai keberanian bahkan untuk sekedar menatap noona.." Chanyoel mengeluarkan sebuah kalung hati dari kantung celananya lalu memberikannya pada Hyo Rin. "kalau noona menerima persaan ku, noona bisa mengenakan kalung ini namun kalau tidak ambilah dan buang kalung ini" sulit dipercaya malam itu akhirnya Chanyoel berhasil mengumpulkan keberaniannya   , bukanlah hal yang rumit bagi Hyo Rin untuk menjawab perasaan Chayoel padanya karena sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama. Chayoel yang selalu berbuat bodoh dihadapannya dan selalu berhasil membuatnya tertawa.
 "aku tidak akan mengenakan kalung itu" ujar Hyo Rin yang membuat Chanyoel menundukkan kepalanya, "apa kau mau memakaikan kalung itu untukku?". Malam ini diakhiri dengan melihat pesta kembang api di atas Namsan tower dengan senyum keduanya yang terus mengembang.
Hari demi hari mereka lalui bersama. Tidak ada yang berubah dari kehidupan mereka. Hanya saja ketika bersama mereka dapat saling menguatkan disaat cobaan datang. Suka duka mereka lalui dengan canda tawa. Mereka saling memiliki satu sama lain.
***
Lagi-lagi hidup berlaku tidak adil pada Hyo Rin, disaat ia merasakan hidup yang sebenarnya dengan kehadiran Chanyoel, satu-satunya orang yang ia punya saat ini. Sayang kisah hidup dua mahluk Tuhan ini tidaklah sejalan, tidak berjodoh. Sebelas bulan hubungan itu berjalan bahagia hingga akhirnya masalah menghampiri mereka. Hari ini Chanyoel memiliki janji dengan Hyo Rin di taman kota. Sepulang kerja Hyo Rin segera bergegas pergi ke taman dengan tidak lupa membawakan roti kesukaan Chanyoel. Ini memang sudah menjadi rutinitas mereka untuk jalan bersama setiap akhir pekan tiba, kali ini taman kota menjadi tujuan mereka karena pekan ini sedang diselenggarakan festival musim semi.
Hyo Rin sudah tiba ditaman lebih dahulu dari Chanyoel. Tidak lama dari kejauhan terlihat Chanyoel yang ternyata tidak datang sendirian. Ia bersama seorang pria yang sangat berbeda dari segi penampilan dengannya. Chanyoel dengan kaos, celana jeans, dan sepatu sport andalannya sedangkan teman disamping nya berpenampilan sangat dewasa dengan setelan jas berwarna abu.
"noona!!"teriak Chanyoel dari kejauhan dengan wajah riangnya dan berlari kecil seperti biasa. "kau sudah lama menunggu ku?" tanyanya pada Hyo Rin
"ehm tidak" jawab Hyo Rin dengan senyum manis tersungging di wajahnya
"noona perkenalkan ini hyung ku dari Amerika yang pernah ku ceritakan, ia baru saja dipindah tugas kan ke Korea"
"perkenalkan nama ku Jongdae" Pria itu mengulurkan tangannya yang disambut baik oleh Hyo Rin
Tidak berapa lama Jongdae pamit undur diri, ya ia memang hanya mengantarkan Chanyoel namun karena Chanyoel yang memaksa untuk memperkenalkannya pada Hyo Rin membuat Jongdae yang sejak kecil sulit menolak permintaan Chanyoel harus menuruti permintaan adiknya itu. Jongdae dan Chanyoel adalah saudara dari ibu yang berbeda. Ayah Jongdae menikah lagi dengan ibu Chanyoel saat Jongdae berusia 1 tahun. Ibu Jongdae meninggal ketika melahirkannya. Walaupun Jongdae tahu semua kenyataan tentang keluarganya tak mengurangi rasa sayangnya pada Chanyoel. Usia mereka memang tidak terpaut jauh namun sifat Jongdae sangat jauh dewasa dibandingkan Chanyoel, mungkin karna Jongdae sudah terbiasa hidup sendiri sejak ia memutuskan untuk bersekolah di Amerika. Jongdae juga sangat pintar, berprestasi dalam pendidikannya, membuatnya lebih cepat lulus dari sekolahnya. Kini Jongdae bekerja di sebuah perusahaan berskala internasional yang bergerak di bidang properti. Walaupun baru bekerja 6 bulan ia sudah diberikan kepercayaan besar untuk mengurus salah satu anak perusahaan tersebut yang ada di Korea.
"hyung ku sangat tampan bukan?tentu saja..lihat saja adiknya" tanya Chanyoel dengan wajah sombongnya
Chanyoel dan Hyo Rin berjalan mengelilingi taman dan melihat-lihat jejeran tenda festival musim semi. Udara yang segar dan suasana yang sangat meriah dengan pemandangan berbagai bunga musim semi yang indah membuat Hyo Rin sangat bahagia. Apalagi saat ini ia sedang bersama orang yang paling disayanginya. Setiap momen indah yang mereka lewati semakin meyakinkan Hyo Rin untuk terus ada disamping Chanyoel. Ia ingin dapat selalu bersama sampai akhir usia. Begitupun dengan Chanyoel.
***
Minggu ini adalah minggu yang sangat melelahkan untuk Jongdae, tugasnya sebagai penanggung jawab baru di perusahaan itu membuat waktu luang nya sedikit bahkan waktu untuk makan siangnya berkurang. Siang ini Jongdae memutuskan untuk membeli beberapa roti sebagai santapan makan siangnya. Sebelum pergi ke tempat pertemuan nya dengan koleganya, Jongdae mampir di sebuah toko roti dekat kantornya.
"selamat siang..kka..kau?" Hyo Rin yang cukup terkejut melihat Jongdae, "oh kau kan Jongdae, kaka nya Chanyoel?"
Jongdae yang tidak kalah terkejut ketika melihat pelayan toko roti yang melayaninya ternyata adalah kekasih dari adiknya. "iya, kau Hyo Rin bukan?kau bekerja disini?" tanya Jongdae dengan raut tidak percaya. Jongdae memang memiliki jalan pikiran yang lebih dewasa dari teman seusianya namun sikap ini justru membuatnya bersikap idealis, baginya semua harus sesuai, begitu pula dalam cinta. Keluarga Jongdae dan Chanyoel memang tergolong keluarga kaya raya, Ayah mereka adalah seorang ilmuwan dan tokoh penting di universitas Seoul selagi hidupnya. Hal ini yang membuat Jongdae menjadi sangat pemilih dalam mencari pasangan, bahkan baginya hal ini berlaku juga untuk Chanyoel, adiknya. Chanyoel selama ini memang belum menceritakan latar belakang Hyo Rin padanya. Jongdae juga tidak pernah berpikir kalau Chanyoel akan tertarik pada wanita yang dianggapnya tidak sederajat dengannya.  Sejak siang itu Jongdae menyuruh orang untuk menyelidiki latar belakang Hyo Rin dan keluarganya.
Jongdae kini tahu segala hal tentang Hyo Rin. Hal ini yang membuat Jongdae mulai berusaha menjauhi adiknya dari gadis ini, menurutnya Hyo Rin bukanlah gadis yang cocok untuk disandingkan dengan Chanyoel. Suatu hari dikediaman Jondae dan Chanyoel. Hari itu adalah akhir pekan, kali itu Jongdae tidak berangkat ke kantor untuk bekerja.
"bagaimana kalau hari ini kita pergi berlibur?berhubung akhir pekan ini aku tidak ada agenda diluar, kita juga belum pernah keluar bersama setelah aku datang kembali ke Korea bukan?" ajak Jongdae saat mereka sarapan pagi bersama
"wah benar hyung..sepertinya asik" belum sempat membicarakannya lebih lanjut Chanyoel teringat sesuatu, "ah hyung maaf aku baru ingat, aku sudah ada janji dengan Hyo Rin noona"
"aa begitu, oya mengenai Hyo Rin, kau belum menceritakan latar belakangnya pada ku" jawab Jongdae dengan raut wajahnya yang berubah setelah mendengar penolakan Chanyoel. "aa mengenai Hyo Rin, te..tenang saja hyung, Hyo Rin gadis baik-baik, kau harus percaya padaku" jawab Chanyoel dengan gugup. Chanyoel tahu kalau kaka nya itu sangatlah pemilih dalam urusan ini, bibit bebet dan bobot tidak pernah luput olehnya. Itulah yang membuatnya hingga kini belum pernah satu kalipun memperkenalkan gadis spesial untuk dirinya. "aku percaya padamu, ingat kau harus memilih pasangan yang sesuai denganmu, bibit bebet dan bobot itu sangat penting..semenjak Ayah meninggal aku lah yang bertanggungjawab atas hidupmu, aku tidak ingin kau salah memilih". Ya semenjak Ayah mereka meninggal dua tahun yang lalu Jongdae memang sangat protektif terhadap kehidupan Chanyoel.
Jongdae sangat mengerti bagaimana sifat adiknya, ia tahu Chanyoel sangat mencintai Hyo Rin tapi tetap saja dimatanya Hyo Rin bukanlah wanita yang pantas bersanding dengan Chanyoel. Jongdae bukanlah pria yang bodoh, tidak mungkin memaksa Chanyoel meninggalkan Hyo Rin tapi ia masih punya banyak cara untuk memisahkan mereka.
***
Esok adalah hari yang paling dinantikan Chanyoel. Ia dan Hyo Rin merencanakan untuk pergi berlibur bersama ke pantai untuk memperingati hari jadi mereka setelah satu tahun yang lalu Chanyoel menyatakan perasaannya di atas Namsan Tower. Pantai adalah tempat spesial bagi Hyo Rin, entah mengapa Hyo Rin akan merasa sangat tenang setiap kali melihat deburan ombak. Itulah alasan Chanyoel mengajak Hyo Rin berlibur ke pantai. Sejak malam Chanyoel tidak dapat tidur karena terlalu senang dan tidak sabar menunggu terbitnya matahari. Pagi hari nya Chanyoel segera bergegas mengendarai mobilnya untuk menjemput Hyo Rin di rumahnya. Tepat saat Chanyoel tiba di depan rumah, Hyo Rin keluar dari dalam rumahnya. Seperti biasa Hyo Rin selalu terlihat cantik di matanya. Kali ini Hyo Rin mengenakan sweater berwarna biru langit dipadukan dengan syal berwarna putih dan celana jeans panjangnya, gadis yang manis dan tangguh.
Sesampai di pantai Hyo Rin dan Chanyoel asik bermain dan berkejaran dengan ombak. Mereka selalu menkmati kebersamaan mereka terlebih lagi hari ini adalah hari spesial dalam hidup mereka. Setelah lelah bermain dengan ombak mereka pergi ke sebuah rumah makan di pinggiran pantai.
Ditengah asik menyantap makan siang
"noona!" Chanyoel mengibaskan tangannya didepan wajah Hyo Rin, "noona kau tidak memakan makanan mu?kenapa kau dari tadi hanya melihat ku?"
"eeh, aku hanya ingin memandang wajah mu dari dekat, bagaimana perasaan mu hari ini?setelah ini kita berkeliling pantai ini yah..kau kan belum menetapi janji mu untuk mengajak ku ke ujung pantai ini, kau ingat?" jawab Hyo Rin.
"baiklah noona, aku sangat senang sekali hari ini, kalau saja waktu bisa dihentikan aku berharap  waktu tetap seperti saat ini..aku ingin selalu bersama mu", Hyo Rin hanya terus memandang Chanyoel dengan tatapan sendunya. Hari ini Hyo Rin tampak sangat berbahagia, begitupun dengan Chanyoel. Namun ada yang aneh dari sikap Hyo Rin hari ini, beberapa kali Hyo Rin memandang Chanyoel dengan tatapan sendu tak seperti biasanya, tatapan yang penuh arti. Tatapan itu seperti tatapan orang yang akan pergi untuk waktu yang lama, seperti Hyo Rin sedang memuaskan dirinya karena tidak akan melihat orang yang dicintai nya lagi. Setelah selesai makan mereka melanjutkan berjalan-jalan mengelilingi pantai. Tanpa terasa hari mulai menjelang sore, matahari beranjak keperaduannya, tepat disaat mereka sampai di ujung pantai. Mereka kini duduk berdampingan di atas pasir putih pantai sembari melihat indahnya matahari meredup dan perlahan kembali ke peraduannya.
"Cukup sampai disini" Hyo Rin melepaskan genggaman tangan Chanyoel
"apa noona?"
"cukup sampai disini saja hubungan diantara kita, saatnya kita meneruskan jalan hidup kita masing-masing" ujar Hyo Rin tanpa menatap ke arah Chanyoel sedikitpun
"apa maksudmu noona?bukankah kau bilang ingin selalu bersama ku?" Chanyoel yg terkejut dengan ucapan Hyo Rin,"noona jawab aku!" Chanyoel membalikkan tubuh Hyo Rin dengan paksa hingga Hyo Rin dan Chanyoel kini saling bertatapan. Hyo Rin hanya dapat menundukkan kepalanya. "noona..ku mohon jawab aku" ujar Chanyoel dengan suaranya yg mulai terdengar parau.
Hyo Rin kini mengangkat kepalanya dan menatap Chanyoel lekat, "kita harus berakhir disini Chanyoel, aku sudah tidak lagi menyukai mu" Hyo Rin berusaha melepaskan genggaman tangan Chanyoel di lengannya. "jangan bercanda noona, ku mohon.."
"saat ini aku tidak sedang bercanda Chanyoel, dengarkan aku baik-baik..aku ingin kita putus"
"ada apa dengan mu noona?" ujar Chanyoel dengan suara yg mulai bergetar
"aku menyukai pria lain, pria yg lebih dewasa dari mu.."
"apa benar itu alasanmu?aku janji akan berubah, mulai sekarang aku akan mengenakan pakaian yg terlihat lebih dewasa, aku tidak akan bertindak seperti anak kecil lagi..aku janji" Chanyoel menggenggam tangan Hyo Rin
"suara itu, bahkan aku membenci semua itu, aku tidak suka cara mu memanggilku!" Hyo Rin mengucapkannya dengan tegas, namun terlihat Hyo Rin  menahan tangisnya setelah mengucapkan kata-kata itu. Ia memalingkan wajahnya dan berusaha melepaskan genggaman tangan Chanyoel namun tenaga Chanyoel terlalu kuat untuk dikalahkannya. "ku mohon noona..jangan seperti ini" Chanyoel mulai menangis, kini ia berlutut dihadapan Hyo Rin tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Hyo Rin. "sudah saatnya semua ini berakhir, kini aku harus bangun dari mimpi ku..sudah cukup bersenang-senang dengan mu, lepaskan aku Chanyoel" Hyo Rin akhirnya terlepas dari genggaman Chanyoel yang melemah karena ia tak kuat menahan tangisnya. Hyo Rin bergegas memalingkan tubuhnya dan beranjak pergi menjauh dari Chanyoel tanpa menoleh sedikitpun ke arah Chanyoel. Sedangkan Chanyoel hanya dapat terduduk merintih melihat punggung Hyo Rin yang semakin menjauh dari pandangannya.
***
Satu bulan setelah perpisahan itu, hari demi hari mereka lalui dengan rasa pedih di hati mereka masing-masing. Terutama Hyo Rin, perpisahan ini bukanlah hal yang diinginkannya. Hyo Rin kini hidup disebuah desa tempat kelahiran bibi Ma, disana ia hidup bersama anak-anak yatim piatu di sebuah panti asuhan. Bermain dengan anak-anak dapat menyembuhkan luka dihati Hyo Rin secara perlahan. Hyo Rin berjalan disebuah taman dekat panti asuhan, ini adalah tempat favorit Hyo Rin disaat kenangan masa lalunya bersama Chanyoel kembali membayangi pikirannya. Hyo Rin duduk disebuah bangku taman dan memejamkan matanya, saat ini ia sedang berusaha menenangkan pikiran dan hatinya. Setiap kali kenangan itu kembali Hyo Rin tak pernah bisa menahan tangisnya, ia sangat merasa bersalah.
FLASH BACK
Malam itu setelah selesai bekerja, saat keluar dari tempat kerjanya Hyo Rin bergegas pergi ke sebuah restoran. Di restoran tersebut Jongdae sudah menunggunya untuk makan malam bersama dan ada yang ingin dibicarakan Jongdae mengenai Chanyoel. Oleh karena itu ia menerima ajakan Jongdae untuk makan malam bersama. Sesampainya di restoran tersebut.
"langsung saja ke inti pembicaraan, aku ingin kau putus dengan Chanyoel"
"apa maksudmu?" Hyo Rin yang sangat terkejut dgan perkataan Jongdae
"kau tau siapa Chanyoel bukan?bagiku kau bukanlah gadis yang pantas untuk Chanyoel..jadi sekaranglah saatnya kau bangun dari mimpi mu, sebelum kau semakin mencintai nya dan justru akan lebih sulit untuk meninggalkannya"
Hyo Rin hanya terdiam membisu tak menyangka dengan apa yang diucapkan Jongdae barusan,
"aku..aku sangat mencintai Chanyoel, aku mencintainya karena ia adalah Chanyoel ku yang selalu menjadi semangat ku bukan Chanyoel dengan latar belakang keluarganya, aku tidak akan pernah meninggalkannya". Jongdae yang mendengar jawaban Hyo Rin menjadi kesal, "karena itulah kau tidak pernah pantas untuknya, lepaskan Chanyoel atau hidup mu akan menderita!" ujar Jongdae dengan nada sedikit tinggi. Hyo Rin hanya dapat diam, ia menahan tangisnya. "jika kau tinggalkan Chanyoel maka aku akan menjamin hidupmu, apapun yang kau butuhkan akan ku penuhi..tapi kalau tetap bertahan dengan Chanyoel, aku tidak segan-segan menyakiti mu, bahkan jika perlu aku memaksa Chanyoel untuk meninggalkan mu selamanya, bagaimanapun caranya akan ku lakukan!kau mengerti?"
Dengan berat hati akhirnya Hyo Rin menerima tawaran Jongdae. Ia berjanji akan meninggalkan Chanyoel, bukan karena ia tertarik dengan upah yang Jongdae tawarkan namun karena ia khawatir Jongdae akan menyakiti Chanyoel untuk memisahkan mereka.
FLASH BACK END
Itulah alasan Hyo Rin meninggalkan Chanyoel. Setelah ia mengucapkan perpisahan pada Chanyoel di pantai sore itu, ia tak kuat lagi menahan rasa sakit dihatinya. Sepanjang malam hingga esok harinya Hyo Rin hanya dapat menangis, akhirnya ia memutuskan untuk pergi jauh dari kota agar dapat segera melupakan setiap kenangannya bersama Chanyoel. Setelah satu bulan Hyo Rin menjauh namun ternyata sakit itu tak pernah hilang bahkan kini luka di hatinya semakin meradang. Kini luka itu semakin menyedihkan karena penyesalan Hyo Rin. Penyesalan karena Hyo Rin terlalu mudah menyerah akan cinta nya. Penyesalan yang akan terus membayangi hari-harinya dan selalu datang ditiap mimpi dalam tidurnya.
Hyo Rin sadar betapa Chanyoel sungguh berarti dalam hidupnya, 'happy virus' nya. Kini hanya kalung hati yang tersisa. Hanya benda ini yang mampu menghilangkan sedikit rasa sakit di hati Hyo Rin ketika rindunya terhadap Chanyoel meradang.
Dilain tempat Chanyoel yang selama hidupnya penuh dengan keceriaan kini berubah drastis. Setelah kejadian di pantai ia menjadi sangat pendiam, bahkan seminggu pertama Chanyoel tak pernah pergi kuliah, untuk makan saja ia tidak punya cukup tenaga. Ya Hyo Rin lah tenaga yang ia butuhkan saat ini. Chanyoel sangat terpukul, sakit ini akan terus bersarang di hatinya. Bukan sakit karena rasa patah hatinya namun sakit karena selalu merindukan Hyo Rin. Hyo Rin yang tak bisa lepas dari pikiran Chanyoel dan Chanyoel  yang selalu hadir dalam mimpi ditiap malam Hyo Rin.
END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar