GOODBYE SUMMER
Musim panas selalu menjadi salam perpisahan diantara kita.
“kita seperti kembali kemasa kita masih sekolah dulu. Kau
masih ingat sewaktu kita dihukum karena tidak mengerjakan tugas dulu?” tanya
Kyungsoo membuka percakapan diantara kami
“tentu aku masih mengingatnya” jawabku
Lima tahun yang lalu, sewaktu kita masih duduk dibangku SMA,
kita selalu bersama. Kita seperti sepasang kekasih bukan?atau lebih dari itu? pertanyaan
yang selalu teman-teman perempuanku dulu tanyakan padaku. Dimana ada aku disitu
ada Kyungsoo. Kita pergi sekolah bersama, belajar bersama, bermain bersama, dan
dihukum bersama. Aku masih ingat malam sebelum aku dan Kyungsoo dihukum. Saat
itu Kyungsoo datang ke rumahku membawa setumpuk video game yang baru saja dibelinya. Kyungsoo si maniak games itu adalah julukanku dulu untuknya.
“apa yang ingin kau lakukan malam-malam begini datang
kerumahku membawa tumpukan video games itu
Kyungsoo?”
“tentu untuk memainkan semua games ini bersamamu Jihyo”
“kalau ingin main games main saja dirumahmu. Mengapa harus
jauh-jauh kerumahku?”
“Ayah dan Ibu sedang ada di rumah. Mereka sangat berisik,
jadinya aku tidak bisa berkonsentrasi untuk memainkan semua games ini”
Kyungsoo selalu
melakukan hal yang membuatku terkejut. Aku tahu Kyungsoo sedang melarikan diri
malam itu. Tanpa Kyungsoo ceritakan aku sudah bisa membaca tingkahnya setiap
kali Kyungsoo sedang bermasalah. Malam itu kami habiskan waktu bersama dengan
memainkan semua games yang Kyungsoo bawa. Seperti biasa saat bersamanya aku selalu
merasa bahagia sampai melupakan hal lain didunia ini, termasuk tugas matematika yang harus
dikumpulkan esok hari. Bodohnya tak ada satupun dari kami yang sadar dengan
tugas itu. Kyungsoo dan aku tenggelam dalam kebahagiaan. Esok harinya saat guru
menyuruh semua anak mengumpulkan buku tugas aku baru sadar belum menyelesaikan
tugas itu. Akhirnya kami harus menjalani hukuman bersama.
Saat ini berjalan disebelahnya melewati lorong ini, lorong
kelas kita dulu, tanpa sadar aku tak bisa menyembunyikan senyumku. Seperti
mimpi yang menjadi nyata setelah 5 tahun lulus dari sekolah ini dan berpisah dengannya,
hari ini aku bisa kembali melihat wajah dan senyumnya. Lorong kelas ini menjadi
saksi kenakalan kami dulu. Apakah aku sudah gila?mengingat ketika kita dihukum
dulu mengapa begitu menyenangkan?
Kau adalah aku dan aku adalah kau. Kata-kata ini yang selalu
Kyungsoo katakan padaku setiap kali aku mendapat masalah.
“Jihyo pokoknya hari ini kau harus datang ke festival musim
panas sekolah. Aku akan tampil bernyanyi disana, oke?”
“ah..kau mengganggu acara liburku. Aku tidak mau datang”
“ayolah..kau harus datang!aku tidak mau tahu”
Awalnya aku memang tidak berniat untuk datang, seperti
memiliki indera keenam aku merasa akan terjadi hal buruk padaku jika aku datang
ke acara itu. Tapi telepon darinya membuatku goyah. Aku tahu Kyungsoo sudah
mempersiapkan lagu terbaik untuk dinyanyikan dalam acara itu. Aku juga tahu Kyungsoo
sudah berlatih keras untuk penampilannya hari itu. Dengan alasan persahabatan
akhirnya aku memutuskan untuk datang ke acara itu.
Festival musim semi yang selalu diadakan dilapangan sekolah.
Sebuah panggung yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya sudah berdiri
kokoh ditengah lapangan. Puluhan stand yang
memamerkan beragam kreasi murid-murid sudah berjejer mengitari lapangan. Suasana
sekolah menjadi sangat berbeda dengan beragam dekorasi yang sudah dibuat dari
seminggu sebelum acara ini terselenggara. Acara ini memang selalu ditung-tunggu
oleh seluruh murid terkecuali aku. Aku benci keramaian, mungkin itu yang
menjadi alasan mengapa aku tidak banyak memiliki teman diluar teman kelasku. Aku
memang sulit beradaptasi dengan lingkungan dan orang baru, terlebih lagi aku phobia keramaian. Berada ditengah
keramaian akan membuatku merasa pusing. Hari itu sesampainya disekolah, aku
segera mencarinya. Aku pergi kebelakang panggung berharap Kyungsoo ada disana.
Tepat. Dia dengan penampilannya saat itu yang membuatku sedikit terkejut.
Kyungsoo sedang bersiap-siap dibelakang panggung. Kyungsoo tampan dengan kemeja
biru langit itu.
“oh!kau sudah datang. Aku akan tampil 15 menit lagi. Sebelum
aku tampil kau bisa duduk disini, aku tahu kau pusing melihat orang berlalu
lalang diluarkan?” memang hanya Kyungsoo yang tahu phobiaku ini.
“ah tidak perlu. aku kesini karena ingin menyemangatimu.
Setelah ini aku akan keluar, aku ingin berkeliling melihat stand”
“apa kau yakin tidak apa-apa berjalan tanpa aku?” pertanyaan
konyol yang selalu kau tanyakan padaku.
“yak!aku ini bukan anak kecil yang bisa hilang kalau tidak
ada orang yang mendampinginya. Lagipula inikan sekolahku juga, kenapa aku harus
khawatir”
“hahaha baiklah, jaga dirimu baik-baik”
Aku pikir masih ada waktu sebelum Kyungsoo tampil jadi aku
bisa berkeliling melihat-lihat stand.Lagipula
ini adalah kali pertamaku datang ke festival musim semi sekolah semenjak aku
bersekolah disini jadi aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku. Selama aku
mengobrol dengan Kyungsoo dibelakang panggung tadi ternyata ada segerombolan
senior yang memperhatikanku. Ya mereka itu penggemar Kyungsoo. Aku baru tahu
kalau Kyungsoo memiliki cukup banyak penggemar setelah kejadian difestival itu.
Aku tahu kalau Kyungsoo memang terkenal memiliki suara yang bagus. Kyungsoo
sering mengisi acara-acara sekolah. Tapi aku tidak pernah menyangka sebegitu
terkenalnya dia terutama dikalangan senior. Saat asik mengitari stand gerombolan senior itu
menghampiriku. Aku mengabaikan mereka karena merasa tidak memiliki urusan
dengan mereka. Salah satu senior menarik tanganku kala itu untuk menjauh dari
keramaian stand. Jujur aku mulai
takut saat itu.
“jadi ini gadis yang selalu bersama dengan Kyungsoo?apa
hubunganmu dengan Kyungsoo?pacarnya?” senior yang lain mulai menginterogasiku
“aku hanya teman sekelasnya. Aku bukan pacarnya”
“kalau kau bukan pacarnya mulai sekarang berhenti mendekati
Kyungsoo” senior itu berteriak tepat didepan wajahku
Aku sangat kesal saat itu. “mengapa aku harus
menjauhinya?memang kalian siapa?”
Sepertinya kata-kataku sudah membuat mereka semakin marah
padaku. Tapi hatiku juga sangat kesal dibuat mereka saat itu. Alhasil
terjadilah pertengkaran saling jambak dan berteriak diantara kami.
“yak!kalian kalau berani jangan keroyokan!sini hadapi aku satu
persatu!” teriakku saat itu melihat mereka yang secara bersamaan menyerangku.
Teriakan kami ternyata mengalihkan perhatian murid-murid
lain yang hadir dalam festival itu, termasuk Kyungsoo yang saat itu sedang
tampil diatas panggung. Tak lama sudah banyak murid yang menggerumuni kami.
Seorang murid laki-laki yang merupakan teman sekelasku melerai pertengkaran
kami. Aku bisa melihat Kyungsoo dari kejauhan berlari menghampiriku. Wajahnya
antara kesal dan khawatir saat itu. Kyungsoo lalu menarik tanganku dan
membawaku menjauh dari keramaian itu. Kyungsoo membawaku pulang. Sepanjang
perjalanan pulang tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya ataupun dari
mulutku. Aku terlalu takut untuk memulai pembicaraan. Aku takut Kyungsoo marah
padaku karena telah membuat keributan dalam acara itu. Benar saja, Kyungsoo
marah padaku. Setelah turun dari bis, telingaku habis-habisan dibuatnya pengang
oleh ocehannya.
“kau ini apa-apaan sih!kenapa berkelahi dengan senior-senior
itu?seperti anak kecil saja”
“mengapa kau menyalahkan semua pertengkaran tadi padaku?coba
kau tanyakan saja pada penggemar-penggemarmu itu” aku masih sangat kesal saat
itu ditambah Kyungsoo yang ikut memarahiku membuatku tidak bisa mengendalikan
emosiku. Aku menangis sejadi-jadinya didepan Kyungsoo saat itu. Ini pertama
kalinya Kyungsoo memarahiku seperti ini.
“sejak awal aku sudah bilang aku tidak ingin datang, tapi
karena ingin melihat penampilanmu aku memutuskan untuk datang. Kalau tahu
seperti ini aku tidak akan pernah datang ke acara itu.” aku bergegas pergi meninggalkan
halte itu sebelum lebih sulit lagi mengendalikan air mataku saat itu. Satu yang
tidak kau tahu hingga kini, sesaat itu juga aku menyesal karena mengatakan
semua itu padamu.
Setelah kejadian itu Kyungsoo tidak menghubungiku. Aku juga
tidak menghubunginya, karena aku merasa gengsi untuk menghubunginya lebih dulu.
Rasa gengsi itu juga yang membuatku mengacuhkannya disekolah setiap Kyungsoo
mencoba menyapaku. Aku rasa untuk beberapa saat menghindarinya adalah jalan
yang tepat tapi ternyata hanya tiga hari tidak mendengar kabarnya dan bermain
bersamanya sudah membuatku kesepian. Aku memberanikan diri untuk menghubunginya.
Semalaman suntuk aku menghubungi telepon genggamnya, tapi tidak ada jawaban
sedikitpun. Beribu pikiran mulai berkecamuk dalam otakku.
“apakah kemarin aku sangat berlebihan padamu?apa kau sangat
marah padaku?”
Esok harinya disekolah aku juga tidak melihatnya dikelas. Kyungsoo
membolos sekolah. Aku tahu itu setelah aku datang kerumahnya sepulang sekolah.
Ibu Kyungsoo yang membukakan pintu untukku waktu itu. Ibu bilang kalau kyungsoo
belum pulang sekolah. Pasti kali ini Kyungsoo juga sedang melarikan diri. Aku terus
mencarinya kesemua tempat yang sering kami datangi disaat bosan tapi aku tidak
juga menemukannya. Hari sudah menjelang sore ketika aku mulai menyerah mencarinya.
Aku juga harus kembali ke sekolah sebelum pulang karena aku meninggalkan
sepedaku hari itu. Sesampainya disekolah aku ingat satu tempat rahasia kami
yang belum aku datangi. Tempat yang selalu aku dan Kyungsoo tuju setiap kali
membolos pelajaran bahasa. Rooftop sekolah.
Aku segera berlari menaiki semua anak tangga disekolah. Benar saja, Kyungsoo
ada disana. Kyungsoo dengan seragam sekolahnya sedang tertidur pada sebuah bangku
panjang saat itu. Aku menghampirinya sekedar ingin melihat keadaannya.
“sepertinya kau sangat lelah” ucapku saat itu melihatnya
yang tertidur sangat lelap.
Saat aku beranjak pergi Kyungsoo justru terbangun dari tidurnya.
Saat itu Kyungsoo menarik tanganku untuk duduk kembali dan tidak meninggalkannya. Kami untuk waktu yang
cukup lama hanya diam sampai akhirnya aku berani membuka percakapan.
“maafkan aku”
“untuk apa?” jawabnya tanpa menoleh kearahku sedikitpun.
sepertinya Kyungsoo masih marah padaku.
“karena bertengkar hari itu. Maafkan aku juga yang
membentakmu hari itu dihalte”
Kyungsoo menoleh kearahku namun tak ada satu katapun keluar
dari mulutnya. Kyungsoo hanya diam menatapku. Jujur saja aku gugup saat itu
karena tatapannya.
“yak!kenapa hari ini kau bolos sekolah?” aku menjitak kepalanya
kala itu untuk menghentikan tatapannya padaku.
“aw..sakit tahu. Belum juga aku maafkan kesalahanmu kemarin
sekarang kau malah menjitakku. Aku tidak akan memaafkanmu”
“habis kau membuatku khawatir. Semalaman aku menghubungimu
tapi kau juga tidak mengangkatnya, lalu pagi ini aku tidak melihatmu dikelas”
Lagi-lagi Kyungsoo tidak menjawabku. Kyungsoo hanya diam dan menundukkan kepalanya.
“apa sesuatu terjadi padamu?”
Tak ada jawaban darinya. Tak lama air mata itu jatuh. Kyungsoo
menangis. Aku semakin khawatir saat itu. Aku tahu ini pasti karena kedua orang
tuanya. Kyungsoo memang pandai berakting. Dia adalah murid terbaik diklub drama
tapi dia tidak pernah bisa berakting dihadapanku. Aku tahu persis saat itu dia
sedang mengahadapi masalah. Ayah dan Ibu Kyungsoo sudah memutuskan untuk
bercerai. Hubungan mereka memang sudah lama tidak harmonis. Mereka sering
bertengkar dirumah bahkan ketika Kyungsoo sedang ada dirumah. Pertengkaran
mereka yang membuat Kyungsoo tidak betah dirumah dan selalu datang kerumahku
seperti malam itu.
Aku memberikan sapu tanganku untuk menghapus air matanya
kala itu. Sore itu untuk pertama kalinya aku melihat Kyungsoo menangis. ‘Semua
yang kau hadapi memang sangat berat Kyungsoo’.
“kau adalah aku dan aku adalah kau. Ceritakan semua
masalahmu padaku, biar aku hapuskan semua kesedihanmu Kyungsoo. Aku ini jin
cantikmu dari lampu ajaib” goda ku saat itu mencoba menghiburnya.
Sebesar apapun usahaku memahaminya saat itu aku tahu tetap
saja sakit yang aku rasakan tidak sesakit yang dia rasakan. Aku hanya bisa
menemani Kyungsoo saat itu hingga dia merasa baikan.
***
“bagaimana kabarmu?” Kyungsoo menanyakan kabarku. Bukankah
seharusnya hal ini yang ditanyakannya padaku sejak pertama kami berjumpa pagi
ini, mengapa baru sekarang?ah tak apalah setidaknya dengan begitu aku memiliki
alasan untuk mengetahui kabarnya. Hingga hari ini setelah 5 tahun berpisah
dengan Kyungsoo aku masih sama seperti dulu. Aku masih sangat gengsi menanyakan
kabarnya. Apalagi kami sudah sangat lama tidak bertemu, rasanya sangat sulit
memulai percakapan dengannya walau sebenarnya aku sangat merindukannya.
“hei!bagaimana kabarmu Jihyo?”
“ah iya, kabarku baik bahkan sangat baik. Bagaiman
denganmu?”
“kabarku juga baik. Sepertinya kau sudah berubah sekarang”
“maksudmu?”
“kau lebih banyak melamun. Tidak seperti Jihyo yang aku
kenal dulu. Kau terlihat kaku dan canggung sekarang. Apa kau tidak senang
bertemu denganku?”
Aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku hari ini. Kalau
saja aku bisa mengatakan padanya aku sangat menantikan pertemuan hari ini sejak
seminggu yang lalu. Bahkan semalam aku tidak bisa tidur hanya karena memikirkan
apa yang harus aku tanyakan atau lakukan saat bertemu dengannya. Tapi ya
seperti aku bilang, aku masih sama seperti aku yang dulu. Gadis dengan tingkat
gengsi sangat tinggi. Gengsi itu juga yang membuatku menyesal dulu. Seminggu
sebelum acara kelulusan kami dulu, Kyungsoo mengatakan padaku bahwa setelah
lulus dia akan melajutkan sekolahnya di Amerika. Berita itu sungguh membuatku
sedih. Saat itu aku tidak mengerti alasan mengapa aku harus bersedih mendengar Kyungsoo
akan pergi. Aku pikir mungkin karena aku akan kehilangan sahabat terbaikku atau
karena tidak bisa lagi menghabiskan waktu untuk bermain bersamanya. Seminggu terakhir
itu kami habiskan dengan penuh suka cita. Aku selalu pulang telat kerumah untuk
seminggu itu. Ini memang konyol tapi kami membuat perjanjian untuk menghabiskan
sisa waktu kebersamaan kami selama seminggu ini untuk pergi kesemua tempat yang
kami suka mulai dari taman bermain, kebun binatang, museum benda bersejarah
kesukaanku, sampai menonton drama musikal favoritnya. Semakin mendekati hari
kelulusan, mengapa perasaan sedihku semakin besar. Hari-hari yang telah aku
habiskan bersamamu tidak cukup menyembuhkan rasa sedih itu. Semua kenanganku
bersama Kyungsoo justru semakin membuatku tak rela untuk berpisah dengannya. Satu
hari sebelum kelulusan, hari terkahirku bisa bermain dengan Kyungsoo. Aku baru
sadar dengan perasaan itu. Alasan mengapa aku merasa begitu sedih harus
berpisah dengannya. Setelah melihat senyumnya hari itu, aku sadar bahwa aku
jatuh cinta padanya. Tapi aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan ini
padanya. Bahkan aku sendiri belum yakin sepenuhnya saat itu. Dihari itu aku dan
Kyungsoo menghabiskan waktu bermain dirooftop
sekolah. Seharian itu aku kumpulkan kekuatanku untuk mengalahkan rasa
gengsiku. Aku mengumpulkan keberanianku untuk menjelaskan semua perasaanku
padanya, tapi aku tetap tidak bisa mengatakannya. Akhirnya aku hanya bisa
menangis setelah Kyungsoo benar-benar pergi. Seharusnya aku ungkapkan semua
itu, memintamu untuk tidak pergi meninggalkanku.
Tepat dimusim semi 5 tahun yang lalu kita berpisah dan
kembali bertemu dimusim semi tahun ini. Seperti lagu terakhir yang Kyungsoo
nyanyikan diacara perpisahan dulu “perasaan ini sungguh berharga”. Saat ini aku
dan Kyungsoo sedang berada di rooftop sekolah.
Kyungsoo terlihat sedang menikmati semua hal dari rooftop ini yang masih sama seperti dulu. Aku juga menikmatinya,
suasana rooftop sekolah dengan semua
kenangan kami dulu.
“apa kau masih ingat Jihyo?”
“ingat tentang apa?”
“satu hari sebelum
kelulusan kita dulu”
“oh itu, tentu aku masih mengingatnya. Kita habiskan
seharian itu disini bukan?”
“ya. Pohon sakura dibelakang sekolah. Apa kau masih
mengingatnya juga?”
Satu kenangan lagi yang tidak akan pernah aku lupakan. Pohon
sakura dibelakang sekolah. Hari itu, saat kelulusan, aku melarikan diri
dipertengahan penampilan Kyungsoo yang terakhir. Aku melarikan diri karena aku
tidak kuat menahan bulir air mataku yang menetes begitu saja mendengar Kyungsoo
bernyanyi kala itu. Dibalik pohon sakura itu aku menangis sejadinya. Tidak
berapa lama mungkin setelah Kyungsoo selesai dengan penampilannya, dia
menghampiriku. Aku kira ini adalah tempat persembunyian terbaikku yang tidak
akan ditemukan olehnya, namun benar katanya ‘kau adalah aku dan aku adalah
kau’. Kyungsoo tahu segala hal tentangku. Kyungsoo yang melihatku menangis
terlihat begitu khawatir dan seperti seorang lelaki dewasa Kyungsoo menggenggam
tanganku kuat sedangkan aku yang melihatnya menemukanku justru semakin sulit
menghentikan air mataku kala itu. Semua terasa menyedihkan karena aku tidak
bisa menjelaskan perasaanku yang sebenarnya. Akhirnya hanya ada salam perpisahan
diantara aku dan Kyungsoo kala itu.
“hari itu seharusnya aku mengatakan hal penting yang telah
lama aku pendam padamu Jihyo, tapi melihatmu menangis justru membuatku semakin
sulit mengatakan itu”
Kyungsoo diam sejenak dan kini dia menatapaku dalam.
“setelah salam perpisahan kita di pohon itu aku menyesal.
Kalaupun aku katakan sekarang sepertinya semua sudah sangat terlambat.
Seharusnya aku mengatakan perasaanku padamu saat itu, perasaanku kalau aku
menyukaimu. Karena ketidakberanianku, semua itu kini menjadi kenangan yang
menyakitkan”
Kyungsoo mengapa semua ini baru kau katakan sekarang?mengapa
diantara kita tidak ada yang memiliki cukup keberanian mengatakan perasaan kita
sebenarnya kala itu?
Kini aku merasa kau sangat benar ‘kau adalah aku dan aku
adalah kau’. Kini semua sudah terlambat Kyungsoo karena aku sudah bersama yang
lain. Lusa adalah hari pertunanganku dengan Baekhyun. Sejak kau pergi cerita
kitapun berakhir ketika semua belum dimulai. Kini foto-foto kebersamaan kita
dulu yang tidak bisa menjelaskan status kita menjadi tumpukan cerita memilukan,
karena kata-kata yang tidak bisa kita ungkapkan.
“maafkan aku Jihyo. Sekali lagi dimusim panas aku harus
mengatakan selamat tinggal padamu. Semoga hidupmu bahagia”
“selamat tinggal Kyungsoo. Semoga kau juga bahagia”
Kyungsoo memelukku untuk yang terakhir kalinya. Esok dia
harus kembali ke Amerika karena masa
liburannya sudah berakhir dan aku juga harus kembali menjalani kehidupanku. Aku
harus mengubur kembali semua kenanganku bersama Kyungsoo. Sudah cukup sehari
ini mengenang semua itu bersamanya. Kini aku sudah siap memulai kehidupan
baruku bersama Baekhyun. Musim panas selalu menjadi saksi perpisahanku dengan
Kyungsoo.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar